Kuota Guru Daerah Terbanyak, Dinas Pendidikan: Semoga Guru Honorer Bisa Terangkat

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Malang M. Hidayat (kiri) menyatakan harapannya guru honorer bisa diakomodasi menjadi guru ASN. (Nana)
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Malang M. Hidayat (kiri) menyatakan harapannya guru honorer bisa diakomodasi menjadi guru ASN. (Nana)

MALANGTIMES - Pemerintah pusat telah positif membuka pendaftaran CPNS 2018. Harapan dari berbagai daerah mengenai kekosongan ASN (aparatur sipil negara) pun dijawab oleh pemerintah. Terutama kebutuhan ASN guru yang mengalami banyak kekosongan. Tak terkecuali di Kabupaten Malang. 

Tercatat, dari laman resmi  Badan Kepegawaian Nasional (BKN) maupun Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemen PANRB), formasi guru kelas dan mata pelajaran sejumlah 88 ribu. Sedangkan formasi guru agama sebanyak 8 ribu. 

Kuota tersebut,  walau belum secara pasti peruntukannya di daerah mana saja,  telah menumbuhkan harapan di tingkat daerah. 

M. Hidayat, kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Malang, pun menyambut informasi pendafatarn CPNS 2018 tersebut dengan penuh harapan. Dirinya menyampaikan, dengan kuota terbilang banyak untuk formasi guru,  diharapkan bisa mengisi berbagai kekosongan yang ada di wilayahnya. 

"Kami berharap banyak bisa mengisi jabatan yang ditinggal karena pensiun. Selain harapan terbesar saya adalah guru tidak tetap (GTT) atau honorer bisa terangkat semua," kata Dayat -sapaan kadisdik Kabupaten Malang-, Rabu (12/9/2018) kepada MalangTIMES. 

Harapan tersebut didasarkan pada banyaknya GTT atau guru honorer yang telah lama mengabdi di Kabupaten Malang. Tercatat,  ada sekitar 6.100 GTT di seluruh wilayah Kabupaten Malang yang membantu proses belajar mengajar di berbagai sekolah yang hanya di isi 2-3 guru ASN saja. 

Jadi, lanjut Dayat,  harapan besar Pemerintah Kabupaten Malang dalam rekrutmen ASN tahun ini,  khususnya guru, bisa diprioritaskan kepada para GTT atau guru honorer. 

"Kamj sangat berharap banyak mengenai ini. Selain itu, apabila ada ruang dan kebijakan untuk honorer yang usianya di atas 35 tahun bisa terakomodasi, kami sangat berterima kasih," ujar Dayat. 

Perjuangan Pemerintah Kabupaten Malang untuk mengawal guru GTT atau honorer untuk mendapatkan kehidupan yang lebih pantas,  cukup lama dilakukan. Hal tersebut bertujuan untuk memosisikan dan mengapresiasi pengabdian mereka yang selama bertahun-tahun sebagai guru dengan gaji di bawah upah minimum regional (UMR). 

Salah satu perjuangan tersebut adalah meningkatkan status guru honorer menjadi guru ASN. Hal ini sebagai upaya mewujudkan kualitas pendidikan yang lebih baik di Kabupaten Malang. 

Dayat menegaskan, pihaknya bukan tidak percaya atas kemampuan,  integritas,  etos kerja para GTT atau guru honorer. "Tapi, akan lebih fokus apabila mereka menjadi guru ASN," ucap dia. 

Disinggung mengenai upaya agar para GTT maupun guru honorer di Kabupaten Malang bisa terserap menjadi bagian dari guru ASN,  Dayat menyatakan  agar semuanya mengikuti aturan yang ditetapkan oleh pemerintah pusat. "Ikuti saja aturan yang ada. Kita tidak bisa mengarahkan ini itunya. Kalau sudah diangkat baru kita adakan diklat khusus," pungkasnya. (*)

Editor : Yunan Helmy
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Malang TIMES (JatimTimesNetwork)

Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top