Beberapa orang aktivis Suara Perempuan Desa Kota Batu saat ziarah di makam Munir di Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu, Jumat (7/9/2018). (Foto: Irsya Richa/ BatuTIMES)
Beberapa orang aktivis Suara Perempuan Desa Kota Batu saat ziarah di makam Munir di Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu, Jumat (7/9/2018). (Foto: Irsya Richa/ BatuTIMES)

Tepat di hari ini Jumat (7/9/2018), merupakan 14 tahun meninggalnya seorang pejuang Hak Asasi Manusia (HAM) Munir Said Thalib. Dalam memperingati hari kematian aktivis HAM itu warga Kota Batu ziarah di makam Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu.

Munir meninggal pada 7 September 2004 saat di dalam pesawat menuju Amsterdam. Saat itu Munir berusia 38 tahun.

Hingga kini sudah 14 tahun, kisah kematiannya masih meninggalkan memori bagi warga di Indoensia khususnya di Kota Batu. Seperti halnya para aktivis perempuan dari Suara Perempuan Desa (SPD) Kota Batu.

Beberapa orang lalu lalang untuk melakukan ziarah di makam Munir. Mereka pun memberikan bunga dan memanjatkan doa bersama. 

Ketua Suara Perempuan Desa Kota Batu, Salma Safitri menjelaskan setiap tahunnya selalu menyempatkan untuk bertandang ke makam Munir. Tujuannya setiap tahun menyempatkan datang untuk merawat ingatan bahwa kasus Munir belum dipenuhi pertanggungjawabannya.

“Saya setiap tahun pada 7 September memang menyempatkan ziarah ke sini (makam Munir). Kita harus merawat ingatan bahwa Munir belum dipenui pertanggungjawabannya,” ujar Salma. 

Ia menjelaskan bahwa negara Indonesia ini punya hutang terkait dengan pelanggaran HAM pembunuhan yang sewenang-wenang.

“Negara masih berhutang atas pelanggaran HAM. Kasus kematian Munir penanda krisis proses bernegara, yang seharusnya tidak boleh memicu pelanggaran HAM,” imbuhnya kepada BatuTIMES. 

Sedang saat ini acara besar peringatan meninggalnya Munir ke 14 tahun dipusatkan di Jakarta. Dengan menggelar aksi kepada Presiden Republik Indonesia Joko Widodo untuk menuntaskan kasus pembunuhan Munir yang hingga saat ini belum terselesaikan.