43 warga PSHT yang diamankan petugas melakukan deklarasi damai, Minggu (23/9/2018) (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)
43 warga PSHT yang diamankan petugas melakukan deklarasi damai, Minggu (23/9/2018) (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Menunjukkan itikad baik bukan sebagai Warga Perguruan Setia Hati Terate (PSHT) pembuat onar, 43 warga PSHT yang diamankan polisi melakukan deklarasi damai di halaman Polres Malang Kota, Minggu (23/9/2018).

Deklarasi damai tersebut juga merupakan bentuk bahwa warga PSHT mendukung kondusifitas dan kemananan di Kota Malang.

Baca Juga : Diduga Akibat Stroke, Tahanan Kasus Judi Polsek Klojen Meningal Dunia

Dalam deklarasi damai, terdapat enam poin yang dibacakan 43 anggota PSHT tersebut secara berulang-ulang diakhiri dengan mengucapkan NKRI harga mati.

Enam poin tersebut  pertama, siap menjaga situasi Kota Malang, yang aman dan kondusif.

Kedua, menolak perpecahan dan provokasi dengan isu SARA.

Ketiga, mendukung pemberantasan narkoba. Keempat, menolak segala bentuk ujaran kebencian dan adu domba. 

Kelima, seanantiasa patuh terhadap hukum dan perundang-undangan yang berlaku. Keenam,  siap mendukung pelaksanaan pemilu dan pilpres secara damai. 

Kabag Ops Polres Malang Kota, Kompol Sutantyo mengungkapkan sebelum mereka dibebaskan, mereka wajib melakukan deklarasi dan menulis surat pernyataan tidak akan lagi mengulangi perbuatannya lagi.

"Setelah itu, kartu identitas mereka yang sebelumnya diminta petugas kami serahkan ke walinya yang diwakili oleh Ketua PSHT Kota Malang. Karena mereka kan banyak yang berasal dari luar Kota Malang, sehingga tentu butuh waktu untuk mengumpulkan orangtua mereka," bebernya (23/9/2018).

Baca Juga : Aktor Senior Tio Pakusadewo Kembali Ditangkap karena Kasus Narkoba

Sementara itu, untuk 27 sepeda motor yang turut diamankan pasca konvoi semalam (22/9/2018), saat ini masih ada di Polres Malang Kota. 

Pasalnya banyak dari mereka yang tidak bisa menunjukkan kelengkapan surat kendaraan.

"Kalau helm yang juga diamankan sudah diambil masing-masing, namun kalau motor masih diamankan," jelasnya.

Sementara itu, untuk satu laporan resmi dari korban yang memang merasa dipukul oleh oknum warga PSHT, masih akan terus ditindaklanjuti petugas dengan penyelidikan. 

"Namun untuk lainnya karena tak cukup bukti, kami bebaskan. Tapi kalau nanti pelaku yang jelas memukul korban ketemu, pasti akan dilakukan penyidikan sesuai pasal 170 yang mengatur tentang sanksi hukum bagi para pelaku kekerasan terhadap orang atau barang di muka umum yang ancamannya lebih dari lima tahun," pungkasnya.