Pelawak Kondang Pengusung Jargon "Masuk Pak Eko" Punya Pesan Khusus kepada Pemuda Kota Malang

Cak Percil saat menghibur di salah satu daerah di Kota Malang (Hendra Saputra)
Cak Percil saat menghibur di salah satu daerah di Kota Malang (Hendra Saputra)

MALANGTIMES - Pelawak tradisional kondang Jawa Timur asal Banyuwangi, Deni Afriandi atau yang tenar disapa Cak Percil  menyampaikan pesan kepada generasi muda Kota Malang agar tidak pernah malu dengan kebudayaan Jawa saat tampil pada sebuah acara di daerah Tlogomas, Jumat (12/10/2018) malam.

Siapa yang tidak kenal dengan yang namanya, Cak Percil. Salah satu pelawak tradisional yang terkenal dengan jargon "masuk pak eko".

Kemarin malam, dijumpai di Jalan Tlogosuryo No. 20, Cak Percil menghibur masyarakat dengan guyonan khas Jawa Timur dan campursari yang diberi nama Guyon Maton Cak Percil cs.

Saat dijumpai, Cak Percil mengaku sangat senang jika penontonnya antusias dengan guyonan yang ia bawakan. Itu menandakan, masih banyak orang yang peduli dengan seni tradisional yang ia bawakan.

"Saya seneng kalau menghibur warga Malang, masyarakat Malang itu antusiasnya sangat tinggi kalau ada seni budaya tradisional," ujarnya.

Sebenarnya, kedatangan Cak Percil di Kota Malang atau Malang Raya bukan sekali ini saja. Ia mengaku sudah sering kali diundang oleh beberapa pejabat untuk mengisi acara.

"Saya sudah sering kali datang ke Malang. Kapan hari juga pernah diundang Wali Kota Malang, Bupati Malang, Polres Malang, Polresta Malang, daerah Batu juga pernah. Pokok sebulan bisa dua sampai tiga kali," ungkapnya.

Dalam kesempatan ini, Cak Percil juga menyampaikan pesan kepada anak muda agar tidak meninggalkan seni dan budaya tradisional.

"Ya kalau menurut saya, janganlah sampai malu dengan kebudayaan sendiri. Adanya anak muda karena ada orang tua. Yang dulu bilang katanya campursari itu ndeso, ya bisa dilihat sekarang. Kemasan campursari yang seperti sekarang apakah masih ndeso atau bagaimana," paparnya.

Disinggung tentang jargon "masuk pak eko" tetap akan bertahan atau tidak, Cak Percil mengaku biar masyarakat yang menilai sendiri.

"Jargon masuk pak eko itu ada sekitar tahun 2012 dan sampai sekarang. Bicara dipertahankan atau tidak itu biarkan masyarakat yang menilai, kalau memang tetap dipertahankan ya biar berjalan," katanya.

Terakhir, Cak Percil mengatakan untuk masyarakat Jawa Timur khususnya agar tetap mempunyai jiwa Jawa yang melekat. Karena hal itu sangat berpengaruh kepada emplementasi kehidupan.

"Kita itu punya jiwo jowo kang kajawi, dalam artian prinsip hidup kejawen mengutamakan laku penghayatan atau implementasi nilai-nilai luhur dalam kehidupan sehari-hari. Itu bagus untuk melestarikan tradisi turun temurun dari nenek moyang," pungkasnya.

Editor : Heryanto
Publisher : Super Administrator

Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top