Gebyar Ritual 1 Suro di Gunung Kawi Pikat Wisatawan Mancanegara

Kepala Desa Wonosari Kuswanto, saat melempar tombak ke ogoh-ogoh dalam acara penutupan Gebyar Ritual 1 Suro Di Gunung Kawi, Wonosari (foto : ashaq lupito / MalangTIMES)
Kepala Desa Wonosari Kuswanto, saat melempar tombak ke ogoh-ogoh dalam acara penutupan Gebyar Ritual 1 Suro Di Gunung Kawi, Wonosari (foto : ashaq lupito / MalangTIMES)

MALANGTIMES - Banyak cara dan agenda yang diadakan oleh masyarakat, untuk menyambut hari jadi 1 suro (tahun jawa), yang jatuh pada selasa (11/9/2018).

Seperti yang diadakan di Gunung Kawi Kecamatan Wonosari misalnya.

Rangkaian acara mulai dari pagelaran wayang semalam suntuk, hingga kirab sesaji serta berbagai atraksi budaya, diadakan guna memeriahkan hari jadi satu suro kali ini.

Kepala Desa Wonosari Kuswanto menuturkan, pada agenda tahunan ini, turut dimeriahkan oleh perwakilan dari 14 RW yang ada di Wonosari.

Setiap peserta berlomba-lomba untuk mengikuti kirab sesaji (tumpeng dengan nasi kuning).

Dimana sesaji tersebut diletakkan pada jolen (wadah tumpeng yang dihias)

"Kemudian diarak keliling wonosari dengan rute sekitar satu kilometer,” kata Kuswanto saat ditemui MalangTIMES.

Kuswanto menambahkan, setelah diarak keliling kampung, sesaji yang ditempatkan di jolen tersebut dibawa ke halaman pesarean (makam) Eyang Djogo alias Kyai Zakaria dan Raden Mas Iman Soedjono.

Acara yang diagendakan dihadiri oleh Bupati Malang Rendra Keesna ini, menarik ribuan wisatawan baik dari mancanegara maupun lokal. Para pengunjung nampak antusias mengabadikan moment langka, melalui smartphone mereka.

“Ini merupakan upaya kami untuk membuat wisata religi, hasilnya memuaskan. Para wisatawan lokal maupun mancanegara turut menghadiri objek wisata ini,” imbuh Kuswanto.

Acara puncak, ditutup dengan melempar tombak ke ogoh-ogoh (raksasa) yang dilakukan oleh kepala desa wonosari. Pada sesi ini, kuswanto diiringi sekitar 100 penari.

Sesampainya di tempat yang sudah ditentukan, tombak dilempar kearah ogoh-ogoh, serta disambut dengan kobaran api yang membakar patung raksasa dengan tinggi sekitar tiga meter tersebut.

“Ini sebagai wujud syukur kepada Tuhan, sekaligus bentuk kiasan untuk menghilangkan sifat negatif yang ada pada diri kita,” pungkasnya.

Editor : Heryanto
Publisher :

Redaksi: redaksijatimtimes[at]gmail.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : redaksijatimtimes[at]gmail.com | redaksijatimtimes[at]gmail.com
Top