Bursa Inovasi Desa, dari Kabupaten Malang untuk Indonesia (2)

Sulap Sampah Jadi Cosplay Unik, Tak Kalah dengan Hasil Pabrikan Luar Negeri

Cosplay kreasi Karangtaruna Wonomulyo,  Poncokusumo yang tergabung dalam cosplay Arkipas (Arkipas for MalangTIMES)
Cosplay kreasi Karangtaruna Wonomulyo, Poncokusumo yang tergabung dalam cosplay Arkipas (Arkipas for MalangTIMES)

MALANGTIMES - Costum Player atau dikenal Cosplay telah menjadi bagian dari riuhnya dunia kreativitas di berbagai negara.

Tidak terkecuali di Indonesia yang dikenal sebagai gudangnya event cosplay. Bukan hanya di kota besar saja, tapi juga telah menyebar di berbagai daerah, seperti Kabupaten Malang. 

Di Kabupaten Malang, cosplay telah menjadi bagian tak terpisahkan dari berbagai acara tahunan. Baik di tingkat desa sampai kabupaten.

Beragam kreativitas hadir menciptakan cosplay yang tentu bertumpu pada karakter asli Malangan. Bermunculan dengan segala keindahan yang mengundang decak kagum siapapun yang melihatnya.

Salah satunya adalah sentra cosplay Malangan di Desa Wonomulyo, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang.

Melalui tangan-tangan kreatif para pemuda yang tergabung dalam lembaga Karangtaruna Desa, beragam cosplay unik lahir.

Keunikannya bukan hanya pada bentuk cosplay saja, tapi juga bahan yang dipakai.

“Kita pakai bahan dari limbah sampah untuk membuat cosplay. Ternyata bisa dan sangat membantu dari sisi pembiayaan pembuatan cosplay. Selain berkreativitas kita secara tidak langsung ikut serta dalam pelestarian lingkungan hidup sebagai program Kabupaten Malang,” kata Hadi Sutikno Koordinator Cosplay Arkipas (Arek Kidul Pasar) Desa Wonomulyo, Poncokusumo, Minggu (14/10/2018) kepada MalangTIMES.

Kreativitas Karangtaruna Wonomulyo yang tergabung dalam Cosplay Arkipas inilah yang kemudian diangkat sebagai salah satu inovasi unggulan dalam Bursa Inovasi Desa (BID) Kabupaten Malang 2018.

Selain sisi seni dan pelestarian lingkungan hidup, para pemuda desa Wonomulyo ini juga mampu memberikan nilai ekonomi dalam proses kreatifitasnya tersebut.

Hadi menceritakan, awalnya pembuatan cosplay dari bahan-bahan seperti pada umumnya. Tapi dirinya bersama beberapa rekan di Arkipas, melihat persoalan sampah yang akan menjadi ancaman lingkungan hidup di pasar Poncokusumo.

Apalagi Poncokusumo merupakan wilayah wisata unggulan Kabupaten Malang. Tentu akan mengganggu apabila persoalan sampah dibiarkan begitu saja atau hanya diperlakukan biasanya di masyarakat.

Arkipas Wonomulyo, Poncokusumo,  gabungan pemuda Karangtaruna yang berinovasi mendaur ulang limbah sampah menjadi cosplay (Arkipas for MalangTIMES)

“Maka pada tahun 2015, kita mulai memanfaatkan limbah sampah untuk bahan cosplay. Ternyata hasilnya bagus dan banyak yang mengapresiasi. Bahkan cosplay kita kerap di sewa desa-desa tetangga yang membutuhkannya untuk kegiatan,” ujar Hadi yang awalnya membuat cosplay hanya untuk satu kali pakai saja.

Cosplay daur ulang sampah Arkipas juga sempat membuat Pemerintah Kabupaten di Papua terpesona. Serta memesannya kepada para pemuda kreatif dari Desa Wonomulyo di tahun 2016 lalu. 

Berbagai keunggulan para pemuda Karangtaruna Wonomulyo yang tergabung dalam cosplay Arkipas, inilah yang kini diangkat lebih luas keberadaannya oleh TPID Kecamatan Poncokusumo.

Melalui BID 2018 yang akan digelar Senin (15/10/2018) besok di dome UMM. Dengan harapan yang sama, bahwa seluruh inovasi desa yang ada bisa lebih tersiar luas dan jadi ruang pembelajaran bagi siapapun.

“Harapan kami cosplay Arkipas  lebih dikenal masyarakat luas. Bermanfaat bagi masyarakat dan tentunya menjadi kebanggaan dan ikon di Kabupaten Malang,” harap Hadi.

Dikesempatan berbeda, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) Kabupaten Malang Suwadji menyatakan, pihaknya tentunya sangat apresiatif dengan berbagai inovasi di berbagai desa.

“Harapan kita sama, bahwa dengan berbagai inovasi di BID akan semakin terbuka pembelajaran kreatif. Ujungnya adalah adanya peningkatan kesejahteraan melalui berbagai inovasi kreatif masyarakat desa. Tentunya, yang perlu tetap dikawal adalah pasca bursa. Bagaimana inovasi tersebut bisa direplikasi dan masuk dalam perencanaan desa,” ujarnya.

Pengawalan pasca bursa menjadi penting dalam kaitannya dengan replikasi inovasi di desa lainnya. “Ini agar inovasi yang direplikasi bisa diterapkan di desa-desa melalui pendanaan desa. Sinergitas antara masyarakat dan pemerintah desa menjadi wajib. Sehingga inovasi bisa dipraktekkan dan dirasakan manfaatnya,” pungkas Suwadji.

Editor : Yunan Helmy
Publisher : Raafi Prapandha

Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top