Kisah Tragis Perempuan di Zaman Belanda: Disalib Telanjang Bulat, Kemaluannya Diolesi Cabe Spanyol

Ilustrasi (Ist)
Ilustrasi (Ist)

MALANGTIMES - Nasib buruh perempuan di zaman kemerdekaan semakin membaik. Walau pun beberapa kali terjadi kasus penyiksaan sampai terbunuhnya buruh perempuan, seperti Marsinah yang sempat membuat Indonesia berduka. Namun masih lebih mengerikan nasib buruh perempuan di zaman penjajahan Belanda. 

Membaca berbagai literatur buruh perempuan zaman itu membuat kita bersyukur atas kemerdekaan yang telah diraih sampai saat ini. 

De Milioenen van Deli, sebuah laporan yang ditulis Van den Brand anggota Raad van Justice adalah secuil kengerian atas nasib buruh perempuan saat itu. Dalam tulisannya, ketika Brand berkunjung ke sebuah perkebunan di Deli, dia melihat hal yang membuatkan gentar. 

Dia tidak sengaja melihat suatu yang mengerikan di sebuah rumah milik tuan tanah Belanda. Saat itu Brand yang berkunjung ke perkebunan di Deli, mendengar erangan seorang perempuan di depan halaman rumah seorang tuan tanah. Penasaran,  Brand mencari sumber erangan kesakitan tersebut. 

Betapa terkejutnya dia saat melihat pemilik suara kesakitan tersebut, ternyata dari seorang perempuan berusia sekitar 16 tahun. Perempuan yang tidak ditulis namanya tersebut dalam kondisi tersalib. Tanpa busana secuil pun yang menutupi tubuhnya. Kekerasan dan pelecehan tersebut tidak berhenti di situ. Alat kelamin perempuan tersebut pun diolesi cabai Spanyol yang super pedas. Ngeri. 

Brand menulis peristiwa yang membuatnya gentar tersebut. "... ini sangat keterlaluan dan saya pun meneruskan perjalanan. Menurut yang saya dengar, sang gadis harus bertahan dalam keadaan demikian dari jam enam pagi sampai jam enam sore,”. 

Dari tulisan lainnya diketahui, bahwa perempuan yang mengalami penyiksaan sadis oleh tuan tanah Belanda tersebut dipicu karrena penolakannya. Si gadis lebih memilih mencintai dan menjalin hubungan dengan sesama buruh dibandingkan menerima pinangan si tuan tanah yang ingin nenjadikannya nyai. 

Kasus kekerasan sadis terhadap buruh perempuan zaman penjajahan tersebut, marak terjadi di berbagai wilayah, khususnya di berbagai perkebunan milik Belanda. Para buruh perempuan yang memiliki paras cantik, bahkan lebih buruk nasibnya saat itu. Mereka biasanya akan menjadi pelampias nafsu para tuan Belanda.

Biasanya, masih menurut laporan Brand, para buruh perempuan yang baru akan diperiksa oleh administratur perkebunan dalam sebuah ruangan. Lalu, mereka akan memilih yang paling cantik dari mereka untuk dijadikan gundik atau nyai. 

Cantik Itu Luka, sebuah novel yang ditulis Eka Kurniawan, menggambarkan hal tersebut secara apik. Bahwa kecantikan di zaman penjajahan membuat pemiliknya menjadi korban pemuas nafsu laki-laki. Pilihannya menjadi korban atau menjadi pelacur. 

Lantas, apakah setelah mendapat status nyai kehidupan mereka menjadi lebih baik? Tidak, mereka bahkan mendapatkan berbagai perlakuan kekerasan dan pelecehan seksual. “Membicarakan hal itu lebih jauh membuat saya muak,” tulis Brand.

Perlakuan nista yang dilakukan di zaman penjajahan tersebut, kerap terjadi pada semua perempuan buruh. Baik yang belum bersuami maupun yang sudah bersuami. Bagi para tuan tanah, status perempuan bukanlah persoalan. Perawan, yang bersuami atau pun janda, apabila terlihat menarik akan menjadi santapan nafsu mereka. 

Dalam buku Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda, karya Reegie Baay, perlakuan merendahkan martabat perempuan tersebut memunculkan berbagai pemberontakan dari para buruh. Tercatat, antara tahun 1923-1925 ada sekira 70-an pemberontakan dari para buruh di Deli. Salah satu pemicunya, istri buruh direbut paksa oleh pegawai Belanda.

Selain pemberontakan dari para lelaki buruh yang kerap berujung kematian mereka, para perempuan yang dijadikan gundik atau nyai pun, tercatat melakukan perlawanan secara diam-diam tapi mematikan. 

Hal ini terekam dalam buku yang ditulis Bernard Dorleans dengan judul Orang Indonesia dan Orang Prancis. Dalam buku tersebut dikisahkan perlawanan para nyai yang dilakukan secara tersembunyi terhadap tuan Belanda-nya.

Tak sedikit yang akhirnya para nyai memiliki anak dari hubungan dengan tuan Belanda. Bila sang tuan kembali pulang ke negaranya, maka meninggalkan para nyai dan membawa anak-anaknya. Nasib sang nyai kalau tidak ditinggalkan sendiri, biasanya diberikan sebagai kado bagi sejawatnya. 

Dalam buku tersebut, diceritakan seorang nyai yang mengetahui tuannya akan kembali dan membawa serta anak-anaknya, menyusun siasat. Di depan sang tuan, si nyai berlaku seperti biasanya. Penurut dan menerima nasibnya secara pasrah.

Namun, diam-diam sang nyai melawan atas perlakuan tuannya. Setiap kali memberi makanan, dia campurkan lugut bambu tersebut setiap kali makan. Lugut yang dimakan terus menerus ini yang akhirnya menjadi penyakit yang mengantar tuan Belandanya ke alam kubur. Sebelum dirinya kembali pulang ke negaranya. 

Di dalam cerita lain yang ditulis Pramoedya Ananta Toer dalam tetralogi Bumi Manusia juga dikisahkan perlawanan seorang nyai kepada tuan belandanya. Kisah Nyai Ontosoroh ini bahkan menjadi salah satu bentuk perlawanan para perempuan yang menjadi korban penyiksaan dan pelecehan para tuan belanda. 

 

Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah

Redaksi: redaksijatimtimes[at]gmail.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : redaksijatimtimes[at]gmail.com | redaksijatimtimes[at]gmail.com
Top