Tarian-Tarian Khas Mahasiswa UM Lengkapi Menu Kampung Warna-Warni Jodipan

Sep 23, 2018 14:45
3 mahasiswi Pendidikan Seni Tari dan Musik menampilkan tari Gambyong Pareanom dari Surakarta (Imarotul Izzah/Malang Times)
3 mahasiswi Pendidikan Seni Tari dan Musik menampilkan tari Gambyong Pareanom dari Surakarta (Imarotul Izzah/Malang Times)

MALANGTIMES - Sebelumnya, kampung warna-warni identik dengan kampung yang dikunjungi untuk tujuan foto-foto karena tempatnya yang menarik.

Baca Juga : Didi Kempot Gelar Konser Amal dari Rumah, Hanya 3 Jam Donasi Capai Rp 5,3 Milliar

Namun, hari ini, sejumlah 250 mahasiswa dari jurusan Seni Prodi Pendidikan Seni Tari dan Musik (PSTM) Universitas Negeri Malang (UM) serta 50 seniman Malang Raya malah menggemparkan kampung itu dengan tari-tarian. Tarian-tarian tersebut adalah tarian nusantara berjumlah 13 tarian.

Yang menampilkan adalah mahasiswa semester 5 prodi PSTM UM. 13 tarian tersebut antara lain tari dari jawa timur yaitu beskalan, remo, dan grebeg; tarian dari Surakarta yaitu Gambyong Pareanom dan Gambir Anom; tarian dari Jogja yakni Golek Ayun-ayun; tarian dari Betawi yaitu Blantek; Tarian Sunda yaitu Aduh Manis dan Keser Bojong; serta tarian Bali yaitu Cendrawasih, Pendet, Margapati, dan Baris Tunggal.

Robi Fajriansyah, mahasiswa Pendidikan Seni Tari dan Musik angkatan 2015 menampilkan tarian Baris Tunggal dari Bali

Meski begitu, ada pula tari murni yang berasal dari kemauan diri sendiri dan tari spiritual yang dilakukan oleh mahasiswa PSTM angkatan 2016, 2017, dan 2018 serta penari senior yang ikut meramaikan acara.  

“Memang ini sebenarnya untuk ujian. Kita memilih di sini, bukan di panggung tertutup, agar mahasiswa terkoneksi dengan masyarakat,” ujar Dr. Robby Hidajat, M. Sn, koordinator acara sekaligus dosen Koreografi di jurusan PSTM.

Menurutnya, kegiatan ini berhubungan dengan pembelajaran masyarakat. Jadi mahasiswa lompat dari pagar perguruan tinggi.

Padahal biasanya hasil belajar seperti ini hanya ditonton oleh dosen untuk kemudian dinilai. Tidak ada koneksi dengan masyarakat.

Baca Juga : SBY Persembahkan 'Cahaya Dalam Kegelapan', Lagu Bagi Para Pejuang Covid-19

“Kalau diteruskan (mahasiswa belajar di kampus saja) ini tidak menguntungkan. Jangan-jangan nanti perguruan tinggi ketinggalan inovasi. Sedangkan materi yang dipelajari mahasiswa harus terkoneksi dengan masyarakat,” terang Robby.

Untuk itu, kegiatan berbaur dengan masyarakat ini perlu. Salah satunya untuk membekali mentalitas mahasiswa supaya tidak hanya menjadi artis yang menerima panggilan manggung. Akan tetapi juga mampu mengekspresikan diri.

Lantas, mengapa memilih kampung warna-warni? Robby beranggapan bahwa kampung ini butuh untuk dikuatkan keseniannya. 

“Kalau tidak maka akan kering. Orang datang hanya untuk foto-foto di mural kemudian tidak datang lagi. Padahal bagus kalua ada acara semacam ini. Apalagi kalua bisa diagendakan,” terangnya.

Salah satu penari Robi Fajriansyah menampilkan Tari Baris Tunggal. Khas tarian bali, ia tampil dengan mata melotot melihat tajam ke segala arah. Menurutnya, tarian itu memiliki fisosofi prajurit dari Bali.

“Orang Bali kan biasanya kental budaya dan agamanya. Suatu ketika dia (orang Bali itu) ingin mempertahankan istananya. Akhirnya dia mempelajari tari ini karena ingin mempertahankan istananya tersebut,” terang Robi.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik
Kampung warna warniSeni Prodi Pendidikan Seni Tari dan MusikTarian Tarian Khas Mahasiswa UMseniman Malang Rayatarian nusantara

Berita Lainnya

Berita

Terbaru