KITAB INGATAN 23

Sep 09, 2018 11:06
Ilustrasi puisi (Angel Boligan on Twitter)
Ilustrasi puisi (Angel Boligan on Twitter)

MALANGTIMES - KITAB INGATAN 23

*dd nana

-belajarlah pada kuku

1)

Hiduplah sampai putih mata putih kuku mu 

Memanjang tanpa takluk oleh waktu.

Begitulah, lelaki dengan paras yang ditempa cuaca menulis

di sebuah malam yang menyimpan deru mesin kendaraan.

Sebatang rokok mulai ditinggalkan asapnya, tepat

di kalimat, “Andai kau tahu, cintaku bukanlah bara api. Tapi tumbuhnya kuku yang tak kenal menyerah pada segala musim. Atau pun kematian,”.

Malam menyepi. Aksara menepi. Lelaki itu akhirnya

Baca Juga : KITAB INGATAN 101

membasuh wajahnya pada gelapnya malam. Membakar segala kalimat yang dia tulis

sendiri.

2)

Fahami tepi, maka kau akan sadar

hidupmu yang mengalir sepanjang parit waktu, untuk apa.

Begitulah, seorang lelaki yang aku temui di ujung malam berkata-kata

serupa gumum, igauan atau mungkin mimpi yang datang dan tidak ingin kita ingat lagi.

Belajar pada kuku bukan hanya buku, lanjutnya.

Sebelum jalanan kembali diramaikan deru mesin kendaraan yang tak pernah mati.

Mataku telah begitu berat meminta pejam.

3)

Kau potong dia setiap pekan

Membersihkan kotoran yang menginap nyaman

Walau terlihat menjijikan, lelaki itu menyatakan, 

“Seperti cinta yang diingkari keinginan. Rasa purba yang bebas dari segala ikatan dan pikiran. Kau enyahkan sakit, kau diamkan banyak mata yang menghardik,”.

Aku merekamnya dalam tulisan dengan jari gemetar

Baca Juga : KITAB INGATAN 100

mengingat cinta kita yang serupa dedaunan layu. Ditinggal keremajaan yang menantang segala pantangan.

4)

Aku kerap memuji bersih kuku mu

dengan elusan gemetar jemari dan panasnya nafas 

di ruangan yang kini menjadi bagian tersembunyi dalam cerita.

Puisi, terkadang enggan untuk mengabarkannya lagi.

“Terlalu silau, terlalu memukau. Biarkan saja merabuk lenyap,” ucap puisi yang juga ingin merasakan rasanya berakhir pekan.

5)

Tak takut pada maut

tak takluk pada waktu yang melanggut, melaut

cinta akan berlayar pada segala kecemasannya

tumbuh terus di tepi-tepi sunyi.

“Tapi kau mulai tak menyadarinya, kini, sayang,”.

Topik
serial puisipuisi pendekpuisi malangtimeskitab ingatan

Berita Lainnya

Berita

Terbaru