MALANGTIMES - Kampung Bareng "mencuri start" nonton bareng (nobar) film G30S/PKI. Jika biasanya nobar film G30S/PKI digelar tiap 30 September sesuai tanggal peristiwa pembunuhan sejumlah jenderal tahun 1965 lalu, Kampung Bareng sudah memutar film legendaris itu Sabtu (29/9/2018) malam.

Nobar film yang dirilis 1984 besutan sutradara kawakan Arifin C. Noer itu diikuti sebagian besar anak-anak. Bertempat di halaman depan Masjid Baitul Makmur Bareng Kartini Gang 3/G, selain anak-anak, remaja hingga orang tua juga ikut menonton. Hadir juga Ketua Umum KONI Kota Malang Edy Wahyono, Ketua PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Malang Raya Ariful Huda, dan perwakilan dari Polres Malang Kota Rudi.

Sebelum menonton, diadakan Yasin dan tahlil. Menurut Hisa Al Ayyubi, khadimul (ketua) Majelis Hikmah Islam yang menginisiasi kegiatan ini, Yadin dan tahlil ditujukan untuk para pahlawan, kiai, dan santri yang gugur dalam peristiwa G30S/PKI. Selain itu, ada pemberian santunan dari warga kepada 5 anak yatim.

Anak-anak nobar G30S-PKI di halaman depan masjid Baitul Makmur Bareng Kartini Gang 3/G

Ya, meski di film tersebut tertera untuk minimal usia remaja, anak-anak periode 1990-an sudah menonton. Namun, Hisa menyatakan sekolahnya dulu mewajibkannya untuk menonton film ini.

“Dulu ketika masih SD , saya itu sama guru-guru wajib nonton film G30S-PKI ini. Waktu itu masih di Bioskop Agung di alun-alun sekarang. Kalau nggak salah, gedungnya dibuat salah satu bank. Ngadep sama Jami’ (masjid) itu dulu kan bioskop. Itu waktu SD. Jadi, kita kecil itu sudah diwajibkan nonton film ini,” ungkapnya.

Menurut Hisa, sudah lama anak-anak zaman sekarang tidak tahu film sejarah. Makanya diingatkan kembali agar jangan sampai peristiwa itu terjadi lagi. Mengenai isi film yang beberapa memang keras, Hisa mengaku dulu pada saat SD awalnya memang takut. Namun setelah itu terbiasa. Kemudian tertancap di hati dan otaknya bahwa peristiwa kelam dalam film itu pernah terjadi.

“Kan film ini sudah disensor oleh lembaga sensor film. Nggak mungkin kekerasan yang ditonjolkan karena sudah ada sensor film. Saya dengan teman-teman dulu malah lihat di bioskop. Akhirnya tertancaplah di otak kita bahwa dulu itu ada peristiwa seperti itu,” ujar dia. “Sampai sekarang pun ingatan itu masih ada. Makanya saya harapkan anak-anak juga seperti itu,” imbuhnya.

Tujuan Hisa sendiri adalah mengingatkan kepada generasi sekarang bahwa dulu ada sejarah yang kelam di Indonesia, yaitu G30S-PKI ini. Kemungkinan saja sejarah ini bisa terjadi. Untuk itu, anak-anak diingatkan.

“Saat itu ada pemberontakan. Kemudian dibunuhnya jenderal-jenderal. Di situ kemudian para santri dan para kiai juga ikut bersama-sama untuk mengamankan negara ini dengan menumpas G30S-PKI,” papar Hisa.

Selain itu, Hisa menyatakan bahwa anak-anak sekarang kebanyakan dicekoki dengan film tentang percintaan dan tentang mimpi. Bukan kenyataan. “Makanya kita putarkan film-film yang seperti ini supaya anak-anak ini ada keseimbangan,” katanya.

Untuk diketahui, setiap bulan di depan Masjid Baitul Makmur memang diadakan nobar. Film-filmnya pun berbeda-beda. Kebanyakan film sejarah dan dakwah. Bersamaan dengan agenda tiap bulan itu, ada santunan kepada anak yatim dan janda duafa.

“Yang ini kebetulan momennya G30S-PKI. Nanti bulan-bulan selanjutnya film-film tentang sejarah. Kayak nanti kita putarkan film Sang Kiai. Bulan depan nanti karena 10 November, kita putarkan film tentang 10 November,” jelas Hisa.

Konsep seperti itu sebenarnya dilakukan agar warga juga sering sambang masjid. Menurut Hisa, banyak masyarakat yang dulu malu ke masjid sekarang mulai berbondong-bondong untuk salat di sana. “Itu salah satu model konsep dakwah kita. Jadi, kita ngikuti dakwah model para wali songo. Dulu kan kalau wali songo pakai wayang. Saiki ngundang wayang yo larang,” ungkapnya.

Hisa tak memungkiri ada sebagian orang percaya dengan brutalnya kisah yang disajikan di film G30S/PKI. Tapi, sebagian lagi meragukan kebenarannya. Hisa melihatnya sebagai sebuah pro kontra yang biasa.

“Ada pro kontra, ya biasa lah. Tapi dalam kenyataannya dalam sejarah Indonesia, (gerakan PKI) itu ada. Ada sejarah tentang pemberontakan. Namanya pro kontra itu, saya pikir wajarlah. Tapi kemudian ketika namanya pro kontra, ya jangan kemudian memaksakan kehendak,” tutupnya. (*)