Kisahkan Bima Bangkit, 16 Dalang Cilik Asal Malang Jadi Penjaga Warisan Budaya Dunia

Deon Yoga, salah satu peserta Parade Dalang, Sinden, Pengrawit Cilik saat unjuk kemampuan di pendopo Dewan Kesenian Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Deon Yoga, salah satu peserta Parade Dalang, Sinden, Pengrawit Cilik saat unjuk kemampuan di pendopo Dewan Kesenian Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Mengenakan beskap hitam, kain batik dan blangkon, penampilan Deon Yoga sangat meyakinkan sebagai dalang cilik. Dia bersama 15 rekannya dari sanggar Taruna Kridha Rasa ikut dalam pergelaran Parade Dalang, Sinden, Karawitan Cilik di pendopo gedung Dewan Kesenian Malang.

Membawakan lakon Bimo Bangkit, Deon tampak fasih menyajikan cerita salah satu tokoh Pandawa itu. Dengan sabetan-sabetannya, dia menghibur para orang tua dan penikmat seni yang hadir dalam acara tersebut. Dikisahkan, bayi yang lahir dari rahim Ibu Kunthi itu menjadi raja besar dan jaya setelah melalui perjuangan yang penuh dengan tantangan dan rintangan.

Selain 16 dalang cilik, acara tersebut juga menjadi tempat unjuk kebolehan para pengrawit atau pemain gamelan cilik serta sinden-sinden belia. "Total ada sekitar 34 peserta dari berbagai daerah di Malang. Anak-anak ini merupakan asuhan dari Mbah Warno," ujar Iwan Budi Susanto, ketua panitia kegiatan.

Mbah Warno sendiri di kalangan seniman Jawa Timur dikenal sebagai seniman yang peduli dengan pelestarian karawitan dan pedalangan. Di Kota Malang, Mbah Warno juga membuka Sekolah Dalang Cilik yang gratis bagi masyarakat yang berminat. "Nah, anak-anak inilah yang ditampilkan dalam parade kali ini. Acara parade ini diselenggarakan satu tahun sekali," urainya.

Kegiatan tersebut juga ditujukan untuk melatih dan mengukur keberanian para dalang. Dengan menampilkan hasil belajar selama ini pada masyarakat umum, nantinya masukan para penonton juga akan menjadi bahan belajar para dalang cilik. "Ajar kendel (belajar berani), sehingga nanti kalau tampil di acara yang lebih besar tidak grogi," tambahnya. 

Para dalang cilik itu tidak hanya diajarkan cara memainkan para tokoh-tokoh wayang kulit. Melainkan juga seluk beluk pergelaran hingga nilai-nilai yang dikadung dalam pewayangan. "Apalagi wayang kulit ini sudah diakui Unesco sebagai warisan budaya dunia. Anak-anak ini nanti yang akan menjadi penjaganya," pungkasnya. 

Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah

Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top