Kirab Rantang Lurik Jadi Ciri Khas Festival Kampung Tani Temas

Ratusan warga Kelurahan Temas menikmati makan bersama yang diletakkan rantang lurik usai kirab Festival Kampung Tani di area Kampung Tani Kelurahan Temas, Kecamatan Batu, Minggu (16/9/2018). (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)
Ratusan warga Kelurahan Temas menikmati makan bersama yang diletakkan rantang lurik usai kirab Festival Kampung Tani di area Kampung Tani Kelurahan Temas, Kecamatan Batu, Minggu (16/9/2018). (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)

MALANGTIMES - Tahu rantang lurik? Itu merupakan tempat untuk membawa nasi dan lauk-pauknya dengan corak berwarna hijau dan putih yang biasanya digunakan saat bertani di sawah. Nah, karena benda itu, ada Kirab Rantang Lurik dalam Festival Kampung Tani di area Kampung Tani Kelurahan Temas, Kecamatan Batu.

Awalnya peserta kirab sambil menggunakan pakaian khas kebaya dipadukan dengan jarik yang dipakai pendek dilengkapi dengan caping membawa rantang lurik. Totalnya ada 11 RW yang jumlahnya ada 650 orang yang melakukan kirab ini.

Usia melakukan kirab, seluruh warga ini berkumpul di area Bartani Kampung Tani. Di sana mereka secara bersamaan membuka rantang yang telah dibawa. Di dalam rantang itu tentunya ada makanan tradisional. Antara lain urap-urap sayuran diberi bumbu kelapa, sayur lodeh, lauk pauk tempe, tahu, beserta ayam.

Di sana mereka berkumpul dengan serempak memakan makan tersebut. “Cara ini bisa membuat guyub. Senang rasanya merasakan momen seperti ini. Sambil melestarikan adat yang pernah ada kita ciptakan kembali,” ujar Yulaikah, warga Kelurahan Temas.

Kirab rantang lurik ini digelar untuk melestarikan yang pernah ada, yakni membawa bekal dengan rantang lurik saat bertani di sawah. Namun seiring berjalannya waktu, tidak banyak petani yang masih melakukan hal tersebut.

Karena itu, digelarnya kirab rantang lurik ini untuk mengingat kembali kebudayaan yang lalu. Lurah Temas Bambang Hari Suliyan menjelaskan digelarnya kegiatan ini bertujuan agar tradisi tersebut tidak lengser. “Ya agar kebiasaan masa lampau ini masih tercipta, karena ini sudah menjadi hal yang mendarah daging,” kata dia, Minggu (16/9/2018).

Ternyata kegiatan ini menarik perhatian para mahasiswa asing yang mengikuti pertukaran pelajar. Seperti dari Somalia, Libya, Malaysia, dan China. “Para turis asing ini tertarik dengan kebudayaan kami,” imbuhnya.

Pria yang dikaruniai dua anak ini berharap ke depannya kegiatan tersebut bisa menarik perhatian wisatawan lokal dan mancanegara. Juga bisa mengembangkan hiburan yang khas dan menarik.

Terpisah, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu Imam Suryono menambahkan ke depannya bersama pihak kelurahan akan menyuguhkan tambahan kesenia kebudayaan yang lain. “Ke depannya pasti akan menambahkan kebudayaan yang berbeda. Ada penambahanlah pastinya,” ungkap dia.

Menurut Imam, digelarnya even seperti ini merupakan salah satu untuk melestarikan kebudayaan di setiap desa. Sebab, masing-masing desa memiliki kebudayaan khas tersendiri saat selamatan desa. “Karena memiliki sesuatu yang berbeda dan menarik bisa mendatangkan wisatawan lokal maupun mancanegara,” tambah Imam kepada BatuTIMES. (*)

Editor : Yunan Helmy
Publisher :

Redaksi: redaksijatimtimes[at]gmail.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : redaksijatimtimes[at]gmail.com | redaksijatimtimes[at]gmail.com
Top