Potret Sejarah Seorang Tokoh Militer Indonesia, Dilatih Inggris Namun Berakhir di Jeruji Besi Selama 14 Tahun

Pasukan KNIL yang terpropaganda dan akhirnya melakukan pemberontakan (Ist)
Pasukan KNIL yang terpropaganda dan akhirnya melakukan pemberontakan (Ist)

MALANGTIMES - Tokoh militer Indonesia kelahiran Simpangbinangal, Barru,  Sulawesi Selatan (1924),  ini kenyang dengan berbagai pelatihan dan pertempuran.

Bahkan, di perang dunia ke II,  dirinya terlibat dalam tim pasukan bawah tanah melawan tentara pendudukan Jerman (Nazi). 

Andi Abdul Azis namanya. Lelaki keturunan Bugis dengan skill tempur mumpuni ini pernah juga digembleng oleh pasukan Inggris.

Setelah dirinya dipindahkan dari garis depan dalam pertempuran dengan Nazi untuk Belanda. 

Kondisi tidak menguntungkan, Andi Azis dengan kelompoknya akhirnya menyebrang ke Inggris.

Di sinilah karir militer Andi Azis dimulai dalam pasukan komando. Lulus dengan pujian sebagai prajurit komando,  Andi Azis terus merangkak naik karirnya setelah mengikuti berbagai pendidikan calon bintara di Inggris.

Sampai terjun dalam berbagai pertempuran misalnya di India tahun 1945, melawan Jepang. 

Tidak hanya di India,  Andi Azis juga bertempur dengan membawa bendara negara Inggris di Colombo dan Calcutta. Sampai dirinya mendapat pangkat Sersan.

Petualangannya bertempur untuk negara lain berakhir di tahun 1946. Dirinya beserta satuannya akhirnya kembali ke Indonesia,  setelah Jepang takluk tanpa syarat. 

Kemampuan tempurnya yang terbilang lama di perang dunia ke-II. Membuat dirinya tetap aktif di dunia militer.

Tercatat,  di tahun 1947 dia dipanggil masuk KNIL setelah mengakhiri dinas miliernya di Cilincing dengan pangkat Letnan Dua.

Akhir tahun 1949, Indonesia setelah perjanjian Konferensi Meja Bundar (KMB) berubah menjadi negara federasi dan bernama RIS (Republik Indonesia Serikat).

RIS pun membentuk Angkatan Perang RIS (APRIS) yang merupakan gabungan TNI  dan KNIL. Di fase inilah Andi Azis tersandung di dunia militer. Dengan melakukan pemberontakan melawan TNI saat RIS  dibubarkan dan Indonesia kembali menjadi negera kesatuan.

Sehingga APRIS berganti nama menjadi Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI), 17 Agustus 1950.

Pemberontakan APRIS didasarkan berbagai macam propaganda serta beberapa faktor lainnya. Tak terkecuali dengan Andi Azis dan pasukannya.

Dari catatan harian Kedaulatan Rakyat (5/4/1950) dan Agoes Anwar dalam Soumokil dan Hantjurnja RMS (1964), dituliskan : "Kepada mereka dikatakan bersama Belanda mereka harus memerdekakan tanah air daripada tindasan Jepang, harus mengusir Sukarno-Hatta yang bersama Jepang telah membawa Indonesia masuk dalam kesengsaraan. Ingatlah nyanyian yang klimaksnya: Hancurkanlah musuh kita, itulah Sukarno-Hatta." 

Dari Laporan Djawatan Kepolisian Negara (bagian PAM) kepada Presiden perihal: Aksi Westerling (21/02/1950), muncul juga isu di kalangan mereka bahwa bekas KNIL yang masuk TNI akan disudutkan dan dicari-cari kesalahannya. 

Suasana semakin keruh saat pasukan TNI dari Jawa turun ke Makasar. "Buat apa didatangkan pasukan APRIS dari Jawa, toh pasukan eks-KNIL di Makassar-pun telah pasukan APRIS dan sanggup mengamankan NIT,” kata Andi Azis, seperti dicatat Sejarah TNI AD (1945-1973) Jilid 2 Peranan TNI AD Menegakan Negara Kesatuan RI (1979). 

Penolakan Andi Azis yang pernah menjadi ajudan senior Presiden NIT ini pun ditindaklanjuti dengan aksi yang membuat pemerintah pusat di Jakarta semakin berang.

Andi Azis dan pasukannya yang secara kemampuan tempur memang terlatih dan di atas standar pasukan TNI, melakukan penyerangan di perumahan perwira TNI di staf kwartier dan asrama CPM di Verlegde Klapperlaan, 5 April 1950.

Alibi mereka adalah: menolak Batalyon Worang; pasukan pertama TNI yang masuk ke wilayah bekas NIT.

Komandan pasukan tersebut adalah Mayor Hein Victor Worang,  karenanya disebut batalyon Worang. 

Pasukan Andi Azis itu pun disiagakan ke posisi-posisi strategis dan siap tembak dengan senapan mesin. Moncong-moncong senapan di arahkan ke kapal pengangkut TNI dari Jawa yang akan mendarat. 

Pesawat pembom B-25 Mitchel juga disiapkan dalam perlawanan Andi Azis. 

Pembangkangan Andi Azis, membuat pemerintah pusat mengultimatumnya. Tapi,  Andi Azis telat merespon untuk menghadap ke Jakarta.

Pasukan militer dalam jumlah besar pun segera diturunkan untuk mengatasi Andi Azis.

Pertempuran hebat terjadi sejak Mei sampai Agustus 1950 yang akhirnya pasukan TNI bisa memukul pasukan Andi. 

Andi Aziz pun akhirnya ditangkap dan disidangkan dengan cara militer tahun 1953. Andi dihukum penjara selama 14 tahun dan mengakui kesalahannya.

 

Editor : Heryanto
Publisher : Raafi Prapandha

Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top