Tangkapan layar buku digital Indonesian's Historical Earthquakes yang diterbitkan Australian Government melalui Geoscience Australia. (Foto: Dokumen MalangTIMES)
Tangkapan layar buku digital Indonesian's Historical Earthquakes yang diterbitkan Australian Government melalui Geoscience Australia. (Foto: Dokumen MalangTIMES)

MALANGTIMES - Gempa yang terjadi di Lombok, Palu hingga Situbondo patut membuat semua warga waspada, termasuk di Malang Raya. Terlebih, sejarah mencatat beberapa gempa besar pernah terjadi hingga meluluhlantakkan bangunan. 

MalangTIMES menelusuri sejarah dan beberapa penelitian soal bencana kegempaan yang perah terjadi di Malang. Salah satunya dalam Indonesian's Historical Earthquakes yang diterbitkan Australian Government melalui Geoscience Australia. Mereka menggunakan catatan ahli-ahli geologi yang telah diterbitkan sebagai bukti penguat. 

Ada dua gempa besar yang tercatat di sumber-sumber lama. Pertama, dalam buku yang ditulis oleh L Van Laar pada 1867 berjudul Beknopte Beschrijving Van De Aardbeving; Die Het Eiland Java In Den Ochtend Van Den 10 Den Junij 1867 Heeft Geteisterd. Kejadian tersebut berskala 7 MMI dengan keterangan stone building suffered heavy damage atau bangunan batu mengalami kerusakan berat.

Gempa dengan skala 4 MMI juga terjadi pada 22 November 1818 dengan keterangan a weak shock was felt atau kejutan yang dirasakan lemah. Catatan itu berasal dari buku Die Erdbeden Indischen Archipels Von 1858 Bis 1877 yang ditulis A Wichmann pada 1922 silam. 

Lalu bagaimana potensi gempa hasil penelitian hingga berdasarkan peta potensi bencana yang dimiliki pemerintah saat ini? Ikuti kelanjutannya dalam laporan khusus MalangTIMES.