Agus Djaja (Ist)

Agus Djaja (Ist)



MALANGTIMES - Di eranya,  sekitar tahun 1946-an, Agus Djaya yang bernama lengkap Raden Agoes Djajasoeminta (1913-1994), dengan santainya meletakkan karir militernya. Agus bersama saudaranya, Raden Otto Djaja, memilih menjadi seorang pelukis dibandingkan karir militernya yang bila diteruskan bisa sampai jenderal. 

Pilihan meletakkan jabatan militer dan meninggalkan Indonesia yang baru sekitar setahun merdeka ke Negeri Tulip, Belanda,  inilah yang akhirnya membuat Agus dan Otto diolok-olok dan dicap sebagai pengkhianat. 

Saat revolusi kemerdekaan masih terus berkobar,  mereka malah hengkang dan terbang ke negara penjajah. Mereka ke Belanda atas undangan Gubernur Jenderal Hubertus van Mook yang memberikan beasiswa Malino bagi para pelajar Indonesia untuk belajar berbagai ilmu pengetahuan.

Keberangkatan mereka dengan meletakkan senapan perang melawan Belanda inilah yang membuat mereka menjadi sasaran bully di berbagai media masa saat itu. Bahkan, dalam satu majalah seni, mereka dianggap antek Van Mook. Begitulah asumsi yang berkembang saat itu. 

Lantas. benarkah Djaja bersaudara yang namanya sampai saat ini dikenal sebagai pelukis besar Indonesia dan repro lukisannya mengisi buku koleksi Presiden Soekarno ini adalah pengkhianat? 

"... Untuk ikut berjuang tak harus pakai senjata. Dengan pensil dan kuas cat pun yang menghasilkan karya, itu sudah termasuk perjuangan,” kata Aminuddin TH Siregar, kritikus seni cum kandidat doktor sejarah seni Universitas Leiden, Belanda, seperti dilansir Hostoria, Kamis (6/9/2018) lalu. 

Cemoohan terhadap Djaja bersaudara yang takut berperang sebenarnya tidak tepat dikenakan kepada mereka. Pasalnya,  baik Agus maupun Otto pernah menjadi bagian tentara PETA (Pembela Tanah Air) di masa pendudukan Jepang. Keduanya juga pernah berada di divisi Siliwangi pasca-kemerdekaan.  Agus sempat menyandang pangkat kolonel intel dan FP (persiapan lapangan). Sedang Otto tahun 1946 sudah berpangkat mayor. 

Amir Sidharta, kurator Istana Kepresidenan dan Museum Universitas Pelita Harapan, menyatakan kegelapan sejarah Djaja bersaudara yang dianggap pengkhianat bangsa. Menurut dia,  berbagai kecaman,  cemoohan, dan stempel negatif kepada keduanya adalah taktik jitu sang Presiden Soekarno. 

"Itu taktik pengalihan saja. Sebenarnya keberangkatan mereka atas restu Presiden Soekarno yang memberi misi khusus. Yaitu sebagai mata-mata mengawasi Belanda langsung. Dan itu berhasil diemban oleh mereka," ujar Amir. 

Pernyataan Amir didasarkan pada beragam piagam dari Kementerian Pertahanan RI. Dalam buku berjudul 'Agus Djaja dan Sejarah Seni Lukis Indonesia' karya Solichin Salam dituliskan, piagam tersebut salah satunya adalah  penghargaan atas perannya dalam intelligent service sebagai perwira (Divisi) Siliwangi terkait Agresi I (aksi militer Belanda terhadap Indonesia, 21 Juli 1947). 

"Ini penghargaan khusus, bukan seperti pada umumnya veteran pejuang lain,” ujarnya yang juga menegaskan, dari hasil komunikasi dengan Otto tahun 2002, mereka berangkat ke Belanda memang sebagai mata-mata seperti diperintahkan Soekarno. 

Tahun 1976, saat berpameran tunggal di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Agus sambil bergurau menertawakan dirinya sendiri. "Saya bekerja seni untuk seni dengan mengorbankan karir  sebagai calon jenderal," ucapnya lalu tertawa. (*)

End of content

No more pages to load