Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Serba Serbi

Membongkar Misteri Silsilah Soekarno, Benarkah Anak Pakubuwono X?

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : Yunan Helmy

06 - Jun - 2024, 12:37

Placeholder
Raja Surakarta Pakubuwono X dan Presiden RI pertama Ir Soekarno.(Foto: Ist)

JATIMTIMES - Bangsa Indonesia selama ini mengenal Soekarno sebagai proklamator dan presiden pertama Republik Indonesia.Namun, di balik kehebatannya dalam memimpin perjuangan kemerdekaan, misteri mengenai asal-usulnya masih mengemuka. Apakah benar Soekarno adalah anak  Pakubuwono X, raja  Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat?

Menurut versi yang diperkenalkan dalam sebuah seminar bertajuk “Bung Karno sebagai Pewaris Zamannya” tahun 2019 silam, Prof Dr Toeti Heraty Roseno menyebutkan bahwa Soekarno memiliki silsilah yang berbeda dari yang selama ini kita kenal.

Baca Juga : Tanggapi Namanya di Jajaran Teratas Polling Online JatimTimes, Krisdayanti: Jadi Indikator

 Menurut Toeti,  dalam sebuah buku berjudul “Pakubuwono X, 46 Tahun Berkuasa di Tanah Jawa” karya Prof Gunawan Sumodiningrat dan Ari Wulandari, disebutkan bahwa Soekarno adalah putra Pakubuwono X dengan seorang perempuan Bali bernama Ida Ayu Nyoman Rai.
Dalam lembaran sejarah yang tercatat, muncul sebuah pertanyaan yang menggelitik: mengapa dalam catatan sejarah resmi, ayah Soekarno tertera sebagai Raden Soekemi Sosrodihardjo? 

Kabarnya, menurut penasihat spiritual Keraton Surakarta, langkah tersebut diambil untuk menjaga keamanan Soekarno. Pakubuwono X, raja bijaksana dari Keraton Surakarta, telah merencanakan dengan cermat bahwa suatu saat nanti, Soekarno akan menjadi pemimpin yang akan mengusir penjajah dari tanah air, sesuai dengan pesan leluhurnya, Pakubuwono VI.

Pakubuwono VI, raja Kasunanan Surakarta Hadiningrat, terjebak dalam kontrak politik dengan Belanda. Tetapi nuraninya memimpinnya ke jalan lain. Meskipun Keraton Surakarta tetap patuh pada kesepakatan dengan Belanda, Pakubuwono VI secara diam-diam mendukung perjuangan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa.

Lahir sebagai Raden Mas Sapardan pada 1807, Pakubuwono VI naik takhta pada usia 16 tahun setelah ayahnya meninggal. Dalam masa kepemimpinannya, Perang Jawa yang dipimpin Pangeran Diponegoro menciptakan dilema moral bagi Pakubuwono VI. Meskipun berkolaborasi dengan Belanda secara tersembunyi, ia memberikan dukungan kepada Pangeran Diponegoro.

Namun, pada tahun 1830, Pangeran Diponegoro tertangkap dan diasingkan. Sementara Belanda mulai mencurigai Pakubuwono VI. Mereka menangkap orang kepercayaannya, Mas Pajangswara, yang tetap bungkam meskipun disiksa. Akhirnya, Pakubuwono VI sendiri ditangkap dan diasingkan ke Ambon, tempat ia meninggal pada tahun 1849.

Kematian Pakubuwono VI awalnya dilaporkan sebagai kecelakaan laut, namun kemudian terungkap sebagai hasil luka tembak. Pengungkapan ini muncul saat makamnya dibongkar pada tahun 1957 untuk dipindahkan ke Imogiri, Yogyakarta. Pada tahun 1964, Presiden Soekarno mengangkatnya sebagai pahlawan nasional, mengakui peran pentingnya dalam sejarah Indonesia.

Kembali membahas silsilah lain Bung Karno. Kisah yang tidak tercatat dalam buku sejarah menyebutkan bahwa saat Ida Ayu Nyoman Rai mengandung, beliau diungsikan ke Surabaya, ditemani oleh abdi setianya yang setia, Raden Soekemi Sosrodihardjo. Atas perintah tegas Pakubuwono X, Raden Soekemi Sosrodihardjo menikahi Ida Ayu Nyoman Rai dan diberi tanggung jawab untuk menjaga Soekarno. Semua ini dilakukan untuk menghindari agar Belanda tidak mengetahui bahwa Soekarno adalah putra Pakubuwono X.

