Tahan Kentut Picu Keram Perut, Ini Faktanya

Ilustrasi (thinkstock)
Ilustrasi (thinkstock)

MALANGTIMES - Sebagian besar dari kita tentu pernah dong menahan kentut saat berada di keramaian? Tetapi, setelah ini, lebih baik jangan lakukan itu ya guys. Sebaiknya kamu keluar dari kerumunan dan buanglah gas dalam perutmu itu agar perasaan lebih lega dan kesehatanmu tak terganggu.

Dalam fakta medis, saat seseorang menahan kentut, maka dapat menyebabkan distensi abdomen atau penumpukan zat di perut, yaitu gas. Penumpukan zat gas ini akan menyebabkan perut atau pinggang membesar, lebih dari ukuran normal.

Tak hanya itu. Menahan kentut ternyata juga dapat mengganggu sistem pencernaan, yaitu kembung. Itu lantaran gas alami yang seharusnya dikeluarkan tertahan dan akan membuat perut membuncit.

Selain itu, bahaya lain yang didapatkan saat menahan kentut adalah keram pada bagian perut. Sebab, ketika tidak segera dikeluarkan, gas tersebut dapat meledakkan dinding usus, menciptakan kantong atau tonjolan di lapisan mukosa usus yang disebut diverticula. Ketika kantong tersebut terinfeksi, penyakit yang disebut diverticulitis dapat mengancam nyawa seseorang.

Dari berbagai literatur kesehatan, diverticulitis dijelaskan sebagai jenis infeksi kecil dan kantong menonjol di saluran pencernaan. Kondisi tersebut dapat menyebabkan sakit perut parah, demam, mual, dan perubahan pada kebiasaan buang air besar.

Fakta lain menyatakan jika menahan gas dalam perut dapat mengakibatkan peritonitis, yaitu peradangan yang biasanya disebabkan oleh infeksi pada selaput rongga perut (peritoneum). Salah satu penyebab infeksi pada perut adalah menyebarnya bakteri atau jamur yang disebabkan luka atau adanya tumpahan kotoran usus. Besar kemungkinan, tumpahan itu terjadi karena berlebihan menahan kentut sehingga usus robek atau meledak dan menyebarkan isinya ke organ tubuh lain. 

Di sisi lain, kentut sebagai gas alami akibat proses pencernaan makanan dan minuman saat ditahan berlebihan dapat menyebabkan rongga usus mengalami tekanan parsial. Bila intensitasnya tinggi melebihi pembuluh darah pada dinding usus, bisa beredar ke seluruh organ tubuh sehingga akan mengalami keracunan gas. (*)

Editor : Yunan Helmy
Publisher : Raafi Prapandha

Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top