Budaya Korupsi di Indonesia Kian Menjamur Sejak Masa Kerajaan, Ini Jejaknya

Ilustrasi korupsi (istockphoto.com)
Ilustrasi korupsi (istockphoto.com)

MALANGTIMES - Kasus korupsi diberbagai daerah di Indonesia akhir-akhir ini semakin mencuat dan membuat publik prihatin. Hingga akhirnya muncul pertanyaan, apakah korupsi sudah menjadi sebuah budaya di negeri ini? Lantas sejak kapan sebenarnya korupsi dilakukan?

Pemerhati sejarah, Devan Firmansyah bercerita, jejak kasus korupsi dapat dilihat melalui berbagai sumber sejarah. Salah satunya dalam Prasasti Rumwiga yang ditemukan pada 1992.

Dalam prasasti tersebut tercatat, ada proses penyimpangan pajak yang dilakukan oleh petugas dan pemberi pajak. 

Menururnya, pembayaran pajak saat itu dilakukan tidak semestinya. Di mana nominal pajak yang harus dibayarkan selalu lebih tinggi dibanding yang telah ditetapkan.

Salah satu alasannya adalah untuk menjamu petugas pajak, dan itu dapat dikatakan sebagai salah satu bentuk suap. 

"Jadi memang ada sebuah istilah yang kini kita kenal dengan sebutan mark up pajak tanah," katanya pada MalangTIMES belum lama ini.

Lebih jauh dia menyampaikan, dalam prasasti lain yaitu Prasasti Sumundul dan Paneggaran juga disebutkan hukuman bagi orang yang tidak membayar pajak.

Dikatakan, jika orang yang tidak membayar pajak akan mendapat hukuman. Tak sendiri, hukuman juga diberikan kepada keluarga seperti anak dan cucu-cucunya.

Menurutnya, pemerasan dan mengubah ukuran pajak sudah marak sejak masa Mataram kuno. Dia juga menyebut jika dalam salah satu prasasti yang ditemukan di Malang yaitu Prasasti Bangliawan juga disebutkan perihal kewajiban membayar pajak.

"Budaya korup itu sudah ada sejak dulu, jadi nggak ada yang perlu dikagetkan," ungka pria berkacamata itu.

Sementara itu, dalam Prasasti Bangliawan sendiri tercatat jika rakyat di Desa Bangliawan (sekarang Mangliawan Pakis, Kabupaten Malang) harus membayar pajak tanah atas perkelahian dan pertumpahan darah yang terjadi di desa mereka tersebut. 

Diceritakan, jika penduduk setempat sering kali menemukan darah berceceran dan sesosok mayat tergeletak di tegalan di Gurubhakti pada waktu pagi hari.

Mungkin saja mayat itu bukan mayat warga Desa Balingawan, dan pembunuhan terjadi di desa lain pada waktu malam lalu mayat korban oleh pembunuh diletakkan di tegalan di Gurubhakti tanpa ada yang mengetahuinya.

Akibatnya penduduk menjadi melarat (durbala) dan berdasarkan analogi dengan isi Prasasti Kinewu yang berangka tahun 829 Saka (OJO, XXVI), ditafsirkan bahwa rakyat Desa Balingawan tidak lagi mampu membayar pajak. 

"Karena itu rakyat melalui pemuka-pemukanya mengajukan permohonan kepada Rakyat Kanuruhan agar tegalan di Gurubhakti itu dijadikan sima sebagai sumber penghasilan bagi pejabat mula yang bertugas untuk memimpin penjagaan di jalan pada waktu malam," jelasnya.

 

 

Editor : Heryanto
Publisher : Super Administrator

Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top