Kasihan, Anak SD Terinveksi HIV Dikucilkan Teman dan Warga

Ilustrasi
Ilustrasi

Sebut saja Gigih, si usianya yang masih sepuluh tahun dia harus mengalami perlakuan yang sangat menyakitkan, yakni dikucilkan oleh teman-teman sekolah. Hal ini bermula saat Gigih ketahuan sebagai pengidap HIV beberapa waktu lalu.

Menurut keterangan dari salah satu perangkat desa di tempat tinggahnya, NK (initial), belum diketahui dari mana siswa kelas IV SD ini tertular HIV.  Sebelumnya tidak ada yang tahu jika Gigih mengidap virus yang memakan kekebalan tubuh ini. 

Pada akhirnya kondisi Gigih tersebar luas di antara teman-teman dan orang tua murid di SD tempatnya menimba ilmu. “Sebenarnya anak ini sudah lama tidak masuk sekolah karena sakit. Beberapa hari lalu dia kembali ke sekolah,” tutur NK.

Saat Gigih kembali ke sekolah itulah terjadi aksi penolakan dari teman-temannya dengan menolak masuk ruang kelas.

Rupanya, sikap para murid ini atas saran orang tuanya yang ketakutan terhadap Gigih. Bahkan mereka mengancam, jika Gigih tetap sekolah di SD itu, mereka semua akan pindah sekolah. 

Mereka menuntut agar Gigih dikeluarkan dari sekolah, dan dipindahkan ke sekolah lain. “Jadi pilihannya dua, mempertahankan anak ini atau mempertahankan siswa yang lain,” keluh NK. 

Pelaksana Program Komisi Penggulangan Aids (KPA) Tulungagung, Ifada Nur Rohmaniah menyayangkan terungkapnya identitas Gigih. 

Menurutnya, KPA Tulungagung beserta perangkat desa dan para tenaga medis telah berusaha keras merahasiakan kondisinya. Namun rupanya ada saudara Gigih yang membocorkan kondisi anak ini.

“Kami tidak tahu motivasinya apa, mungkin benci atau karena apa. Tapi yang jelas dampaknya sangat buruk terhadap Gigih,” kata Ifada.

Gigih sendiri sebenarnya adalah anak angkat, kedua orang tuanya bekerja di Surabaya. Ia tinggal bersama neneknya di sebuah desa di Tulungagung. Selama ini Gigih juga rajin mengonsumsi Antiretroviral (ARV) untuk menekan jumlah virus di tubuhnya. 

Gigih baru saja menjalani operasi mata. Kondisinya belum pulih sepenuhnya, namun Gigih sudah mulai masuk sekolah. “Matanya memang masih bengkak, dan itu yang mungkin membuat wali murid lain ketakutan. Mereka yang melarang anak-anaknya masuk ke ruang kelas jika ada Gigih,” ungkapnya 

Banyak masyarakat Tulungagung masih kurang memahami HIV/AIDS. Akibatnya saat ada penderita yang terungkap identitasnya, maka yang terjadi stigmatisasi yang buruk. 

Mereka dijauhi dan dikucilkan, karena dianggap bisa menularkan penyakit. Karena itu KPA Tulungagung melakukan sosialisasi kepada warga, utamanya wali murid tempat Gigih bersekolah. 

KPA memberikan pemahaman bahwa HIV tidak bisa menular hanya dengan berdekatan, bahkan bersentuhan. “Waktu sosialisasi kami juga membawa ODHA (orang dengan HIV/AIDS, red) untuk memberikan testimoni. Supaya warga paham apa sebenarnya HIV/AIDS itu,” tegas Ifada.

Selain itu KPA juga melakukan pendampingan terhadap Gigih. Diharapkan bocah yang masih sekolah ini tidak sampai terganggu psikologinya. 

Selain itu Gigih juga dibimbing untuk menghadapi segala stigma karena kondisinya yang terlanjur terungkap. “Dan alhamdulillah, anak ini pembawaannya tetap ceria menghadapi semuanya. Sekarang dia diawasi oleh petugas medis dari Puskesmas,” pungkasnya.

 

 

Editor : A Yahya
Publisher : Aditya Fachril Admin
Sumber : TulungagungTIMES (JatimTimesNetwork)

Redaksi: redaksijatimtimes[at]gmail.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : redaksijatimtimes[at]gmail.com | redaksijatimtimes[at]gmail.com
Top