Mal Terbesar di Palu Ambruk, Puluhan Penari Hilang

Sep 30, 2018 08:02
Bangunan roboh akibat gempa dan tsunami di Palu dan Donggala. (Tribunnews).
Bangunan roboh akibat gempa dan tsunami di Palu dan Donggala. (Tribunnews).

MALANGTIMES - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memprediksi jumlah korban bencana gempa bumi di Kota Palu dan Donggala akan terus bertambah. Sebab, sampai saat ini, proses pencarian korban masih terus dilakukan.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyampaikan, sampai dengan Sabtu (29/9/2018) kemarin siang, tercatat ada 48 orang meninggal dunia, 356 orang luka, dan ribuan rumah rusak. 

Baca Juga : Mokong Keluyuran Malam Hari, Warga Jalani Rapid Test Covid-19 di Tempat

Korban jiwa berada di RS Wooward Palu sebanyak dua orang meninggal dunia dan 28 jiwa luka. Kemudian di RS Budi Agung Palu, yang dinyatakan meninggal dunia ada 10 orang dan 114 luka.

"Selanjutnya di RS Samaritan Palu ada enam orang meninggal dunia dan 54 luka. Kemudian RS Undata Palu ada 30 orang meninggal dunia dan 160 luka-luka," ungkap Sutopo.

Sampai saat ini tim masih terus melakukan pencarian korban gempa dan tsunami berkekuatan lebih dari 7 SR itu. Sebab, ada banyak bangunan roboh, mulai dari rumah, pusat perbelanjaan, hotel, rumah sakit, dan bangunan lainnya. Bangunan-bangunan itu ambruk sebagian atau seluruhnya. "Diperkirakan puluhan hingga ratusan orang belum dievakuasi dari reruntuhan bangunan," kata Sutopo.

Lebih jauh dia menyampaikan jika pusat perbelanjaan atau mal terbesar di Kota Palu, Mal Tatura di Jalan Emy Saelan, ambruk. Kemudian Hotel Roa-Roa berlantai delapan yang berada di Jalan Pattimura rata dengan tanah. Di hotel yang memiliki 80 kamar itu terdapat 76 kamar dan terisi tamu hotel yang menginap.

Di arena Festival Pesona Palu Nomoni, puluhan hingga seratusan orang pengisi acara -sebagian merupakan para penari- belum diketahui nasibnya. Begitu pula pasien di Rumah Sakit Anutapura yang berlantai empat di Jalan Kangkung, Kamonji, Kota Palu yang roboh. 

Kerusakan lain yang dilaporkan adalah Jembatan Ponulele yang menghubungkan antara Donggala Barat dan Donggala Timur roboh. Jembatan yang menjadi ikon wisata Kota Palu itu roboh setelah diterjang gelombang tsunami. "Jalur trans Palu-Poso-Makassar tertutup longsor. Diperkirakan jumlah korban jiwa dan kerusakan bangunan akan terus bertambah," ujar Sutopo lagi.

Baca Juga : Usul Pemakaman Nakes Covid-19 di TMP & Anugerah Bintang Jasa Berujung Bully untuk Ganjar

Dia menyampaikan jika komunikasi lumpuh akibat listrik padam menyebabkan pendataan dan pelaporan dampak gempa dan tsunami di Kota Palu dan Donggala tidak dapat dilakukan dengan cepat. 

"Tujuh gardu induk PLN padam usai gempa mengguncang Sulawesi Tengah, khususnya di Palu dan Donggala. Saat ini baru dua gardu induk yang bisa dihidupkan kembali," pungkasnya. (*)

 

Topik
Gempa Bumi gempa bumi palu gempa bumi donggala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Korban Hilang

Berita Lainnya

Berita

Terbaru