KITAB INGATAN 26

Sep 30, 2018 08:07
Ilustrasi puisi (Istimewa)
Ilustrasi puisi (Istimewa)

MALANGTIMES - KITAB INGATAN 26

*dd nana

- Pesan WA dan Hujan Sore Tadi

Lebih sibuk menghitung luka, layar hapeku tak pernah istirah, puan. Mengabarkan lembaran peristiwa sebelum semua menjadi dusta. 

Baca Juga : KITAB INGATAN 101

Yang mengendap-endap percintaan kita. Yang menikam serupa brutus, tepat di belikat. Kau sebut itu waktu. Kau lirihkan bahwa penyatuan hanya untuk mereka yang memiliki ikrar. Dengan cincin melingkar jemari, dengan pesta yang mendatangkan orang-orang yang mengantri untuk menyalami. 

Tapi,  hapeku lebih lesat dari segala riuh yang mewujud ikrar. Berbagai kabar pun telah kau terima,  bukan? Tentang rindu berparas jelaga disabet udara laut. Tentang malam-malam yang menyepi dalam reda nafas kita yang memburu bahagia. Tentang hujan. 

Hujan yang mengaburkan peristiwa di luar percumbuan kita di sore itu. Kita menatap bersama jatuhnya air hujan yang entah akan bermuara kemana nantinya.

 "Hujan seperti kita bukan? ". 

Meringkik buas di tubuh. Sebelum semuanya dicurahkan tuntas. Sampai kita lelap dalam tidur tanpa mimpi. Esoknya, dengan malu-malu,  kita saling bertanya dalam diam. 

"Kemana segala air mengalir setelah ditumpahkan? ". 

Hapeku masih sibuk mengeja setiap kabar. Hujan mulai turun sore ini. Mendinginkan kopi,  mengaburkan mu. Tak ada lagi kabar dari mu. 

"Lantas kemana semua ringkik,  desah, dan sedikit do'a yang pernah jatuh di lantai marmer putih itu,  puan? ". 

Mereka mengalir dengan sekarat yang anyir. Membandel menujumu. 

- Kau Tersenyum Dalam Sebuah Foto

Kau tersenyum dalam sebuah foto yang aku tangkap dalam limbung kaki. 

Di belakang,  buih ombak serupa lagu  memintaku untuk menari. Kau tulis sebait kata. 

Baca Juga : KITAB INGATAN 100

"Entah untuk siapa. Waktu telah merontokkan segala kabar tentang mu,". 

Kau masih tersenyum dalam foto yang aku bawa dalam anyir luka perjalanan. 

"Haruskah aku ucapkan berbahagialah. Tapi aku dalam sekarat, ". 

- Pada Alif

Yang mengajariku arti tegak

Walau tanpa jemari lembutmu lagi. 

Karena lelaki memang akhirnya harus sendiri. Membalut segala luka dengan senyuman yang tak perlu dimaknai dengan kata-kata. 

'Biarkan saja air mata turun. Segala yang tegak akhirnya harus menyepi pada nyeri,  bukan? ". 

- Ingatkan Aku Pada Tubuh

Ingatkan saja aku pada tubuh

Yang harus kubawa sampai maut mencumbunya serakus aku menelusuri peta rahasia di setiap lekuk tubuhmu.  

Ingatkan saja aku pada tubuh, walau masih saja aku meminta tubuhmu untuk menentramkan waktu. 

Ingatkan saja aku pada tubuh yang dicintai hujan  sore. Karena senja sudah bukan lagi cerita yang tepat untukku. 

 

Topik
serial puisipuisi pendekpuisi malangtimeskitab ingatan

Berita Lainnya

Berita

Terbaru