KITAB INGATAN 28

Ilustrasi puisi (Istimewa)
Ilustrasi puisi (Istimewa)

MALANGTIMES - *dd nana

(1)

Akhirnya, kutemukan wajahku yang dungu di kulit telanjang pualammu. Begitu lapar begitu dahaga. Seperti tak ada esok hari. 

Cinta terlalu perkasa memerkosa raga yang karat dipanggang waktu. Dan pertemuan serupa titik yang kita pecahkan di wajah yang bersimbah luka. 

Di wajahku yang dungu, cinta mengerang. 

Di wajahmu rindu mengejang, meminta segala tak dituliskan. Tak diterjemahkan dalam hitungan-hitungan. 

Biarkan saja wajah dungumu menetap di kulitku. Begitu pintamu yang meminjam ringik hujan sore. 

Karena cinta memang selalu saja bodoh untuk hidup dalam kenyataan. 

Wajahku yang dungu akhirnya aku temukan dalam rindu yang mengejang. Di tubuh pualammu yang entah kau sajikan begitu riang. 

Bukankah nyeri hanya untuk mereka yang menginginkan, tuan? 

Kutemukan wajah dungu ku sendiri. Setiap kali aku mencintai segala yang otak katakan terlarang. 

(2)

Kita begitu riang melipat waktu

Menjadikannya pesawat kertas dengan uap mulutmu di ujungnya. Lantas kita terbangkan di jendela lantai tiga. 

Angin musim kemarau menyambutnya dengan lumatan birahi. Merengkuhnya begitu dalam sampai mata kita tak lagi melihat bentuknya. 

Hanya udara beraroma persetubuhan yang kita hidu. Sebelum tubuh kita menjadi satu dan membunuh waktu. 

"Lantas kapan kita kembali bertemu,  sayang. Melipat waktu menyaksikan udara berbau cinta. Berbau raga kita yang menyatu. Dan menjadi waktu itu sendiri, ". 

Aku pun menghitung kalender yang tergantung. Serupa pecinta yang dikalahkan oleh ikrar. Waktu tertawa begitu bahagia. 

(3)

Setelah kita lupa mengenai bau mulut kita yang bersatu. Atau kemilau keringat yang menyatu. Kita menjadi manusia. 

Memusuhi setan mengakrabi segala yang dirasa pengetahuan. Cahaya yang akan mengantar kita pulang. 

Tapi,  aku percaya pada kaki rindu yang limbung. Sebagai kompas jalan pulangku menujumu. Yang kini mungkin lupa aroma tubuh yang menyatu di setiap ringik waktu. 

"Aku tetap menujumu walau dengan gontai dan luka yang membiru,". 

(4)

Seorang perempuan merebus cinta

Sepagi ini. Aromanya menguar di rinduku yang lelah mencarimu. Perempuan bening yang membuatku bisa bercermin diluka hari. 

Aku pun terbangun, mendekatimu. Dengan mata bolong yang sama dengan perempuan yang merebus cinta,  sepagi ini. Saling bersitatap. 

Di luar, angin bertiup tanpa mengabarkan apapun

Selain rasa gigil dan nyeri di mata kami yang kosong ditinggal cahaya. 

 


Redaksi: redaksijatimtimes[at]gmail.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : redaksijatimtimes[at]gmail.com | redaksijatimtimes[at]gmail.com
Top