A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: fopen(/home/malangtimes.com/public_html//laksamana/ci_sessionrj9go3kgi3e32of19k8car50rt2cn613): Failed to open stream: No space left on device

Filename: drivers/Session_files_driver.php

Line Number: 177

Backtrace:

File: /home/malangtimes.com/public_html/application/controllers/News.php
Line: 10
Function: __construct

File: /home/malangtimes.com/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: session_start(): Failed to read session data: user (path: /home/malangtimes.com/public_html//laksamana)

Filename: Session/Session.php

Line Number: 137

Backtrace:

File: /home/malangtimes.com/public_html/application/controllers/News.php
Line: 10
Function: __construct

File: /home/malangtimes.com/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

Semeru Alami Peningkatan Erupsi 90 Hari Terakhir, Dalam 6 Jam sampai 47 Kali - Malang Times
Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Peristiwa

Semeru Alami Peningkatan Erupsi 90 Hari Terakhir, Dalam 6 Jam sampai 47 Kali

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : Yunan Helmy

12 - Jun - 2024, 18:47

Placeholder
Erupsi Gunung Semeru Rabu (12/6) pukul 08.50 pagi. (Foto: laman resmi PVMBG)

JATIMTIMES - Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, mengalami peningkatan letusan atau erupsi dalam 90 hari terakhir. Peningkatan tersebut digambarkan dalam grafis yang dirilis oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). 

Dalam grafis kegempaan Semeru menunjukkan periode 10-11 Juni 2024 mengalami letusan terbanyak selama 90 hari terakhir. Termasuk guguran dalam periode tersebut juga paling tinggi selama 90 hari terakhir. Berikut ini grafis kegempaan Semeru, yang diunduh pada Rabu (12/6). 

Grafis kegempaan Semeru 90 hari terakhir. (Foto: laman resmi PVMBG)

Grafis kegempaan Semeru 90 hari terakhir. (Foto: laman resmi PVMBG)

Baca Juga : Cegah Aksi Penyelundupan, Polisi Periksa Kendaraan Barang di Pelabuhan Jangkar Situbondo

Sementara itu, update Rabu (12/6) periode pukul 12.00 hingga 18.00 WIB, terjadi 47 kali gempa letusan atau erupsi. Erupsi selama 6 jam itu tercatat memiliki amplitudo 10-23 mm, dan lama gempa 68-147 detik.

"4 kali gempa hembusan dengan amplitudo 4-8 mm, dan lama gempa 42-57 detik. Serta 1 kali harmonik dengan amplitudo 2 mm, dan lama gempa 484 detik," demikian laporan Yadi Yuliandi, pada Rabu (12/6) pukul 18.13 WIB.

Selain itu, PVMBG  mengeluarkan kode Volcano Observatory Notice for Aviation (VONA) dengan warna ‘oranye’. Kode oranye berarti gunung api mengalami erupsi dengan ketinggian kurang dari 6.000 meter di atas permukaan laut. 

Kode VONA oranye juga menunjukkan bahwa abu yang dikeluarkan gunung api, intensitasnya rendah. VONA oranye juga diartikan abu letusan gunung bisa berpotensi memengaruhi penerbangan. 

Diketahui, laporan VONA biasanya berisikan informasi waktu letusan, tinggi letusan serta warna abu. Status VONA dapat menjadi petunjuk bagi bandara untuk melihat sebaran abu di udara beberapa saat setelah gunung meletus. 

Adapun erupsi Semeru yang terdeteksi paling anyar terjadi pada sore ini, sekitar pukul 18.13 WIB. Visual letusan tidak teramati karena tertutup kabut. Saat berita ini ditulis, erupsi masih berlangsung.

Sebelumnya, dalam rilis resmi Kementerian ESDM mengungkapkan bahwa aktivitas Gunung Semeru masih rentan dengan awan panas dan guguran lava masih terjadi. Namun secara visual jarang teramati karena terkendala dengan cuaca yang berkabut. 

Selain berpotensi terjadi awan panas, Gunung Semeru juga rentan terjadi aliran lahar. Mengingat curah hujan yang cukup tinggi di Gunung Semeru. Akumulasi material hasil erupsi (letusan dan aliran lava) berpotensi menjadi guguran lava pijar, atau pun awan panas. 

Baca Juga : Kisah Umar bin Khattab Marah pada Seekor Kuda Beban

Material guguran lava dan atau awan panas yang sudah terendapkan di sepanjang aliran sungai yang berhulu di puncak G. Semeru, juga berpotensi menjadi lahar jika berinteraksi dengan air hujan. 

Selain itu, interaksi endapan material guguran lava atau awan panas yang bersuhu tinggi dengan air sungai  berpotensi terjadinya erupsi sekunder. 

Karena status Gunung Semeru masih berada di level III atau siaga, petugas juga mengimbau agar masyarakat tidak melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 km dari puncak (pusat erupsi). 

"Di luar jarak tersebut, masyarakat tidak melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak," imbau Yadi. 

Selain itu, Yadi meminta masyarakat agar tidak beraktivitas dalam radius 5 km dari kawah/puncak gunung api Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar).

"(masyarakat diharapkan) Mewaspadai potensi awan panas guguran (APG), guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak gunung api Semeru. Terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan," pungkas Yadi. 


Topik

Peristiwa Gunung Semeru Semeru erupsi Semeru letusan gunung berapi



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

Yunan Helmy