Dibuka Sayembara Desain Museum HAM Omah Munir, Hadiah Hingga Rp 220 Juta

Ketua Yayasan Museum HAM Omah Munir Suciwati (tengah), Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko (kanan) menerima buku dari IAI Malang di Pendopo Balai Kota Among Tani, Kamis (27/9/2018). (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)
Ketua Yayasan Museum HAM Omah Munir Suciwati (tengah), Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko (kanan) menerima buku dari IAI Malang di Pendopo Balai Kota Among Tani, Kamis (27/9/2018). (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)

MALANGTIMES - Museum Hak Asasi Manusia (HAM) Omah Munir di Kota Batu bakal jadi museum HAM pertama yang ada di Asia Tenggara.

Keseriusan pembangunan juga dibuka dengan sayembara desain museum HAM Omah Munir yang sudah dibuka sejak 24 September hingga 10 November 2018 mendatang. 

Sayembara ini telah diluncurkan oleh Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) wilayah Malang. 

“Pertama di Asia Tenggara, di Kamboja ada tetapi Museum tentang Pembantaian genosida. Yang membedakan ini berupa eksebisi ada fitur lainnya,” kata Panitia IAI Malang Mohammad Chotob.

Ia menjelaskan pada tahun 2016 Omah Munir pernah menghubungi IAI membahas terkait dengan museumnya yang berada di Jalan Bukit Berbunga, Desa Sidomulyo, Kecamatan Batu.

Karena perkembangan dan atusias masyarakat tinggi, kapasitas menjadi masalah. 

“Mencoba untuk melakukan dan mengembangkan. Setelah dilihat di rumah nggak bisa dikembangkan harus cari tempat lain,” imbuhnya.

Lalu diadakannya lomba desain ini untuk menumbuhkan semangat dan menggugah para arsitek di Indonesia khususnya.

“Sebab ini museum bersama sehingga melibatkan orang banyak orang. Dibuka umum, dari Luar negeri sangat antuasias tapi juga harus menggandengan arsitek Indonesia,” ujar Chotob saat berada di Pendopo Balai Kota Among Tani. 

Plt kepala Dinas Pariwisata Kota Batu Imam Suryono, Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko (empat dari kanan), ketua yayasan Museum HAM Omah Munis Suciwati (tiga dari kanan), Imam Santoso (tiga dari kiri) bersama IAI Malang di Balai Kota Among Tani. (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)

Hadirnya museum ini juga untuk mewadahi segala hal tentang aktivitas ditegakkannya HAM, informasi serta menjadi wahana bagi masyrakat Indonesia terutama generasi muda Indonesia untuk meningkatkan awareness serta membumikan prinsip-prinsip HAM dalam kebidupan bermasyrakat

Bagi yang antusias tentunya harus melihat ketentuan peserta. Terdiri atas perseorangan dan kelompok. Tetapi bagi peserta yang berkelompok diperkenankan hanya ketua kelompok yang memiliki SKA Madya. 

Setiap kelompok boleh mengirimkan proposal atau karya lebih dari satu alternatif namun dalam pendaftaran yang berbeda.

Lalu bagi pemenang, karya yang dilombakan harus asli dan bukan hasil plagiasi baik secara keseluruhan maupun sebagian dari hasil karya orang. 

Juri yang digandeng pun tidak main-main. Antara lain dari seniman Butet Kartaredjasa dan Himawan, sejarawan oleh Andi Achdian, arsitek profesional Baskoro Tedjo, dan arsitek akademisi Tutut Subadyo. 

Tidak hanya itu saja, hadiah yang diperebutkan untuk tiga pemenang totalnya Rp 200 juta. 

“Dari total Rp 220 juta itu untuk perlombaan arsitek sekala Indonesia besar. Untuk juara I Rp 150 juta, Juara II Rp 50 juta dan Rp 20 juta,” ujarnya, Kamis (27/9/2018).

Museum Omah Munir yang bakal dibangun Pemprov Jatim bersama Pemkot Batu itu bakal dibangun menggunakan tanah milik Pemkot Batu di Jl Sultan Hasan Haim.

Luas tanah yang digunakan 2.000 meter persegi dengan dua lantai. Memiliki luas bangunan diperkirakan antara 1500-1750 meter.

Lalu bagaimana nasib rumah Omah Munir yang terletak di Desa Sidomulyo nantinya.

Nantinya akan dikembalikan semula layaknya rumah, sehingga nanti terfokuskan pada Museum HAM Omah Munir. 

Nantinya sayembara ini bakal diumumkan pemenangnya pada Desember 2018 mendatang.

Dengan demikian proses pembangunan bakal dimulai pada tahun 2019 mendatang. 

“Nantinya rumah dikembalikan seperti semula. Dan yang mengurus tetap dari Yayasan Omah Munir, sehingga rohnya nggak hilang,” jelas Chotob. 

Museum HAM Omah Munir itu akan menampilkan eksebisi tentang perjuangan HAM di Indonesia khususnya dan di dunia pada umumnya.

Ketua Yayasan Museum HAM Omah Munir menambahkan, selain sebagai media eksebisi akan diisi aktivitas program pendidikan HAM. 

“Ya melalui diskusi, lokakarya, penerbitan, perpustakaan, pelatihan serta kegiatan seni dan sebagainya,” ujar Suciwati.

Sementara itu, Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko mengatakan, penting bagi Indonesia memiliki komitmen meneggakan HAM. Untuk membuktikan prinsip HAM. 

“Ini tanahnya model pinjam pakai, meskipun nantinya sebagai pengurus dari Yayasan Omah Munir.  Tetapi ini akan menjadi museum negara. Yakni milik Pemprov Jatim dan Pemkot Batu yang akan dianggarkan dalam Anggaran Perubahan Belanja Daerah (APBD),” terang Dewanti.

“Segera apa yang direncanakan agar terwujudkan dengan cepat,” harapnya.

Tentunya hadirnya Museum HAM Omah Munir nanti menambah destinasi wisata baru di Kota Batu.

Sedang Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu Imam Suryono menjelaskan karena itu dalam waktu dekat Museum HAM Omah Munir melengkapi Kota Batu sebagai Kota Pariwisata yang sudah dikenal banyak wisatanya. 

“Ketika ada museum HAM di sini, wisatanya jadi lengkap. Bukan hanya mengucapkan terima kasih tapi mendukung yayasan Museum HAM Omah Munir,” ujar Imam. 

Editor : Heryanto
Publisher :
Sumber : Batu TIMES (JatimTimesNetwork)

Redaksi: redaksijatimtimes[at]gmail.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : redaksijatimtimes[at]gmail.com | redaksijatimtimes[at]gmail.com
Top