Memedi Sawah Hantui Festival Kampung Tani Kelurahan Temas

Kreasi memedi sawah ditancapkan di area persawahan di Kelurahan Temas, Kecamatan Batu, Minggu (16/9/2018). (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)
Kreasi memedi sawah ditancapkan di area persawahan di Kelurahan Temas, Kecamatan Batu, Minggu (16/9/2018). (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)

MALANGTIMES - Beragam orang-orangan sawah disulap secara kreatif dalam Festival Kampung Tani tahun ke-5 di Kelurahan Temas, Kecamatan Batu. Kebudayaan khas Kelurahan Temas itu dilakukan saat berkah bumi selamatan kelurahan, Minggu (16/9/2018).

Mulanya orang-orangan sawah atau memedi sawah ini diarak menuju area kampung tani. Tidak hanya sekadar memedi sawah, tetapi juga dihiasi secara kreatif dan berbeda dari biasanya.

Memedi-memedi sawah ini dihias untuk dilombakan. Totalnya ada 11 RW yang mengikuti perlombaan memedi sawah. Ada yang dihias layak perayaan Halloween dan hantu-hantu yang cukup seram lainnya. 

Kemudian memedi sawah itu ditancapkan di area persawahan. Peletakannya sudah disiapakan untuk masing-masing RW. Memedi sawah itu ada yang terbuat dari jerami dan daun pisang. 

Lurah Temas Bambang Hari Suliyan mengatakan, memedi sawah ini hadir dalam berkah bumi karena memang ingin mengangkat masa lalu. Dulunya memedi sawah selalu ada untuk mengusir hama di sawah.

“Memedi sawah saat ini sangat jarang ada di persawahan, khususnya di Kelurahan Temas. Ada tapi kan jarang. Karena itu, kami angkat di festival kqmpung tani ini,” kata Bambang.

Ia menjelaskan, memedi sawah masa lalu selalu ada di area persawahan. Fungsinya untuk mengusir burung. Tetapi saat ini petani jarang menggunakan memedi. Petani Lebih memilih menggunakan alat yang memiliki bunyi suara.

“Sekarang petani-petani pakainya yang benang lalu diberi kaleng susu bekas. Jadi, ketika burung datang, benang itu ditarik dan berbunyi sehingga membuat burung takut dan pergi,” jelasnya.

Karena itu, Bambang menilai, festival kampung tani menggelorakan adat tradisional agar bisa kembali diangkat dan tidak meninggalkan kebudayaan yang sudah dibangun.

Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko menambahkan, acara seperti fesstival kampung tani yang sudah lima kali digelar ini kelas pariwisatanya bisa di golongan kelas nasional. “Kita lihat tadi. Acara seperti itu  kelas pariwisata nasional. Justru bisa international dan mendunia. Orang luar negeri past suka dengan seperti ini. Menarik karena kembali ke desa dan alam dan bagus untuk dijadikan wisata,” ungkap dia.

Karena itu, ke depannya even seperti itu bisa dikembangkan. Panitia bisa berkoordinasi dengan pihak travel agent untuk dijual sebagai paket wisata. 

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu Imam Suryono menambahkan, acara festival kampung tani merupakan kegiatan sangat bagus. Tetapi masih ada beberapa kekurangan yang tentunya ke depan diperbaiki kerja samanya dengan desa supaya lebih baik. 

“Ke depan akan kami tambah lagi dengan seni budaya. Dan ada tambahan paketan wisata karena di sini wisatanya sudah ada penginapan, wisatawan bisa menikmati lebih dari satu hari,” jelas Imam. 

Acara berkah bumi ini juga diramaikan dengan berdoa bersama dan rebutan sedekah bumi, tumpeng yang disusun dari sayuran. Lalu juga ada bantengan, kembul rantang lurik, kuda lumping, hingga tarian sanduk masal.

Acara festival kampung tani dilaksanakan tiap akhir pekan sejak 8-9 September, 15-16 September, dan 22-23 September 2018 di Kampung Wisata Tani, Kelurahan Temas, Kecamatan Batu.

Rinciannya pada 8 September ada rembuk budaya Jawa Timur, pentas TPQ, dan bartani kopi kotekan. Kemudian pada 9 September dilanjutkan dengan Temassae huyub rukun, lomba tahun baru Islam (tabais), dan bartani kopi kotekan (unek-unek). 

Lalu pada 15 September dilaksanakan Jagong Temassae, ngliwet anglo, pentas teater Jawa Timur, dan apresiasi karya seni. Untuk 16 September, ada berkah bumi, rantang lurik, memedi sawah, kebul bontotan, bancaan fotografi, pentas duta seni Jawa Timur, dan bartani foto-kopi jreng.

Di Minggu selanjutnya pada 22 September, digelar enjoy culture,tembang sabin, dan sendratani. Dan ditutup pada 23 September dengan living in harmoni. (*)

Editor : Yunan Helmy
Publisher :

Redaksi: redaksijatimtimes[at]gmail.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : redaksijatimtimes[at]gmail.com | redaksijatimtimes[at]gmail.com
Top