Kisah ini semakin menarik ketika terhubung dengan sumpah yang diucapkan oleh Pakubuwono VI ketika ditangkap oleh Belanda. Sumpah tersebut menyatakan bahwa tiga generasi setelahnya akan melahirkan keturunan yang akan mengusir Belanda dari Nusantara. Pakubuwono X dengan kesadaran mendalam akan perjuangan gigih Eyang Dalem Pakubuwono VI melawan penjajah, menyadari bahwa perjuangan ini harus diteruskan oleh generasi penerusnya. Dia punya keyakinan bahwa putranya akan mewujudkan sumpah tersebut.

Meskipun belum ada bukti yang cukup meyakinkan mengenai kebenaran cerita ini, banyak kalangan yang memercayainya sebagai perwujudan sumpah Pakubuwono VI. Kisah ini menjadi sebuah cerminan dari perjuangan bangsa Indonesia yang gigih dan tekad untuk meraih kemerdekaan.

Mengikuti sumpah yang diucapkan oleh Pakubuwono VI bahwa tiga generasi setelahnya akan melahirkan keturunan yang akan mengusir Belanda dari Nusantara, Pakubuwono X meyakini bahwa sudah saatnya perjuangan ini harus diteruskan. Maka, pada tahun 1900, sebagai seorang raja bijaksana, beliau mengambil keputusan besar dengan mengambil seorang selir bernama Ida Ayu Nyoman Rai, putri dari raja Buleleng.

Ketika Ida Ayu Nyoman Rai mengandung, Pakubuwono X mengambil langkah radikal dengan mengungsikannya ke Surabaya, didampingi oleh abdi setianya, Raden Sukemi Sosrodihardjo. Sukemi kemudian menggantikan posisi suami bagi sang putri Buleleng, sebagai bentuk pengabdian yang tulus kepada raja dan kerajaan.

Pakubuwono X yakin bahwa putranya yang akan lahir adalah pemimpin yang diamanatkan oleh Eyang Dalem Pakubuwono VI. Dia akan memimpin perjuangan memerdekakan bangsa Indonesia. Namun, perjuangan ini tidak bisa dilakukan di dalam keraton, karena pengawasan ketat Belanda sejak pengasingan Pakubuwono VI. Oleh karena itu, banyak perlawanan dilakukan oleh petinggi keraton di luar istana.

Pada tanggal 6 Juni 1901, lahir seorang putra dari Ida Ayu Nyoman Rai, yang diberi nama Koesno, dan yang kemudian dikenal sebagai Soekarno, Sang Proklamator dan presiden pertama Republik Indonesia.

Baca Juga : Angka Pernikahan Indonesia Menurun 28,63% dalam 10 Tahun Terakhir 

Menariknya, terdapat kesamaan dalam nama kecil antara Soekarno dan Pakubuwono X. Nama kecil Soekarno, yaitu Koesno, identik dengan nama kecil Pakubuwono X. Pakubuwono X sendiri memiliki nama lahir atau asma timur sebagai Gusti Raden Mas Sayyidin Malikul Kusna. Ia adalah putra Pakubuwana IX dan lahir pada tanggal 29 November 1866  dari permaisuri bernama Kanjeng Raden Ayu (KRAy.) Kustiyah, yang kemudian bergelar GKR Pakubuwana. Pada usia 3 tahun, Pakubuwono X telah ditetapkan sebagai putra mahkota dengan gelar Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Anom (KGPAA) Amangkunagara Sudibya Rajaputra Narendra ing Mataram VI.

Meskipun kisah ini belum terbukti kebenarannya secara definitif, banyak kalangan yang mempercayainya sebagai perwujudan sumpah Pakubuwono VI. Sumpah itu sendiri, “Hai penjajah, tunggulah 100 tahun lagi. Tiga generasi dari keturunanku akan mengusir kalian dari Bumi Pertiwi ini". Sumpah itu terbukti terwujud pada tahun 1949, ketika Belanda akhirnya tersingkir melalui perjuangan bangsa Indonesia di bawah pimpinan Soekarno.

