Paduan Suara Eropa adalah Profesi dan Dibayar, Kalau di Indonesia Hanya sebagai Hobi

Konduktor dari Jerman Nicolas Fink yang sudah memimpin banyak ansambel terkemuka saat melatih konduktor dan choir di Gedung Sasana Budaya UM (foto: Imarotul Izzah/ MalangTIMES)
Konduktor dari Jerman Nicolas Fink yang sudah memimpin banyak ansambel terkemuka saat melatih konduktor dan choir di Gedung Sasana Budaya UM (foto: Imarotul Izzah/ MalangTIMES)

MALANGTIMES - Tidak seperti di Indonesia, anggota paduan suara di Eropa menjadikan paduan suara sebagai profesinya. Untuk itu, mereka sangat profesional dalam menjalaninya. Hal ini dinyatakan oleh Koordinator Program Budaya Elizabeth Soegiharto dari Goethe Institut Indonesien. 

"Di Eropa itu banyak sekali yang memang pekerjaannya adalah penyanyi. Misalnya koor dari Berlin, mereka itu bekerja dibayar oleh pemerintah. Mereka datang hanya untuk latihan. Jadi sangat profesional. Jadi seperti itu yang masih berbeda dengan Indonesia. Kita kan nyanyi buat hobi," ujar Elizabeth.

Maka dari itu di Indonesia lebih santai jika dibandingkan dengan mereka yang sudah profesional.

"Di Indonesia yang perlu ditingkatkan mungkin pengetahuan musikalitasnya. Karena kan banyak sekali kalau kita lihat di Indonesia Timur misalnya, mereka talenta untuk menyanyinya bagus. Tapi kadang mereka itu tidak bisa baca not balok. Itu berbeda sekali dengan orang Eropa," terang Elizabeth.

Menurut Konduktor Nicolas Fink yang sudah memimpin banyak ansambel terkemuka, termasuk Rundfunkchor Berlin, paduan suara radio WDR, MDR, Choeur de Radio France, paduan suara di Indonesia termasuk bagus. Namun masih harus banyak dilatih.

Jadi, untuk menyanyi bagus sekali, hanya saja teorinya yang kurang. Begitupun juga konduktor Indonesia yang bagus-bagus namun harus banyak dilatih. Nic sendiri menyatakan kepada Elizabeth bahwa choir di Indonesia harus memperbaiki personanya. Selain itu juga untuk tidak cepat puas di satu pencapaian saja.

"Nic sempat bilang mereka harus lebih ke persona. Harus lebih tahu kalian mau nyanyi, mau conduct untuk apa, dan apakah kalian mau membawa paduan suara kalian ini untuk ke next level. Kalau di sini, misalnya kita sudah menang satu kompetisi kan sudah hepi. Kalau di sana enggak. Mesti lebih maju lagi," ungkap Elizabeth.

Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher :

Redaksi: redaksijatimtimes[at]gmail.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : redaksijatimtimes[at]gmail.com | redaksijatimtimes[at]gmail.com
Top