Mata Rantai Cabai Dikaji, Dinas Ketahanan Pangan Siapkan Simastri

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Nasri Abdul Wahid (kiri ujung) saat melakukan evaluasi di kantornya (@dkp for MalangTIMES)
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Nasri Abdul Wahid (kiri ujung) saat melakukan evaluasi di kantornya (@dkp for MalangTIMES)

MALANGTIMES - Mata rantai distribusi cabai dari panen sampai pasar, kembali dikaji. Kini Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian (Kementan) RI secara langsung terjun untuk menganalisis pola jalur distribusi, peran kelembagaan, sebaran marjin penjualan dan pengangkutan komoditi cabai di Desa Ngembal, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang. 

Kajian dari BKP Kementan RI ditujukan untuk merumuskan alternatif saran kebijakan peningkatan akses pangan masyarakat melalui sistem distribusi perdagangan antar wilayah (Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah) yang lebih efisien ke depan. 

Kajian tersebut disambut baik oleh Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Malang. Pasalnya dengan kajian tersebut akan terpetakan mata rantai distribusi cabai. Dengan goal adanya pemangkasan mata rantai yang semakin pendek. 

Nasri Abdul Wahid Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Malang menyampaikan, kajian mata rantai akan memberikan keuntungan bagi petani. Sekaligus menciptakan ketahanan pangan masyarakat yang kerap dibuat 'mainan' para pemilik kapital dengan cara melakukan penimbunan komoditi. 

"Kita menyambut baik adanya kajian tersebut. Hal ini juga akan menguatkan kajian kita selama ini dalam komoditi cabai," kata Nasri kepada MalangTIMES, Kamis (11/10/2018). 

Kajian mata rantai cabai dari panen sampai konsumen di wilayah Kabupaten Malang telah dilakukan. Bahkan, Dinas Ketahanan Pangan juga sudah mempersiapkan aplikasi berbasis digital yang dinamakannya Simastri. Yakni Sistem Mata Rantai Distribusi untuk komoditi pertanian. 

Simatri akan menjadi pelengkap bagi petani maupun pihak terkait lainnya untuk melakukan pemantauan serta berbagai informasi lain terkait mata rantai distribusi komoditi pertanian. 

"Mirip dengan Inovasi Sibrilian dulu. Tapi Simatri  ke mata rantai distribusinya. Inovasi ini baru bisa kita terapkan bila kajian serta luas cakupan wilayah dan komoditi sudah siap dan bersifat luas," ujar mantan Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Malang. 

Dari kajian yang pernah dilakukan di komoditi cabai, secara hasil sebenarnya telah terbilang berhasil. Tapi, kata Nasri mata rantai yang terpotong, sehingga harga cabai bisa ditekan, jangan sampai membuat petani merugi. Hal inilah yang akan disempurnakan oleh kajian BKP Kementan RI serta dimasifkan secara luasan distribusinya. 

"Kalau ini sudah fix dan dijadikan saran kebijakan di pusat, maka Simatri bisa diaplikasikan dan akan semakin mempermudah dan melengkapinya," ujar Nasri. 

Seperti diketahui, mata rantai distribusi komoditi cabai maupun lainnya, kerap terbilang panjang. Dari penebas ke pengepul komoditi, lantas berpindah ke transhipmen (pihak yang membawa komoditi ke luar lokasi produksi). Dari mata rantai tersebut sampai pada sortasi, sebelum disebar ke beberapa distributor. Lantas komoditi baru sampai di pasar. 

Di setiap simpul mata rantai tersebut memerlukan biaya. Biaya inilah yang akhirnya di masukkan ke harga komoditi yang ada di pasar. "Jika bisa diperpendek mata rantai distribusinya maka akan mengurangi harga jual. Selain juga bisa mengurangi kemungkinan permainan penimbunan dan lainnya," pungkas Nasri. 

Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher :

Redaksi: redaksijatimtimes[at]gmail.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : redaksijatimtimes[at]gmail.com | redaksijatimtimes[at]gmail.com
Top