KITAB INGATAN 27

Oct 07, 2018 07:59
Ilustrasi puisi (Istimewa)
Ilustrasi puisi (Istimewa)

MALANGTIMES - KITAB INGATAN 27

*dd nana

Tentang Kemarau di Tubuh Sendiri

(1)

Kemarau masih panjang,  sayang. Jemari kita semakin kasap dicumbu terik. Rindu pun kerap meringkik putus asa. Mencari jejak-jejak basah rerumputan. Sebelum tawa buncah dan menjelma pelukan erat. Dan hujan,  biasanya turun. Menjadi tirai ranjang pengantin yang meredam gegas nafas kita. 

Baca Juga : KITAB INGATAN 101

Tapi, kemarau sepertinya akan panjang. Mengalahkan bayang-bayang ingatan dan catatan cinta kita yang telanjang.  

(2)

Dedaunan mulai melepaskan diri dari tangkainya. Coklat kehitaman tanpa keributan. Dedaunan paham akan hari kematiannya. Dan tidak memerlukan jemari maut untuk menariknya dari pertapaan. 

Tidak seperti rindu yang membandel atas usia dan cuaca. Meringkik-ringkik walau raga semakin ringkih dengan segala penyakit. Meminta rumah awalnya. Tempat dimana rindu dicipta dan disuburkan oleh pelukan dan ciuman panjang. Tak mengenal kata bosan. 

"Jadi rindu harus belajar pada dedaunan? "

"Tidak! mereka yang harus belajar pada rindu. Walau pun berparas bebal, "

Kemarau masih panjang di atas kepala. Yang kosong dari segala cerita. 

(3)

Habis terik, hujan masih saja tidak datang. 

Hanya bayang-bayang berwarna sumba yang semakin nyalang. 

Mengabarkan kalimat-kalimat kosong dari paras yang menunggu. Di sebuah terminal yang ditinggalkan pikuk. 

Hanya kursi tunggu yang ternyata setia menemani sepi. 

Bukan kamu ternyata, sayang. 

Habis terik,  terbitlah sepi yang memanggang hati. 

(4)

Pada sesap kesepuluh, tamatlah riwayat kopi

yang disuguhkan jemari lentik seorang pengabar sepi. 

Tapi, kemarau di kepalaku semakin memanjang,  serupa gelombang rindu yang piatu. 

Menerorku di siang yang terkecap sunyi di lidah ini. 

(5)

Jangan cinta karena itu luka. 

Sejak itu aku menjadi kemarau di tubuh sajakku sendiri. 

Percayalah, itu lebih luka dari segala kisah air mata. 

(6)

tuhan bersabda kepada air. Bersabarlah, saatnya kau akan mengalir dan meriakkan tubuh-tubuh sajak yang sepi itu. 

Baca Juga : KITAB INGATAN 100

aku tersedak oleh mimpi tentang mu. Yang datang bersama alir air. Memandikan segala rabuk hidup yang lengket di tubuhku. Dan kau pun berucap, "aku ingin datang dengan bah. Tapi percayalah kau akan mati dengan tubuh paling kemarau."

aku terbangun. Entah untuk merayakan kesabaranmu atau menangisi kepura-puraanmu. 

"Adakah cinta yang begitu sabar,  sayang?". 

tuhan bersabda, "bersabarlah kau air. Ada saatnya kau mengalir dan beriak-riak. Biarkan saja para sajak menemui sunyinya sendiri, ". 

 

Topik
serial puisipuisi pendekpuisi malangtimeskitab ingatan

Berita Lainnya

Berita

Terbaru