Misteri mengenai silsilah Soekarno mungkin akan terus menjadi perdebatan. Namun yang jelas, Republik Indonesia beserta seluruh rakyatnya sangat berutang budi kepada Pakubuwono VI dan Pakubuwono X atas peran penting mereka dalam sejarah bangsa. Bahkan, tidaklah mengherankan jika pada akhirnya, Pakubuwono VI dan Pakubuwono X dianugerahi gelar Pahlawan Nasional sebagai penghormatan atas jasa-jasa besar mereka.

Fakta sejarah menegaskan, Keraton Surakarta sendiri memberikan kontribusi penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.  Menurut cerita dari keluarga Keraton Surakarta, GKR Wandansari Koes Moertiyah atau yang lebih dikenal dengan Gusti Moeng, sangat menekankan bahwa Pakubuwono X dalam hidupnya memberikan dukungan yang sangat penting, baik secara moril maupun materil, terhadap para pahlawan kemerdekaan. Gusti Moeng mengungkapkan bahwa sebagian besar pahlawan yang berjuang untuk kemerdekaan RI pada masa itu sebenarnya berasal dari lingkungan abdi dalem Keraton Surakarta.

”Sinuwun Pakubuwono X yang membiayai semua pahlawan itu untuk bergerak, mempersiapkan kemerdekaan. Bahkan dalam manifesto, anggota BPUPKI rata-rata merupakan abdi dalem Keraton Solo. Salah satunya Dr Rajiman,” ujar Gusti Moeng dalam percakapannya dengan VIVAnews di Solo pada tanggal 10 November 2009

Gusti Moeng juga menegaskan bahwa jejak Pakubuwono X menunjukkan bahwa perjuangannya tidak terbatas hanya di Jawa, melainkan juga meluas ke berbagai wilayah Nusantara, dari Sumatera hingga Ambon. ”Fakta sebenarnya, PB X itulah yang membiayai perjuangan Bung Karno, termasuk ketika Bung Karno dalam masa pembuangan dia diberi uang saku oleh PB X. Nggak mungkin, seorang Soekarno yang saat itu terbilang anak kecil bisa menghimpun kekuatan tanpa adanya sokongan dana dari sinuwun. Sayangnya, tidak ada sejarah yang menulis itu,” ungkapnya. 

Gusti Moeng juga menjelaskan bahwa Keraton Surakarta memiliki peran penting dalam sejarah berdirinya Republik Indonesia. PB X, sebagai raja di Keraton Surakarta yang menguasai pemerintahan pada masa itu, justru memberikan kesempatan bagi terbentuknya pemerintahan Indonesia. ”Dalam UUD 45, pemerintah mengakui bahwa pemerintahan Keraton Solo ada sebelum pemerintahan Indonesia," ucapnya dengan tegas.

Sebagai tambahan, Di masa penjajahan, Pakubuwono X, yang terkenal kaya l-raya dan dermawan, tak hanya memimpin pembangunan fisik di Surakarta Hadiningrat, tetapi juga diam-diam memobilisasi gerakan nasional untuk mewujudkan kemerdekaan Bangsa Indonesia. Ia memberikan dukungan besar kepada organisasi-organisasi baru seperti Budi Utomo dan Sarekat Islam, bahkan menjadi bagian dari pembentukan Budi Utomo.

Meskipun terikat oleh kontrak politik dengan Belanda, Pakubuwono X cerdik dalam perjuangannya. Dengan strategi jalan memutar, ia ikut mengikuti keinginan Belanda secara terbuka sementara secara diam-diam mendukung pergerakan nasional. Pengaruhnya membantu mengubah anggapan Budi Utomo dari "perkembangan harmonis negeri dan rakyat Jawa dan Madura" menjadi "Indonesia Merdeka". 

Melalui kunjungan-kunjungannya ke berbagai daerah, Pakubuwono X berhasil memperluas pengaruh dan mendapatkan dukungan untuk pergerakan nasional. Meskipun Belanda kadang curiga, Pakubuwono X selalu berhasil mendapatkan kembali kepercayaan mereka. Upaya besar dalam menanamkan jiwa nasionalisme akhirnya membuahkan hasil, membantu mewujudkan kemerdekaan Indonesia enam tahun setelah wafatnya. Kemerdekaan Indonesia berhasil diwujudkan oleh 'putranya', yaitu Ir Soekarno, yang juga dikenal sebagai Bung Karno.


Topik

Serba Serbi Bung Karno Soekarno sejarah Bung Karno Pakubuwono X Kerajaan Mataram Islam



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

Yunan Helmy