Melihat Kembali Sejarah Munculnya Serabi Suro di Dusun Dadaptulis Kota Batu

Salah satu warga sedang membuat serabi suro di Dusun Dadaptulis Kelurahan Dadaprejo, Kamis (27/9/2018). (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)
Salah satu warga sedang membuat serabi suro di Dusun Dadaptulis Kelurahan Dadaprejo, Kamis (27/9/2018). (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)

MALANGTIMES.- Festival Serabi Suro merupakan even pertama digelar di Dusun Dadaptulis Kelurahan Dadaprejo. Pembuatan serabi Suro ini berlangsung di jalan sepanjang Dusun Dadaptulis Kelurahan Dadaprejo, Kamis (27/9/2018).

Rasanya seperti kembali pada zaman tempo dulu, warga khususnya ibu-ibu mengenakan pakaian kebaya. Stan-stan yang berdiri dan terbuat dari bambu itu berjajar jadi tempat untuk ajang membuat serabi.

Mereka dengan telaten membuat serabi di atas tungku kecil dan wajan yang terbuat dari tanah. Sedangkan api yang digunakan dari arang yang harus dikipas oleh pembuat. Serabi yang dibuat pun adalah serabi original atau asli. 

Yakni juroh yang terbuat dari santan yang diberi gula merah sebagai pelengkap serabi. Tentunya nuansa tempo dulu sungguh terasa dalam kegiatan ini. 

Tokoh Masyarakat Dusun Dadaptulis Kelurahan Dadaprejo Imam Suwandi menjelaskan serabi merupakan salah satu simbol yang selalu ada saat selamatan di dusun tersebut. Serabi yang disuguhkan itu adalah serabi original.

Festival ini bermula dengan sejarah dari serabi Suro di Dusun Dadaptulis Dalam. Awalnya adalah selamatan jenang Suro untuk menyambut datangnya bulan Suro.

Budaya ini dilakukan sudah bertahun-tahun lamanya. Kemudian pada tahun 1892 terjadi kemarau pajang dan menyebabkan paceklik. Cadangan pangan yang ada di lumbung dibagikan ke warga tidak mampu untuk dibuat jenang Suro.

“Lalu kala itu datanglah seorang ulama memberikan saran, supaya persediaan pangan bisa cukup dan dalam waktu yang agak panjang disarankan selamatan serabi saja toh tidak mengurangi kesakralannya. Akhirnya kepala desa dan perangkat, tokoh, masyarakat setuju,” kata Imam. 

Kemudian setiap tahun di bulan Suro akhirnya diadakan selamatan serabi. Tetapi masyarakat masih banyak yang selamatan dengan membuat jenang Suro.

Hingga tahun 1902 terjadilah kemarau panjang, sehingga kepala desa mengumpulkan warga lagi dan memanggil ulama yang memberi saran sebelumnya.

Dan ternyata dia adalah salah satu bedah krawang kelurahan ini. Akhirnya ditetapkan setiap bulan Suro selamatan serabi (serabi Suro) dilengkapi dengan juroh yang terbuat dari santan yang diberi gula merah sebagai pelengkap serabi.

“Serabi atau saronone rabi penyajiannya harus satu paket yang melambangkan sepasang (pria dan perempuan). Juroh (pembuatannya dari santen dan gula merah, santan dan gula merah melambangkan dilahirkan dari kedua orangtua,” imbuhnya.

Menurutnya jika kegiatan ini merupakan salah satu kegiatan budaya yang sudah lama bersemi di daerah tersebut. 

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu Imam Suryono menambahkan, kegiatan ini merupakan salah satu cara melestarikan budaya yang sudah lama dilakukan di daerah tersebut.

“Festival Serabi Suro menjadi salah satu cara merayakan Suro yang jatuh pada Kamis Kliwon di Dusun Dadaptulis, Kelurahan Dadaprejo, Kecamatan Junrejo,” ujar Imam.

Menurutnya bahwa masing-masing desa memiliki karakter kebudayaan yang berbeda-beda. Dan setiap desa atau kelurahan memiliki kebudayaan dan seni yang khas untuk diangkat menjadi sebuah festival.

“Setiap desa/kelurahan punya karakter masing-masing, yang karakternya sama-sama kuatnya. Sehingga perlu digali lagi dan diangkat dan menjadi kelurahan berkembang,” jelasnya. 

Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Batu TIMES (JatimTimesNetwork)

Redaksi: redaksijatimtimes[at]gmail.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : redaksijatimtimes[at]gmail.com | redaksijatimtimes[at]gmail.com
Top