Cut Meutia (Ist)

Cut Meutia (Ist)



MALANGTIMES - Sisi kehidupan manusiawi yang kerap tenggelam dalam derap revolusi ternyata menyimpan nilai-nilai besar yang tak usang ditelan zaman. Walau mungkin terbilang klasik atau bahkan disebut baper -dengan istilah sekarang-, sisi emosi manusia selalu menarik untuk dipelajari. 

Sebut saja satu contoh mengenai pergulatan batin Teuku Muhammad atau lebih dikenal sebagai Teuku Tjik Tunong saat dirinya ditangkap dan dijebloskan ke penjara,  sebelum dieksekusi tembak mati di tepi pantai Lhokseumawe,  Aceh, 1905.

Dalam berbagai literatur, dikisahkan Tjik Tunong menerima kedatangan orang-orang yang sangat dicintainya sebelum dieksekusi. Yakni istri dan anaknya yang masih berusia balita. Pertemuan yang melibatkan emosi dan menguras air mata karena itulah pertemuan terakhir mereka sebelum timah panas mengakhiri hidup Tjik Tunong. 

Tjik Tunong yang gembira atas kedatangan orang-orang yang dicintainya mengulurkan jemari di balik jeruji. Bibirnya tersenyum bahagia dan matanya berbinar. Dia tahu ini adalah pertemuan terakhirnya. Jemari Tjik Tunong dengan segera diraih oleh istrinya, seakan tak mau melepaskan. 

Isak yang coba ditahan oleh dua manusia yang saling mencintai itu akhirnya jebol juga. Mata mereka basah oleh air mata. Apalagi saat melihat sang anak yang dinamakan Raja Sabi terlihat bahagia menatap ayahnya. Raja Sabi yang masih balita tidak pernah tahu bahwa itulah hari terakhir dirinya melihat sang ayah. 

"Ini pesan dan wasiatku,  istriku. Teruskan perjuangan melawan Belanda, " ucap Tjik Tunong kepada sang istri, yang tak lain adalah pahlawan nasional Cut Nyak Meutia. Permintaan itu dijawab Cut Nyak Meutia dengan kesanggupan menjalankan wasiat tersebut. 

Wasiat kedua, setelah segala emosi yang mengharu biru menghantam dadanya, Tjik Tunong berkata, "Setelah aku mati, menikahlah dengan Pang Nanggroe. Sahabat dan rekan kita selama melawan penjajah. Agar kau,  istriku, memiliki rekan hidup dalam melanjutkan peperangan, " ucapnya, lalu tersenyum ikhlas. 

Cut Meutia semakin tenggelam dalam kesedihan mendengar wasiat terakhir lelaki yang dicintainya tersebut. Walau dia sangat memahami wasiat tersebut, mengikhlaskan sang istri untuk menikah lagi adalah sesuatu yang tentunya membutuhkan kejernihan pikir dan kebesaran hati. Cut Meutia paham bahwa semua hal tersebut untuk tujuan besar dan mulia. Membela tanah tumpah darah kelahiran,  mengusir penjajah yang telah menginjak-injak kedamaian dan kemerdekaan tanah Aceh. 

Maka, seberat apa pun wasiat tersebut,  Cut Meutia akhirnya menyanggupinya. “Saya berjanji, saya akan mematuhi wasiatmu. Demi cintaku padamu, demi sayangku kepada putra kita Raja Sabi dan demi keyakinanku akan meneruskan perjuangan melawan Belanda, sepeninggalmu kelak,” ucapnya dengan air mata yang masih berjatuhan dari sepasang matanya.  

Cut Meutia atau Tjoet Nyak Meutia (Keureutoe, Pirak, Aceh Utara, 1870 – Alue Kurieng, Aceh, 24 Oktober 1910) akhirnya menikah dengan Pang Nanggroe. Mereka kembali bertempur melawan Belanda dan bergabung dengan pasukan lainnya di bawah pimpinan Teuku Muda Gantoe. 

Dalam sebuah pertempuran sengit melawan Korps Marechausée di Paya Cicem, Cut Meutia dan para wanita melarikan diri ke dalam hutan karena terdesak. Sisa pasukan yang bertahan, salah satunya Pang Nanggroe,  terus melakukan perlawanan agar para pejuang wanita bisa selamat dan bersembunyi dari gempuran pasukan Belanda. Pang Nanggroe pun akhirnya tewas pada 26 September 1910 dalam pertempuran tersebut. 

Cut Meutia yang mendengar suami keduanya juga tewas di tangan Belanda hancur hatinya. Tetapi, tekadnya berjuang melawan penjajah tidak membuatnya larut dalam kesedihan panjang. Pesan dan wasiat Tjik Tunong yang telah disanggupinya  menjadi bara untuk melanjutkan perjuangan. 

Bersama sisa-sisa pasukannya, pahlawan nasional Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Presiden Nomor 107/1964 Tahun 1964 itu terus mengobarkan peperangan. Merampas berbagai pos kolonial sambil terus bergerak menuju Gayo. Hutan belantara menjadi area tempur sekaligus rumah bagi Cut Meutia yang gugur saat bentrok dengan Marechausée di Alue Kurieng. 

Pejuang perempuan yang cintanya harus selalu berguguran di tengah desing peluru pertempuran. Anak bangsa yang mampu menaruh segala perasaan pribadinya untuk kepentingan yang lebih besar,  yaitu bebasnya tanah tumpah darah dari cengkeraman kuku penjajah. (*)

 

End of content

No more pages to load