Cula Badak Diburu untuk Obat Tradisional ternyata Hanya Mitos, Ini Penjelasannya

Salah satu pengunjung sedang memberikan makanan kepada badak putih milik Batu Secret Zoo Jatim Park 2, Sabtu (22/9/2018). (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)
Salah satu pengunjung sedang memberikan makanan kepada badak putih milik Batu Secret Zoo Jatim Park 2, Sabtu (22/9/2018). (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)

MALANGTIMES - Masalah klasik yang selalu jadi topik bahasan saat memperingati Hari Badak Sedunia pada 22 September adalah perburuan cula badak. Konon, cula badak diambil karena dipercaya sebagai obat tradisional.

Hal ini menjadi perhatian serius Yayasan Badak Indonesia (YABI), Batu Secret Zoo dalam Talkshow bertajuk ‘Yuk, Kita Kenali Badak Kita’ di Khazanah Museum Satwa Jatim Park 2.

Kenyataanya memang cula badak memiliki beberapa manfaat. Sebab dari hasil penelitian  membuktikan cula badak mengandung keratin. 

“Keratin ini merupakan protein yang sama untuk membentuk kuku dan rambut manusia. Tetapi tidak ada bukti ilmiah yang mendukung kandungan obat dalam cula badak,” kata Nuke Arincy, staf komunikasi dan Informasi YABI.

Dalam penelitian memang tidak ada bukti ilmiah yang mendukung bahwa cula badak bisa dijadikan obat.

Sementara itu, drh Prista Dwi Restanti, dokter hewan Batu Secret Zoo Jatim Park 2 menambahkan usai melakukan pemburuan pada badak, cula-cula itu diexport ke salah satu negara. 

“Yang kemudian cula itu diolah menjadi obat. Tetapi itu hanya sebuah mitos belaka saja, kan itu cukup disayangkan sekali,” ungkap Pristia

Padahal konservasi badak menjadi hal yang cukup penting. Selain perusakan habitat, perburuan cula badak adalah ancaman yang cukup serius. 

Karena itulah, Batu Secret Zoo merupakan lembaga konservasi yang turut membantu pelestarian satwa, salah satunya adalah badak.

“Bahkan, Batu Secret Zoo adalah satu-satunya kebun binatang di Indonesia yang memiliki 2 spesies badak, yakni badak India dan badak putih,” imbuhnya.

Untuk mendukung langkah tersebut, Batu Secret Zoo mendatangkan Badak India jantan bernama Bertusyang secara taksonomi memiliki hubungan kekerabatan yang dekat dengan badak Jawa (badak endemic Indonesia) yang hanya ada di Ujung Kulon. 

Ia menambahkan di dunia sendiri ada 5 spesies badak. 

Selain badak India dan badak Jawa, di dunia ini masih ada 3 spesies badak lain, yaitu badak putih dan badak hitam dari Afrika dan badak Sumatera, Indonesia.

“Sedang populasi badak Sumatera hanya berkisar antara 80 ekor saja dan jumlah ini cukup mengkhawatirkan sekali,” tutup Prista. 

 

Editor : Heryanto
Publisher :

Redaksi: redaksijatimtimes[at]gmail.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : redaksijatimtimes[at]gmail.com | redaksijatimtimes[at]gmail.com
Top