A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: fopen(/home/malangtimes.com/public_html//laksamana/ci_sessionkfv0mbcs2niqbm8062o1172fp8smkvq2): Failed to open stream: No space left on device

Filename: drivers/Session_files_driver.php

Line Number: 177

Backtrace:

File: /home/malangtimes.com/public_html/application/controllers/News.php
Line: 10
Function: __construct

File: /home/malangtimes.com/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: session_start(): Failed to read session data: user (path: /home/malangtimes.com/public_html//laksamana)

Filename: Session/Session.php

Line Number: 137

Backtrace:

File: /home/malangtimes.com/public_html/application/controllers/News.php
Line: 10
Function: __construct

File: /home/malangtimes.com/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

Akademisi, Jurnalis, hingga Praktisi Hukum di Malang Kritisi Ancaman RUU Penyiaran - Malang Times
Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Peristiwa

Akademisi, Jurnalis, hingga Praktisi Hukum di Malang Kritisi Ancaman RUU Penyiaran

Penulis : Prasetyo Lanang - Editor : Yunan Helmy

11 - Jun - 2024, 16:59

Placeholder
Diskusi Waspada Ancaman RUU Penyiaran di Kafe Pustaka Universitas Negeri Malang. (Foto: Prasetyo Lanang/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Rancangan Perubahan Undang-Undang Penyiaran (RUU Penyiaran) yang digulirkan DPR RI sejak awal tahun 2024 masih menjadi sorotan publik hingga kini. Akademisi, praktisi hukum, dan jurnalis di Malang mengkritisi rancangan tersebut melalui diskusi hangat NgAJI Waspada Ancaman RUU Penyiaran di Kafe Pustaka Universitas Negeri Malang (UM), Selasa (11/6/2024).

Diskusi kolaborasi Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Malang dan Ilmu Komunikasi UM itu melibatkan mahasiswa, masyarakat sipil, akademisi dan praktisi jurnalis. Sebagai pemantik, tampil dosen Ilmu Komunikasi UM Yuventia Prisca Diyanti, Koordinator YLBHI LBH Pos Malang Daniel Alexander Siagian, dan Ketua AJI Malang Benni Indo.

Baca Juga : Satresnarkoba Polres Tuban Ungkap 6 Kasus Narkotika dan 7 Tersangka

Dalam diskusi itu, pembatasan-pembatasan dalam RUU Penyiaran terbaru menjadi sorotan serius. Di antaranya pelarangan penayangan jurnalistik investigasi hingga tumpang tindih penyelesaian sengketa jurnalistik.

Dosen Ilmu Komunikasi UM Yuventia Prisca Diyanti menyoroti dampak krusial pada pers dan publik. Yakni konsekuensi adanya UU Penyiaran terbaru akan menjadikan media  sebatas reportase berita acara kepolisian karena ada pembatasan opini publik pada penyelidikan penegak hukum.

"Ada larangan penyiaran investigasi. Padahal sudah jadi sumber utamanya penegak hukum. Kita tahu bahwa ada keleluasaan kemampuan jurnalistik yang bahkan mendahului aparat, nantinya terblokir," ujar Yuventia.

Ia beranggapan, hakikatnya media menjadi mitra bagi masyarakat sebagai kanal penghubung. Yakni kepada publik dan negara. Keberadaan pers yang berkualitas menurut dia adalah wujud demokrasi yang sehat.

"Peran media di situ. Pers dikatakan pilar keempat demokrasi. Representasi masyarakat, agar tidak terjadi abuse of power. Kita akan tahu penggelapan, transparansi kekuasaan, serta pers punya oeran pendidikan nalar publik," imbuhnya.

Koordinator YLBHI LBH Pos Malang Daniel Alexander Siagian menyampaikan, dengan RUU ini akan terjadi pelemahan masyarakat sipil untuk mendapatkan hak informasi, khususnya kebenaran.

"Penyiaran pers yang jadi wadah pendidikan publik sengaja dilemahkan secara sistemik. Ini problem krusial dari beberapa tahun terakhir. Produk  hukum yang ada tidak ada pendekatan berperspektif hak asasi manusia," kata Daniel.

RUU ini, menurut Daniel, juga mengancam kebebasan berekspresi dan jurnalisme. Salah satunya melalui pasal 50B ayat 2. Padahal karya jurnalistik selama ini membantu penegakan hukum dan HAM. Ia mencontohkan tragedi Kanjuruhan di Malang, bahwa investigasi jurnalistik jauh memiliki langkah lebih ke depan dibandingkan yang dilakukan aparat kepolisian.

Baca Juga : Pendidikan Tinggi dan Kewirausahaan: Membentuk Ekosistem Inovatif

"Kanjuruhan misalnya, pelanggaran demokrasi didominasi oleh aparat negara. Media bagi kami kawan strategis. Investigasi media punya pola yang berbeda dengan aparat. Dalam hal ini fakta yang ditemukan tidak mampu dinafikan," jelasnya.

"Dengan pembungkaman kebebasan, pers tidak bisa secara luwes memberitakan pelanggaran. Salah satu yang tidak boleh dikooptasi. Jika pers dan hak publik dilemahkan, ini bertentangan dengan asas pemerintahan yang baik. Salah satunya partisipasi bermakna," imbuh Daniel.

Sementara, Ketua AJI Malang Benni Indo mengutarakan sejumlah data tentang kekerasan terhadap jurnalis. Di seluruh Indonesia, demokrasi Indonesia memiliki catatan buruk tentang kebebasan pers.

"Indeks demokrasi Indonesia sedang turun. Contoh kasus Kanjuruhan, teman teman jurnalis menyaksikan peristiwa terjadi, lalu ada upaya pembungkaman dan menakuti. Dari kekerasan fisik, pelarangan liputan dan lainnya. Kita sebagai jurnalis sudah sulit dengan adanya UU ITE, padahal kita punya naungan UU Pers," ujar Benni.

Ia menyoroti keharusan muatan penyiaran jurnalistik untuk sesuai P3 SIS dan ketentuan perundangan. Hal ini dinilainya sangat merugikan jurnalis yang hendak menyampaikan fakta sebenarnya. Selain itu, sengketa jurnalistik penyiaran akan ditangani KPI dengan adanya RUU ini. 

Benni mengajak bersama-sama masyarakat sipil, aktivis, akademisi, jurnalis dan publik yang merasakan konten digital untuk tegas menolak. "Maka RUU ini harus ditolak agar tidak ada pembungkaman demokrasi termasuk masyarakat sipil. Karena ini mengatur platform penyiaran digital, bertentangan dengan UU Nomor 40 Gahun 1999 tentang pers. Membatasi hak publik mendapatkan informasi yang benar," tegasnya.


Topik

Peristiwa RUU Penyiaran ancaman RUU Penyiaran tolak RUU Penyiaran



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Prasetyo Lanang

Editor

Yunan Helmy