Jejak Ken Angrok dan Nama Aslinya yang Tak Terungkap

Ilustrasi Ken Angrok (Ist)
Ilustrasi Ken Angrok (Ist)

MALANGTIMES - Siapa yang tidak mengenal Ken Angrok atau lebih dikenal dengan nama Ken Arok. Sang pendiri Kerajaan Singhasari dengan sang istri Ken Dedes, perempuan cahaya penurun para raja di pulau Jawa.

Atau ia juga dekat dengan tragedi paling berdarah dalam sejarah kerajaan Jawa dikarenakan kutuk seorang Mpu bernama Gandring. Pembuat keris yang memakan korban Ken Angrok serta turunannya. Tragedi berdarah Kerajaan Singhasari yang lebih familiar di buku-buku sejarah sekolahan. 

Tapi, mungkin masih banyak yang penasaran mengenai berbagai jejak Ken Angrok sejak dirinya masih seorang remaja sampai dirinya menyandang gelar Sri Rajasa Batara sang Amurwabhumi. Lokasi mana sajakah yang sebenarnya memiliki jejak-jejak sang Angrok yang menurut serat Pararaton, merupakan anak Batara Brahma dari perbuatannya menyetubuhi Ken Endok di Tegal Lalateng. 

Dari berbagai literatur, setidaknya ada sembilan lokasi yang pernah menjadi bagian dari riwayat Ken Angrok. Baik di wilayah Kota Malang maupun Kabupaten Malang saat ini. Jejak-jejak yang berasal dari abad ke-13 Masehi ini sampai saat ini masih ada dan dapat ditelusuri. Walaupun beberapa lokasi tersebut telah berganti nama dikarenakan kepentingan administratif kewilayahan. 

Pertama, Karuman yang merupakan tempat tinggal ayah angkat Ken Angrok yaitu Bango Samparan. Lokasi ini, kini mengacu dan menjadi nama salah satu gang di Tlogomas, Kota Malang. Kedua, Sagenggeng yang kini identik dengan nama Dusun Sagenggeng, Desa Wanakerso, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang. Sagenggeng merupakan lokasi belajar membaca dan menghitung waktu Ken Angrok. 

Sanja adalah dukuh yang didirikan Ken Angrok bersama sahabatnya bernama Tita sebagai tempat membegal orang yang lewat. Lokasi ini diidentifikasi kini letaknya di Desa Wandanpuro, Bululawang,  Kabupaten Malang. Lokasi lainnya adalah Rabut Katu yang merupakan lokasi persembunyian Ken Angrok dari kejaran tentara akuwu Tunggul Ametung yang tak senang ketentraman wilayahnya terganggu. Rabut Katu dikenal sebagai Gunung Katu yang kini berada dalam wilayah Dusun Sumberpang Kidul, Desa Sumbersuko, Wagir, Kabupaten Malang. 

Lokasi lain pelarian Ken Angrok yang kerap membuat ulah adalah Turyantapada yang identik dengan wilayah Turen dan Kabalon yang secara penamaan namanya ada di wilayah Cemorokandang,  Kedungkandang. Di Boboji yang sampai saat ini masih dapat dilihat peninggalannya berupa petirtaan atau kolam mandi adalah lokasi pertama kali Ken Angrok melihat Ken Dedes. Letaknya kini berada di Desa Watugede, Kecamatan Singosari. 

Singhasari dan Kagenengan adalah lokasi dari jejak Ken Angrok. Singhasari merupakan pusat kerajaan sedangkan Kagenengan adalah tempat Ken Angrok didharmakan. Lokasi Kagenengan masih menjadi pekerjaan rumah para peneliti. Ada yang menyebutkan berada di wilayah Kepanjen saat ini,  walau pun belum ada kepastian secara bukti-buktinya. 

"Tapi jangan terjebak dengan wilayah administrasi sekarang. Bisa dimungkinkan lokasi tersebut menciut menjadi selebar desa atau dusun saat ini,” ujar Dwi Cahyono, arkeolog yang juga dosen Sejarah Universitas Negeri Malang.

Hal kedua yang kerap menjadi pertanyaan adalah siapa nama asli Ken Angrok, walau serat Pararaton menuliskan bahwa nama Ken Angrok telah disandang sejak lahir. 

"“Nama dari anakku itu Ken Angrok. Dialah yang kelak membawa perubahan besar di Pulau Jawa,” ujar sang Dewa Brahma setelah menyetubuhi dan melarang Ken Endok untuk berhubungan badan dengan suaminya yang bernama Gajahpara.  

Tapi menimbulkan pertanyaan mendalam dari para arkelog maupun peneliti mengenai siapa nama asli Ken Angrok. 

Menurut sejarawan Malang, Suwardono menyatakan agak janggal jika nama asli sudah menyandang gelar Ken. Seharusnya disandang oleh seseorang yang sudah punya jabatan. Dari segi bahasa, kata Ken merupakan partikel di depan kata benda, dalam hal ini nama seseorang, yang merujuk pada orang berpangkat. 

Sementara dalam Kamus Jawa Kuno-Indonesia yang disusun L Mardiwarsito, Ken diartikan sebagai “pembesar, putra atau putri raja, atau gelar.” Adapun Wojowasito dalam Kamus Kawi-Indonesia mengartikannya sebagai “putri atau putra raja.”

"Sedangkan Angrok merupakan kata kerja Jawa Kuno. Artinya menyerbu atau menyerang,” ujar Suwardono yang melanjutkan pencocokan dengan berbagai literatur mengenai sosok legendaris, misalnya “Pararaton (Ken Arok) of het Boek der Koningen van Tumapel en van Majapahit (1920)”, Kidung Serat Arok koleksi Perpustakaan Nasional Jakarta. Maupun dari buku berjudul Kerajaan-Kerajaan Awal Kepulauan Indonesia dan Semenanjung Malaysia (2006). 

"Dari berbagai literatur tersebut, tidak ada yang merekam nama asli Ken Angrok. Artinya, baik kalangan masyarakat maupun kalangan keraton tak ada yang tahu nama aslinya, atau memang sengaja mengubur nama aslinya,” pungkas Suwardono.

Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher :
Sumber : Malang TIMES (JatimTimesNetwork)

Redaksi: redaksijatimtimes[at]gmail.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : redaksijatimtimes[at]gmail.com | redaksijatimtimes[at]gmail.com
Top