Ikuti Gagak Gaib, Pangeran Samber Nyawa Lolos dari Kepungan Pasukan Gabungan

Perang Jawa (Ist)
Perang Jawa (Ist)

MALANGTIMES - Samber Nyawa. Begitulah sosok legendaris Jawa pendiri Pura Mangkunagaran di Surakarta pada tahun 1757 itu dikenal namanya sampai kini.
Sepak terjang serta keberaniannya dalam setiap pertempuran, baik melawan Sultan Mangkubumi, Susuhunan Pakubuwana III, dan kompeni Belanda telah diakui oleh para musuhnya.

Sebagai seorang pangeran dengan nama Raden Mas Said atau Pangeran Mangkunagara I, Samber Nyawa juga merupakan salah satu pemimpin militer paling berbakat dan berpengalaman sepanjang sejarah Jawa. Dia memiliki pengikut yang loyal dan pengagumnya sangat banyak.

Hal inilah yang kerap membuat Belanda frustrasi menghadapi si Samber Nyawa yang sejak usia 14 tahun telah berperang dengan kaum pemberontak dan terus berjuang hingga tahun 1757, saat dirinya berumur 31 tahun. 

Tapi, kecerdikan serta keberanian Samber Nyawa, julukan yang menurut Serat Babad Pakunagaran 1757 -otobiografi dalam bahasa Jawa paling kuno yang diketahui sampai sekarang- serta Babad Tutur 1791, diambil dari  panji perang yang dinamakan Samber Nyawa. Dari babad tersebut, panji perang Samber Nyawa dideskripsikan sebagai berikut :

"Panji perang Samber Nyawa namanya. Dinamakan Samber Nyawa karena jarang orang bisa bertahan. Kalau menyambar, banyak musuh yang mati.  Kalau musuh terlalu banyak, [Mangkunagara] melarikan diri ke hutan di gunung. Kalau jumlah musuhnya yang terpisah sedang, mereka disambar dari puncak gunung. Musuh terkejut karena banyak dari mereka yang mati. Kalau musuh dijumlahkan, [Mangkunagara] sudah melarikan diri ke hutan di gunung. Karena itulah, panji perang Sang Pangeran Adipati [Mangkunagara] dinamakan Samber Nyawa." seperti yang ditulis oleh Ricklefs, profesor emeritus di Australian National University dan penulis  artikel dan buku  sejarah Indonesia. 

Samber Nyawa terkepung oleh tiga pasukan gabungan yang menginginkan kematiannya di Pegunungan Kaduwang,  1756. Semua jalan ditutup rapat oleh tiga pasukan gabungan tersebut. Samber Nyawa posisinya sangat terjepit. Bahkan penasihat utamanya, Kudanawarsa, yang sedang terluka, sudah terlihat pasrah. 

Dalam posisi kalah secara strategi perang serta jumlah pasukan, Mangkunagara memutuskan untuk tetap keluar dari daerah pegunungan tersebut. Bahkan, dia melakukan serangan balik mematikan bagi para musuhnya. 

Diceritakan dari berbagai literatur,  sang pangeran akhirnya berhasil lolos bersama sisa pasukannya dari ketatnya pengepungan dikarenakan mengikuti burung-burung gagak yang memimpinnya secara gaib keluar dari barikade rapat musuhnya. Burung-burung gagak itulah yang menunjukkan jalan keluar Samber Nyawa dan pasukannya melalui sebuah jalan yang tidak ada satu manusia pun mengetahuinya selama itu. 

Setelah lolos dari kepungan maut, Samber Nyawa pun menyambar-nyambar nyawa musuhnya. Desa Giyanti tempat persetujuan antara Mangkubumi dan VOC 1755 dibakarnya. Mendekati daerah Mataram, mereka pun beraksi walaupun pasukannya saat itu masih dilanda ketakutan serta meminta Mangkunagara untuk mundur.
Tapi sang pangeran, seperti yang tercatat dalam otobiografi Serat Babad Pakunagaran, menjawab dengan tegas. "Walaupun saya mati, kalau sudah menemui ajal, jangan jauh dari Mataram, tempat pemakaman para leluhur saya. Mari kita bersama jangan menghitung mati, serahkan diri kepada Allah, mari kita masuk api!”. 

Tidak selang setahun,  pasukan Samber Nyawa pun membuat kasultanan yang dipimpin Sri Sultan di Yogyakarta dan dibantu Belanda,kocar kacir. Pasukan Samber Nyawa berperang seperti macan. 

Tahun 1755 sampai 1757, perang Surakarta dan Mangkubumi berakhir. Mangkunagara pun diundang untuk berdomisili di Surakarta dan diberi gelar Pangeran Miji, seorang pangeran yang lebih tinggi derajatnya daripada semua pangeran lain. Perdamaian itu pun disetujui Belanda dengan alasan mereka sudah mengakui bahwa tidak mungkin mencapai tujuan utama mereka selama ini kepada Mangkunagara yang dianggap memiliki kekuatan gaib. Yakni membunuhnya. 

Pada 28 Desember 1795 (atau Senen-Pon, 16 Jumadilakir, windu Adi, wuku Pahang, mongsa Kapitu, tahun Jimakir 1722), Pangeran Mangkunagara I si Samber Nyawa wafat di dalemnya di Surakarta. Dia dimakamkan di Mangadeg, di lereng Gunung Lawu. (*)

 

Editor : Yunan Helmy
Publisher :

Redaksi: redaksijatimtimes[at]gmail.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : redaksijatimtimes[at]gmail.com | redaksijatimtimes[at]gmail.com
Top