Selubung Kelamin, dari Goa Pra Sejarah Hingga ke Tangan Pengusaha Karet

Ilustrasi pemakaian kondom yang berkelindan mengikuti sejarah manusia (Ist)
Ilustrasi pemakaian kondom yang berkelindan mengikuti sejarah manusia (Ist)

MALANGTIMES - Mungkin, benda inilah yang kerap mengundang kontroversial di masyarakat. Baik penggunaan, peredaran sampai pada tayangan-tayangan iklannya di berbagai media.

Lepas dari pro dan kontra keberadaan dan fungsi benda ini sebagai pembungkus kelamin, ternyata memiliki sejarah panjang dalam kehidupan manusia.

Dikutip dari buku berjudul The Humble Little Condom: A History karya Aine Coiller, pembungkus kelamin yang dikenal dengan sebutan kondom, ternyata sudah ada sejak 11.000 Sebelum Masehi (SM).

Keberadaan kondom di zaman pra sejarah tersebut ditemukan oleh para peneliti dan ilmuwan di sebuah goa yang terletak di Prancis.

Di dalam Goa Grotte Des Combarrelles tersebut ditemukan lukisan-lukisan di dindingnya yang menyerupai bentuk kondom seperti saat ini.

Temuan benda kontroversial sepanjang sejarah manusia ini, membuat para ilmuwan menyisir kembali keberadaannya di berbagai peninggalan pra sejarah.

Hasilnya, di Mesir Kuno ternyata kondom juga telah dipakai oleh masyarakat untuk melindungi kelamin dari serangga dan penyakit tropis.

Dari berbagai temuan tersebut, para ilmuwan mendapatkan fakta unik mengenai bahan-bahan kondom yang ditemukan dalam sejarah peradaban manusia.

Dari linen yang dipakai oleh masyarakat Mesir Kuno, usus domba (Inggris), kertas sutra yang diminyaki  sampai penggunaan kulit kura-kura atau tanduk binatang (Tiongkok dan Jepang) pernah menjadi bahan dari kondom dari tahun 1.400 sampai tahun 1.800.

Direntang tahun tersebut, fungsi kondom yang hanya melindungi kelamin dari serangan serangga juga ikut berkembang.

Penyakit kelamin atau sifilis yang merebak sekitar antara tahun 1.500, telah membuat para imuwan maupun dokter merancang kondom sebagai alat pelindung kelamin.

Hal ini terlihat dari buku De Morbo Gallico tahun 1564 karya seorang ahli anatomi dan dokter Italia bernama Gabriello Fallopio. 

Dari buku tersebut dideskripsikan mengenai penggunaan kondom berbahan linen untuk mencegah penyakit sifilis.

“Selubung linen direndam dalam larutan kimia dan dibiarkan mengering sebelum digunakan. Setelahnya dipakai untuk menutupi kepala penis dengan sebuah pita,” tulis Gabriello.

Tuntutan kondom yang praktis seiring dengan semakin maraknya tempat prostitusi, menjadi kebutuhan yang sangat mendesak saat itu.

Di era 1800 seterusnya, kondom mulai berevolusi kearah yang lebih praktis dan tentunya kuat.

Tercatat tahun 1839, Charles Goodyear, ahli kimia dan insinyur manufaktur dari Amerika Serikat, menemukan vulkanisasi karet.

Dan akhirnya menjadi bahan dalam pembuatan kondom serta diproduksi massif di tahun 1855.

Tapi Goodyear yang lebih dikenal sebagai merek ban sampai saat ini, mungkin tidak terlalu beruntung dengan produk kondom.

Sejarah yang diingat sampai saat ini, penghasil kondom lateks pertama adalah Young's Rubber Company dari Amerika Serikat, di tahun 1920-an. Diikuti oleh perusahaan karet dari London yang menciptakan Durex di tahun 1932.

Durex inilah yang terus diproduksi dengan berbagai macam kreasinya. Dari kondom paling tipis, berpelumas, sampai pada adanya penambahan varian rasa.

Walau kondom lebih banyak diperuntukkan untuk kaum adam, tidak membuat para ilmuwan maupun dokter meninggalkan kauh hawa.

Tercatat ada Lasse Hessel dokter dari Denmark, pencipta prototipe kondom perempuan pertama.

Kondom perempuan ini walau tidak familiar, ternyata terus dikembangkan dan diproduksi.

Di tahun 1992, perusahaan dari Amerika Serikat bernama Origami Condom, menciptakan kondom yang dirancang untuk aktivitas seks anal dengan nama Orgami anal Condom (OAC).

Pengembangan OAC ini didasarkan juga pada perilaku seksual yang marak melalui jalan belakang.

Hal ini tidak terlepas juga dari adanya industri perfilm-an porno di sana yang kerap menyuguhkan perilaku seks tersebut. 

Selain OAC, Sonetha Ethlers seorang dokter perempuan dari Afrika Selatan di tahun 2005 juga memperkenalkan kondom anti pemerkosaan.

Dinamakan Rape-aXe dengan bahan dasar lateks, kondom tersebut akan membuat para pemerkosa harus berhadapan dengan kepolisian saat mereka melakukan tindakan bejatnya.

Pasalnya, kata Ehlers, “Ketika terjadi pemerkosaan, maka Rape-aXe yang didesai dengan rangkaian kancing gigi akan mencengkeram penis sang pemerkosa. Dan hanya bisa dilepaskan oleh seorang dokter,” tulisnya.

Kini, kondom yang merupakan salah satu benda di dunia dengan sejarah panjang dan tetap kontroversial ini terus berevolusi. Mengikuti perkembangan zaman serta harapan para pemakainya yang menginginkan kepraktisan dan kemudahan menggunakannya. 

Editor : Heryanto
Publisher :

Redaksi: redaksijatimtimes[at]gmail.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : redaksijatimtimes[at]gmail.com | redaksijatimtimes[at]gmail.com
Top