Warga yang antusias saat mengabadikan moment pada gelaran tahunan Pawai Kirab Budaya, Kecamatan Gedangan (foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)

Warga yang antusias saat mengabadikan moment pada gelaran tahunan Pawai Kirab Budaya, Kecamatan Gedangan (foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)


Editor

A Yahya


MALANGTIMES - Ribuan warga cukup antusias menyaksikan Pawai Kirab Budaya pantai terbesar di Indonesia yang digelar Pemerintah Kabupaten Malang, di sepanjang Jalur Lintas Selatan (JLS), Sabtu (29/9/2018). . Mereka rela berdesak-desakan bahkan menerobos pagar pembatas penonton dengan peserta pawai. Momentum itu tak disia-siakan pengunjung untuk foto bersama peserta.

Hiburan rakyat yang diadakan di sepanjang JLS ini, memang sudah dipadati penonton sejak pagi. Rombongan yang diberangkatkan dari Pantai Bajul Mati menempuh rute sepanjang 2 kilometer. Mereka berarak-arakan menuju titik akhir yang ada di Pantai Unggapan.

Antusias pengunjung untuk berfoto itu seperti halnya dilakukan saat menyaksikan perwakilan dari Kecamatan Ngajum. Penonton terpesona dengan konsep yang diangkat terkait kejujuran, diiringi berbagai tarian serta pernak pernik kostum yang menawan. Suguhan peserta asal Ngajum ini terhitung cukup sukses mencuri perhatian wisatawan.

Koordinator Kecamatan Najum Setyo Budi menuturkan, pada agenda tahunan ini, pihaknya mengangkat tema dua kerajaan. Dimana raja di dua kerajaan itu terlibat peperangan karena hendak mempersunting wanita yang sama. Kedua utusan dari kerajaan ini, sempat bertemu di tengah jalan ketika akan melamar sang putri.

Peperangan tidak bisa dihindarkan. “Rampak Singobarong kalah dalam peperangan itu, kemudian mengakui kekalahan dan bersedia untuk mengabdikan dirinya,” terang pria yang juga menjabat Kepala Desa Ngajum ini.

Budi menambahkan, selama mengabdi, Rampak Singobarong membuat raja yang mengalahkannya kagum. Selain pemberani, dia juga memiliki sikap yang jujur. “Pawai ini diiringi 120 penari, dan 200 peserta dari perangkat desa dan para warga Kecamatan Ngajum,” imbuhnya.

Tidak hanya tarian, Patung Rajawali yang terpajang di atas pick up dan diarak setiap peserta dari Kecamatan Ngajum ini juga menyita perhatian wisatawan. Replika burung Rajawali dengan tinggi sekitar 3,5 x 4,5 meter ini, nampak gagah dengan menggenggam pecut di lengan sebelah kanan. Kedua sayap dan kepalanya bisa bergerak, ketika musik dari sound asstim dihentakkan. “Kami  membuat karya ini selama 29 hari, butuh waktu lama karena kami design tahan air,” terang pembuat Replika Rajawali Rangga Eka Rama Krisa.

Rangga menuturkan, dibantu dua temannya, dia mulai membuat kerangka dari bambu yang diikat kuat menggunakan tali rafia. Kemudian kerangka itu dibalut dengan kertas khusus yang direkatkan menggunakan lem. Sebelum dicat, dia dan kawan-kawannya melapisinya menggunakan cat tahan air. Hasilnya tidak mengecewakan, setelah dibiarkan kehujanan selama dua hari, warnanya tidak luntur dan kedap air. 

Kemudian di bagian bawah, bisa dimasuki sekitar dua orang. Keduanya bertugas untuk menggerakkan engsel di bagian sayap, dan tiang khusus di bawah kepala Rajawali. Hasilnya, karya yang dipamerkan dalam agenda tahunan itu, nampak hidup seperti burung pada umumnya. “Burung rajawali ini juga bisa dinaiki dua orang, yakni dengan berat maksimal sekitar 100 kilogram,” tutur Rangga.

Seolah tidak mau kalah, sekitar 73 kontestan dari Organisasi Pemerintahan Daerah (OPD, Kecamatan, Rumah sakit dan Kesehatan, serta berbagai instansi lainnya, nampak bersemangat menyuguhkan karya di hadapan Bupati Malang Rendra Kresna.

Sekretaris Camat Turen Bayu Jatmiko menuturkan, pada penyelenggaraan serangkaian acara hari jadi Kabupaten Malang yang ke 1258 ini, pihaknya juga tidak mau tampil setengah-setengah. Dengan mengangkat konsep keberagaram budaya itu, membuat wisatawan terpukau. Para tamu undangan pun terhibur. “Total ada sekitar 150 orang yang mewakili Kecamatan Turen,” kata Bayu kepada MalangTIMES.

Sementara itu, Pariati Warga Desa Slorok Kecamatan Kromengan ini bisa dibilang sangat antusias. Dia mengajak 7 orang keluarganya untuk melihat pawai kirab budaya tersebut. Bahkan pihaknya rela berangkat dari rumah jam 04.00 dini hari. “Acaranya bagus beda dengan pawai lainnya, pesertanya juga banyak jadi lebih seru,” pungkasnya.

End of content

No more pages to load