Dibiarkan, LGBT Ngehits di Medsos (5)

Jika Dibiarkan, Pakar Psikologi Sebut Komunitas LGBT Lama-Lama akan Melegalkan Pernikahan Sesama Jenis

Ilustrasi pernikahan sesama jenis (Ist)
Ilustrasi pernikahan sesama jenis (Ist)

MALANGTIMES - Grup percakapan komunitas LGBT di media sosial seperti Facebook, Instagtam, hingga Twitter memang cukup meresahkan masyarakat.

Namun jika dibiarkan, pergerakan mereka yang masif itu bukan tidak mungkin akan melegalkan pernikahan sesama jenis di Indonesia.

Hal itu disampaikan Dosen Psikologi Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri (UIN) Maliki Malik Ibrahim Malang, Akhmad Mukhlis pada MalangTIMES baru-baru ini.

Menurutnya, dengan haknya sebagai warga negara, kelompok LGBT akan sangat mungkin menuntut melegalkan pernikahan sesama jenis yang memang sudah marak dibeberapa negara tersebut.

"Saya sebagai masyarakat jelas sangat tidak menginginkan itu. Tapi apa yang tidak mungkin di negara hukum kita ini," katanya.

Semakin banyaknya komunitas seperti komunitas gay dan lesbian menurutnya akan membuat pergerakan kelompok tersebut semakin leluasa. Terlebih jika masyarakat terlalu acuh dan tidak melakukan pergerakan untuk membendung mereka. 

"Sebenarnya ini memang tugas bersama. Sekarang kemungkinan itu memang kecil, tapi potensi ke sana ada," jelasnya.

Lebih jauh dia menerangkan, komunikasi yang dijalin melalui media sosial sangat memungkinkan pergerakan mereka semakin luas, dengan jaringan yang semakin mengglobal.

Secara psikologis, mereka akan merasa jika kelompok mereka ada dan semakin banyak dikenal.

Secara langsung, pergerakan untuk menuntut hak asasi manusia (HAM) mereka lakukan di masyarakat. Terlebih, saat ini semakin banyak figur LGBT yang eksis di media.

Salah satunya yang paling berpengaruh adalah ruang yang mereka dapat di program TV sejak 10 tahun terakhir.

Kemunculan tokoh yang tidak kangsung menyatakan mereka adalah penyuka sesama jenis itu akan membuat banyak kalangan, terutama remaja memberanikan diri di hadapan publik. Sehingga tidak mengherankan jika ada banyak remaja yang masih duduk di bangku sekolah aktif sebagai anggota komunitas gay atau lesbian meskipun melalui media sosial.

"Saat ada figur yang diberi ruang, terlebih melalui kebiasaan yang diselipkan dengan sebuah humor, maka masyarakat akan menerima itu. Remaja pun akan berfikiran bahwa perilaku yang dianggap menyimpang itu sudah mulai diterima dan mereka mulai menampakkan diri. Terlebih ada juga artis yang dengan terang-terangan menyatakan diri sebagai gay, dan karyanya diterima sampai sekarang," jelasnya.

Sementara terkait keberanian kelompok tersebut berselancar di dunia maya menurutnya lantaran ada beberapa kemungkinan.

Pertama, media sosial sebagai jejaring sosial masih memiliki kelemahan. Salah satunya dapat ditampik bukan sebagai akun yang mereka miliki.

Selain itu, media sosial juga menjadi cara mereka untuk tidak diketahui langsung oleh orangtua dan keluarga dekat mereka.

Selain itu, lanjutnya, hukum yang mengatur tentang LGBT di Indonesia selama ini masih belum ada. Sehingga kelompok tersebut memiliki celah untuk beraktivitas, meski pada kenyataannya masih banyak ditolak oleh masyarakat.

Mereka juga semakin pandai dalam mengantisipasi setiap kekhawatiran masyarakat yang disampaikan.

"Padahal kalau berbicara tentang HAM, nereka semestinya juga memikirkan orangtua dan masyarakat umum yang takut akan generasi yang meniru mereka," jelas Mukhlis.

Dia juga menyampaikan, lemahnya hukum di Indonesia terkait LGBT juga didasari oleh ilmu pengetahuan yang berkembang.

Di mana dalam Psikologi sendiri dikatakan jika orientasi seksual selain pada heteroseksual atau pada penyuka sesama jenis bukanlah sebuah gangguan psikologi.

Dalam sebuah teori yang dicetuskan pada tahun 70-an itu, dikatakan jika homoseksual atau sejenisnya itu merupakan perilaku yang normal. Karena berkaitan dengan sesuatu yang disukai, dan setiap manusia memang memiliki kecenderungan yang berbeda antara satu dengan yang lain.

"Jadi kalau diibaratkan dulu itu seprti saat ada kelompok teman yang makan bersama, maka mereka akan memesan menu berbeda karena makanan yang mereka sukai berbeda. Seperti itulah setidaknya teori terkait LGBT saat itu. Dan sampai sekarang teori itu masih digunakan. Terlepas dalam agama dan lingkungan masyarakat itu ditolak," jelasnya.

Untuk menekan pergerakan mereka, menurutnya masyarakat memiliki peran yang sangat besar.

Karena di era yang semakin terbuka seperti sekarang kecenderungan masyarakat untuk menjaga lingkungan mereka semakin berkurang. Jauh berbeda dengan lingkungan yang dibangun di masa lalu.

Di masa lalu, menurutnya masyarakat akan membatasi pergerakan komunitas LGBT dengan secara tidak langsung.

Di antaranya membatasi ruang sosialisasi mereka dengan tidak memberi hak suara dan tidak diberikan peran khusus di lingkungan masyarakat.

"Mereka (komunitas LGBT) dulu dianggap tidak ada, dan pergerakan mereka dikunci. Berbeda dengan sekarang, masyarakat lebih acuh dan tidak peduli sehingga mereka bisa leluasa bergerak. Maka bukan tidak mungkin komunitas akan semakin besar," tegasnya lagi.

Dia pun berharap siaran hiburan TV tidak lagi secara gamblang mempertontonkan kelompok tersebut. Karena hiburan dengan peran transgender dan LGBT akan semakin meningkatkan kepercayaan diri seriap kelompok.

Mirisnya, tontonan dengan peran transgender kini semakin disukai masyarakat.

"Karena itu sudah menjadi kebiasaan. Sekarang hampir semua TV menyertakan peran transgender. Beda dengan tahun 80 atau 90-an, seperti Tessi misalnya. Dia hanya peran saja di TV, tapi kenyataannya tidak begitu. Tapi sejak awal 2000-an, apa yang ada di TV ya yang terjadi secara nyata," pungkasnya.

Editor  : Heryanto

 

Editor : Heryanto
Publisher :

Redaksi: redaksijatimtimes[at]gmail.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : redaksijatimtimes[at]gmail.com | redaksijatimtimes[at]gmail.com
Top