Dari Menteri Jangkrik sampai Mantra Jantur, Yang Tersisa Tinggal Umpatan

Adu jangkrik (Ist)
Adu jangkrik (Ist)

MALANGTIMES - Istilah menteri jangkrik bukanlah sekadar sebutan. Tapi jabatan itu memang pernah ada. Bukan juga sekadar sebuah sindiran atau julukan negatif. Tapi benar-benar ada,  seperti pada era Dinasti Song (960-1278 M) di China. 

Di era Dinasti Song, jangkrik -hewan yang telah ada di bumi sejak 48 juta tahun lalu ini- sangatlah populer. Tak ayal di era tersebut sampai ada menteri jangkrik yang dijabat oleh Jia Shi Dao (1213-1275). Menteri yang juga menulis buku tentang jangkrik berjudul Cu Zhi Jin. 

Kepopuleran jangkrik untuk diadu di Tiongkok terus berjaya. Sampai akhirnya  pada era Dinasti Qing (1644-1911), adu jangkrik secara resmi dilarang. Saat Tiongkok mulai melarang adu jangkrik karena berefek pada kehancuran ekonomi, tahun 1877-1921 kebiasaan tersebut telah merasuk ke lingkungan keraton Kesultanan Mataram. 

Sejarawan Denys Lombard menuliskan dalam bukunya yang berjudul "Nusa Jawa: Silang Budaya" terbitan Jaringan Asia. Disebutkan pada pemerintahan Hamengkubuwono VII,  adu jangkrik masuk lingkungan keraton. Bahkan adu jangkrik para bangsawan dan pedagang Tionghoa memiliki jadwal tetap, yaitu Selasa dan Jumat. 

Menelisik lebih jauh keberadaan jangkrik, Dwi Cahyono -sejarawan dari Universitas Negeri Malang-  menyatakan,  nama “jangkrik” muncul di Jawa paling tidak pada masa Jayabaya memerintah di Kadiri (1135-1157 M). Terdapat dalam kakawin Bharattayuddha, Abhimanyuwiwaha dan Ramaparasuwijaya, jangkrik disebut sebagai  walang kerik yang menunjuk binatang sejenis jangkrik.

"Pengubah kakawin Hariwangsa bernana Npu Panuluh pun menyebutkan jangkrik dalam kalimat 'hana jangkrik asabda ri wiwara nika'. Yang artinya, 'ada jangkrik berbunyi di celah itu, '", urai Dwi. 

Adu jangkrik yang pertama dipraktikkan di Tiongkok dan merembes ke Jawa tercatat falam sebuah artikel tahun 1940.Tjan Tjoe Siem dalam artikel "Adoe Jangkrik" di majalah Djawa. Ditulis bahwa aduan hewan kecil mulai ramai sejak awal abad ke-20 dan menjadi praktik perjudian. Taruhan besar untuk sang jangkrik pun merelambah ke berbagai kota besar saat itu. "Magelang, Yogyakarta,  Solo dan Semarang  jadi kota pertandingan besar ‘adu jangkrik,” tulis Siem. 

Berjalannya tahun, adu jangkrik bukan hanya permainan para bangsawan dan pedagang kaya saja. Adu jangkrik telah menjadi permainan semua kalangan. Khususnya anak-anak yang sangat menggemarinya. Hal ini terlihat dari buku  Permainan Tradisional Indonesia terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1998). Dimana dituliskan,  anak-anak khususnya dimusim gadon yaitu saat sawah ditanami palawija untuk menyelingi tanaman padi. Kerap dijadikan musimnya adu jangkrik yang mereka tangkap sendiri. 

Hebatnya si jangkrik bukan hanya terkenal di Jawa saja. Di Bali dan Aceh pun,  adu jangkrik menjadi hiburan favorit pada masanya. Snouck Hurgronje dalam Aceh: Rakyat dan Adat Istiadatnya,  sampai mencatat mengenai adu jangkrik tersebut. "Calon Sultan adalah seorang penggemar daruet kleng (adu jangkrik) dan terkadang memasang taruhan besar untuknya," tulis Hurgronje. 

Di beberapa wilayah, seperti di Bali dan tentunya Jawa, adu jangkrik bukan hanya sekedar hiburan keduniawian saja. Tapi juga ada unsur sakral melalui ritual berupa pengucapan mantra untuk jangkrik yang akan diadu. 

"Jantur, jantur, musuhmu gedhe dhuwur, cokoten ngasi anjur. Janti, janti, musuhmu kecil belaga, gigitlah sampai mati."

Begitulah salah satu mantra adu jangkrik yang terekam dalam tulisan Siem tahun 1940. "Sebelum masuk arena,  jangkrik diberi mantra atau dijantur. Setelah dimantrai atau dijantur,  jangkrik akan lebih berani menghadapi lawannya," tulisnya. 

Mantra jantur masih tersisa sampai era 1990-an. Walau pun tidak lagi difahami oleh anak-anak fungsinya. Sampai akhirnya,  adu jangkrik semakin menghilang setiap tahunnya. Jangkrik dikembangbiakkan,  tapi bukan lagi untuk di adu seperti jaman Tiongkok atau era kesultanan. Jangkrik dijadikan pakan burung peliharaan. 

Jangkrik pun kemudian menjadi umpatan dan semakin populer setelah (almarhum) pelawak legendaris Kasino DKI memplesetkannya dalam film Chips tahun 1980-an. Dan di daur ulang lagi filmnya di abad milenial ini dengan judul Jangkrik Bos part 1 dan 2.

Sebagai umpatan,  menurut Dwi, jangkrik dipakai untuk lebih memperhalus makian Jawa Timur-an yaitu jancuk. 

"Ada penghalusan makian dengan memakai jangkrik daripada jancuk. Bisanya umpatan jangkrik tidak membuat orang marah dibanding jancuk," ujar Dwi menyampaikan pergeseran kata jangkrik dari kata untuk hewan yang telah membuat lahir menteri jangkrik,  kaisar jangkrik sampai menjadi ujaran untuk manusia. (*)

Editor : Yunan Helmy
Publisher :

Redaksi: redaksijatimtimes[at]gmail.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : redaksijatimtimes[at]gmail.com | redaksijatimtimes[at]gmail.com
Top