Wali Kota Malang Sutiaji saat menemui awak media. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Wali Kota Malang Sutiaji saat menemui awak media. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Bentrokan yang terjadi di kampus Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama) disayangkan banyak pihak. Salah satunya oleh Wali Kota Malang Sutiaji. Kerusuhan tersebut disebut merusak citra kondusif yang selama ini tersemat di Kota Pendidikan ini. 

Sutiaji mengimbau, agar semua pihak yang bersengketa bisa duduk bersama untuk mencari penyelesaian damai. "Untuk apa sih (sampai ada bentrokan), (sebaiknya) duduk bersama, jangan sampai ada yang menjadi korban," tegasnya saat ditemui di gedung DPRD Kota Malang. 

Dia juga menguraikan banyak yang akan menjadi korban atas kepentingan segelintir orang itu. Pertama, yakni mengganggu masyarakat yang tinggal di sekitar kampus. "Masyarakat di sekitar situ pasti terganggu lah. Apalagi kalau sudah terjadi chaos," sebut pria penghobi bulutangkis itu.

Korban kedua, yang lebih besar, menurutnya adalah nama baik Kota Malang. "Kedua, mengganggu Malang. Harusnya mereka bisa ikut menjaga situasi kondusif secara makro. (Takutnya ada anggapan) jangan kuliah di Malang, di Malang ribut," sesalnya. 

Menurut Sutiaji, anggapan itu bisa saja muncul karena kabar perseteruan berujung bentrokan itu telah disebarkan media masa. Baik media berskala lokal maupun nansional yang bisa dibaca dari berbagai penjuru Indonesia. "Karena melalui media mainstream, sudah dibaca seluruh Indonesia," terangnya.

Dia juga meminta ketegasan untuk dan juga fasilitasi penyelesaian konflik Unikama oleh Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis). "Kami minta ketegasan pembina perguruan tinggi, Kopertis. Katakan yang tidak boleh, mana yang boleh, harus ditegaskan," pungkasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, hari ini (15/10/2018) kampus Unikama kembali memanas. Puluhan masa sempat diamankan polisi karena terlibat adu fisik hingga menimbulkan korban luka-luka. Belum ada kepastian pihak yang berntrok apakah dari unsur mahasiswa maupun oknum tak bertanggung jawab.

Kejadian tersebut merupakan akibat dari konflik yang terjadi antara Perkumpulan Pembina Lembaga Pendidikan Perguruan Tinggi Persatuan Guru Republik Indonesia (PPLP PT PGRI) kkubu Christea Frisdiantara dan kubu Soedja'i.