Menelusuri Asal Arca Dewi Durga di Bendungan Sigura-Gura

Kegiatan pengukuran dan identifikasi benda cagar budaya berupa arca Dewi Durga yang dimiliki warga Jalan Bendungan Sigura-Gura Kota Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Kegiatan pengukuran dan identifikasi benda cagar budaya berupa arca Dewi Durga yang dimiliki warga Jalan Bendungan Sigura-Gura Kota Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Malang terus melakukan penulusuran terhadap benda-benda bernilai sejarah yang ada di wilayah tersebut. Termasuk benda purbakala yang disimpan oleh masyarakat.

Hari ini (29/9/2018) tim menelusuri soal keberadaan arca Dewi Durga yang dimiliki salah satu warga Jalan Bendungan Sigura-Gura, Kota Malang.

Berlokasi di Poharin 166A Jalan Terusan Bendungan Sigura-Gura Blok B, arca berukuran tinggi 60 sentimeter dan lebar 30 sentimeter itu tampak utuh. Oleh pemiliknya, Infantri Yoga, patung dewi dengan sad biuja atau enam tangan itu diletakkan di relung khusus di tembok bagian belakang rumah. 

Menurut Ifan, sapaan akrab Infantri, arca tersebut merupakan warisan dari leluhurnya yang berasal dari Desa Bangsal, Mojokerto. "Kalau sebelumnya dapat dari mana, saya tidak tahu. Memang dulunya mbah buyut banyak menyimpan benda pusaka seperti keris dan arca-arca. Setelah itu diwariskan," urainya.

Dia baru mengetahui jika pemilik benda cagar budaya harus melapor ke pemerintah setempat. "Saya selama ini hanya merawat saja. Sebab banyak orang yang datang dan menyebut itu arca Dewi Durga. Akhirnya saya laporkan," ujarnya.

Anggota TACB Kota Malang, M Dwi Cahyono mengungkapkan bahwa arca tersebut dikategorikan sebagai temuan lepas. Artinya, tidak diperoleh informasi pasti terkait asal usul tempat awalnya arca tersebut. Meski demikian, dari identifikasi awal yang dilakukan, patung batu itu menurutnya termasuk benda purbakala. 

"Sebenarnya dari gaya pahatan bisa diidentifikasi corak masa pembuatannya, tapi kalau kecil ini lebih susah. Tetapi dilihat ciri-ciri ikonografinya, arca ini berasal dari abad 10-15 Masehi, terlepas dari kerajaan mana," urainya. Ikonografi merupakan ciri-ciri khusus yang menandai keaslian patung. Selain tampilan keseluruhan, detail, proporsi, sandaran, kelaziman bentuk, hingga jenis batuan juga menjadi bagian identifikasi.

"Ini termasuk cagar budaya, berupa arca Durga Mahesaasura Mardini. Ada tiga unsur ikonografis yang tampak," urainya. Tiga unsur itu yang pertama gambaran Dewi Durga dengan enam tangan. Dewi yang merupakan shakti atau istri dari Dewa Siwa itu berdiri di atas kerbau atau Mahesa. Dari atas kepala Mahesa, muncul sosok Asura yang disebut-sebut menjadi musuh para dewa.

Dwi Cahyono menyebut, arca tersebut bertipe adegan yang menceritakan peristiwa khusus. "Mardini itu memperoleh kemenangan, keberhasilan mengalahkan Mahesa. Terlihat Durga berdiri di atas sambil satu tangannya menarik ekor Mahesa dan satunya menjambak rambut Asura supaya tidak lepas," tegasnya.

Dia menambahkan, arca Dewi Durga biasanya hadir dalam bangunan candi dan tidak sendirian. Seringkali, bersamaan dengan arca keluarga Siwa. "Di candi Hindu sekte Siwa, biasanya terletak di relung sisi utara atau mengarah ke laut. Misalnya di Candi Badut Malang," terangnya.

Meski demikian, dia belum bisa memastikan masa pembuatan arca tersebut. "Kalau untuk yang lebih detail soal usia arca dan lainnya harus masuk laboratorium. Tapi diperkirakan ini buatan sekitar abad 10-15 Masehi," tuturnya. 

Sementara itu, Kasi Promosi Pariwisata Disbudpar Kota Malang Agung Harjaya Buana mengapresiasi warga yang melaporkan adanya benda cagar budaya. Sebab, pihaknya tengah melakukan identifikasi untuk dimasukkan dalam daftar benda kepurbakalaan Kota Malang. "Memang dalam UU 11/2010 tentang Cagar Budaya itu masyarakat dimungkinkan untuk menyimpan, tetapi harus dilaporkan. Hasil hari ini tadi akan kami masukkan database," pungkasnya. 

Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher :

Redaksi: redaksijatimtimes[at]gmail.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : redaksijatimtimes[at]gmail.com | redaksijatimtimes[at]gmail.com
Top