Arak-Arakan Tumpeng Genep Kampung Bandulan, Ridwan Hisjam: Jangan Adu Agama dengan Budaya

Arak-arakan tumpeng genep yang dilakukan warga Kelurahan Bandulan dalam rangka selamatan kampung. (Foto: Nurlayla Ratri/ MalangTIMES)
Arak-arakan tumpeng genep yang dilakukan warga Kelurahan Bandulan dalam rangka selamatan kampung. (Foto: Nurlayla Ratri/ MalangTIMES)

MALANGTIMES - Masyarakat Kelurahan Bandulan, Kota Malang memiliki cara unik menyambut bulan Suro atau bulan Muharram. Yakni dengan selamatan kampung dan arak-arakan tumpeng genep. Hari ini (15/9/2018) acara tersebut juga dihadiri anggota Komisi X DPR RI Ridwan Hisjam.

Berlangsung lepas tengah hari, warga kampung Bandulan Barat, RT 08/RW 01 Kelurahan Bandulan mengarak berbagai perlengkapan selamatan di sekitar jalan-jalan rumah warga. Tumpeng genep yang diarak berupa nasi tumpeng, ayam ingkung atau ayam panggang, nasi uduk, apem, jenang suro, juga pisang sabuk lawe yang berupa pisang raja yang dikelilingi dengan tali putih.

Usai diarak, warga lantas menggelar doa bersama. Ketua panitia selamatan, Supono mengungkapkan bahwa selamatan kampung tersebut merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan sekaligus untuk bersih desa. "Kegiatan Suroan ini sudah sejak kakek-kakek terdahulu," ujarnya. 

Sebagai masyarakat Jawa, lanjutnya, kegiatan selamatan tersebut merupakan salah satu perwujudan penyampaian doa pada Tuhan Yang Maha Kuasa. Harapannya, agar masyarakat setempat terus mendapatkan perlindungan dalam kegiatan sehari-hari. "Ini juga dalam rangka silaturahmi, gotong royong, mengedepankan kerukunan dan kesederhanaan. Suroan juga ada makna spiritual," terangnya.

Sementara itu, anggota Komisi X DPR RI Ridwan Hisjam mengungkapkan bahwa dirinya sangat mengapresiasi kegiatan selamatan kampung Bandulan itu. "Kenapa saya apresiasi, karena ini bentuk pelestarian budaya. Ciri masyarakat Indonesia adalah gotong royong, meski saat ini sudah mulai pudar karena gempuran teknologi dan era keterbukaan," urainya.

Politisi Golkar itu juga menyampaikan soal rancangan undang-undang (RUU) kebudayaan yang berhasil disahkan pada 2017 menjadi Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan. "RUU kebudayaan, sudah dua periode tak pernah berhasil. Tapi pada 2017 bisa disahkan, undang-undang itu menjadi pegangan untuk memajukan budaya Nusantara," tegasnya.

Dia juga mengajak masyarakat untuk tidak memperdebatkan antara agama dan budaya sebagai sisi yang saling berlawanan. "Tidak ada kontradiksi, kebudayaan dan agama saling mendukung. Agama itu wahyu Allah yang diterima manusia, budaya adalah kebiasaan manusia di mana berpijak, jangan dipertentangkan," pungkasnya.

Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher :
Sumber : Malang TIMES (JatimTimesNetwork)

Redaksi: redaksijatimtimes[at]gmail.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : redaksijatimtimes[at]gmail.com | redaksijatimtimes[at]gmail.com
Top