Dua Pusaka Kerajaan Medang Kamulan Berusia 1960 Tahun Ikut Jamasan 1 Suro

Dua keris dari zaman Kerajaan Medang Kamulan tengah dibersihkan dalam ritual Jamasan Tosan Aji 1 Muharram atau 1 Suro di Desa Bumiaji, Kota Batu. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Dua keris dari zaman Kerajaan Medang Kamulan tengah dibersihkan dalam ritual Jamasan Tosan Aji 1 Muharram atau 1 Suro di Desa Bumiaji, Kota Batu. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Para pegiat budaya yang tergabung dalam Forum Pemerhati Keris dan Tosan Aji Desa Bumiaji, Kota Batu kembali menggelar ritual jamasan pusaka 1 Muharram atau 1 Suro. Hari ini (11/9/2018) sekitar 373 benda pusaka dimandikan secara khusus, termasuk di antaranya yakni pusaka-pusaka berusia ribuan tahun.

Ketua forum sekaligus penyelenggara acara, Wahyu Eko Purwanto mengungkapkan bahwa ritual tersebut digelar setiap tahun. Sementara untuk jamasan massal sendiri, kali ini memasuki tahun kelima. "Paling banyak yang dijamas di sini itu keris dari zaman Kerajaan Singhasari dan Majapahit. Tetapi ada pula yang paling tua itu dari zaman Kerajaan Medang Kamulan," urai Wahyu.

Berdasarkan penelusuran yang dilakukan, dua pusaka berbentuk keris itu dibuat sekitar tahun 328 Masehi. Atau jika dihitung, kini telah berusia 1960 tahun. "Pembuatnya bernama Empu Bromo Kedali, nama kerisnya Tilam Upih dan Tilam Sari," ujarnya. Tilam Upih sendiri dari kata tilam yang artinya istirahat dan upih yang bermakna tenteram.

Tampilan kedua keris itu juga tidak seperti keris kebanyakan. Bentuknya sederhana tanpa lekukan dan relatif kecil sekitar 25 sentimeter dengan lebar 3 sentimeter. "Bentuknya lajer atau lurus, tidak ada luk (lekukan). Pamor corak di permukaan kerisnya banyu mili atau air mengalir, sedangkan yang Tilam Sari pamornya ngulit semangka," terangnya.

Wahyu menjelaskan, Jamasan Tosan Aji itu merupakan ritual memandikan keris atau pusaka yang berbahan logam keras. Secara fisik, jamasan tersebut dilakukan untuk mengurangi efek korosi atau karat di pusaka.

"Jamas itu artinya mandi, tapi dulu kata jamas hanya digunakan untuk raja. Tosan itu barang keras atau atos, sedangkan aji itu memiliki nilai, baik sejarah atau seni. Kalau ibarat kendaraan, jamasan ini cek fisik berkala," sebutnya.

Selain keris, beberapa pusaka yang dijamas lainnya yakni tombak, trisula, golok dan pedang. "Intinya benda budaya berbahan besi, baja atau mineral khusus. Selain dari Malang Raya, pesertanya ini dari Magetan, Ponorogo, Surabaya dan lain-lain," tuturnya.

Untuk memandikan pusaka, lanjut Wahyu, para penjamas melakukan ritual khusus terlebih dahulu. Di antaranya berpuasa dan mensucikan diri lahir dan batin. Tak hanya itu, larutan khusus juga disiapkan yakni rendaman racikan macan kerah. Berisi bunga tujuh rupa, jambe atau pinang, daun sirih dan juga masih ditambah dengan mengkudu, jeruk nipis dan belimbing wuluh atau belimbing sayur.

"Dicuci pakai macan kerah, sebagai perlawanan energi negatif. Selain itu sifat asam ringan dari buah yang ditambahkan itu nanti yang melunturkan karat," urainya.

Setelah direndam dalam air macan kerah, pusaka kembali dibilas dengan air rendaman bunga setaman. Airnya sendiri dikumpulkan dari tujuh sumber di sekitar Desa Bumiaji. Lantas, pusaka dikeringkan menggunakan kain putih. Dilanjutkan dengan pengasapan menggunakan dupa ratus setelah sebelumnya diolesi minyak khusus.

"Pelapisan minyak dan pengasapan ini dilakukan untuk mengurangi risiko karat selama setahun mendatang. Kan sifat asam ini mencegah oksidasi pada logam," terangnya.

Selain merawat benda pusaka, kegiatan yang berlangsung gratis ini juga dilakukan sebagai upaya pelestarian budaya. "Tujuannya bagaimana keris yang warisan leluhur ini tetap diperhatikan. Apalagi sudah diakui UNESCO sebagai warisan budaya," pungkasnya. 

Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Raafi Prapandha

Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top