MALANGTIMES - “Kuncinya bukan pada kemauan untuk menang … setiap orang memiliki kunci tersebut. Yang terpenting adalah kehendak untuk mempersiapkan kemenangan”. Begitulah Robert Montgomery Knigh atau dikenal dengan sapaan Bob Knight, seorang pelatih basket ball Amerika kelahiran 1940, berkata-kata.

Kata-kata yang secara laten menyusup dan menghidupi gerak seorang penggerak dunia literasi. Seseorang yang awalnya tidak memiliki pemikiran, apa yang diperjuangkannya menjadi sesuatu yang sangat berharga. Bagi dirinya secara khusus maupun bagi masyarakat dimana dirinya berdomisili. Bahkan mampu menjadi kebanggaan bagi daerah dengan perjuangan yang diyakininya tersebut.

Dialah Atul Choiriyah seorang guru honorer di SMPN 2 Kepanjen. Pencetus lahirnya Perpustakaan Desa Gampingan Gemar Membaca (Perpusdes GGM) sekaligus penggagas kampung cerdas. Sebuah inovasi yang lahir dari keprihatinannya atas kondisi di lingkungan sekitarnya, khususnya dalam bidang yang dia gelutinya sebagai seorang pendidik.

Atul menceritakan, awalnya apa yang dia perjuangkan dikarenakan melihat metode taman pendidikan Quran (TPQ) di dekat rumahnya yang cenderung pasif. Ditambah budaya membaca di berbagai sekolahan pun terbilang rendah, apalagi di dalam masyarakat. Kondisi tersebut membuatnya resah sehingga lahirlah sebuah niatan yang diwujudkan sebagai kehendak kuat untuk melakukan perubahan tersebut. Tahun 2010 lalu, akhirnya kehendak tersebut terwujud dengan dibukanya tempat belajar secara gratis untuk siswa sekolah dasar (SD). Tempat belajar tersebut tidaklah ditujukan untuk hal yang muluk-muluk, anak-anak sekolah senang membaca buku adalah target Atul saat itu.

Atul Choiriyah Penggagas Perpusdes GGM (SS Gampingan)

Gerakan perubahan Atul tersebut tidak begitu saja berjalan dan diterima masyarakat Gampingan pada saat itu. Kemenangan dalam suatu gerakan, direncanakan atau pun tidak, masih terlihat jauh dari jangkauan. Atul menyadari ketidakpercayaan masyarakat atas yang dilakukannya. “Saya bukan warga asli sini. Karena ikut suami saya berdomisili di Gampingan,” kata Atul beberapa waktu lalu.

Tidak patah arang, Alumnus Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama) ini pun akhirnya mengambil tindakan yang lebih berani. Berkeliling ke sekolah-sekolah untuk menarik minat anak-anak untuk membaca. Buku yang dibawanya bukanlah buku baru, tapi buku yang berasal dari gudang kertas dekat rumahnya. Dirinya dengan dibantu beberapa teman sejawat menyortir buku-buku bekas tersebut yang dirasa layak untuk bahan bacaan anak-anak.

Perjuangannya untuk memajukan dunia literasi kepada anak-anak tersebut, tidak membuat Atul semakin ringan dikarenakan adanya dukungan masyarakat. Sebaliknya, masyarakat saat itu sering mencibir aktivitasnya tersebut. Bagi mereka, yang dilakukan Atul hanyalah pekerjaan sia-sia yang tidak berguna. Baik bagi dirinya maupun orang lain. Membaca buku adalah sesuatu yang menyita waktu dan tidak produktif.

Perlakuan tersebut, tidak membuat Atul menyerah. Kegigihan perempuan asal kepanjen ini akhirnya mendapatkan respon baik pemerintah desa Gampingan. Hingga tercetuslah program perpustakaan desa dari Atul sekitar tahun 2015. Satu kemenangan telah menunggu dari hasil perjuangan Atul saat itu.

Perpusdes GGM awalnya menempati lantai atas kantor desa yang digabung dengan ruang PKK. Hanya satu petak, ujar Atul. Setelah berjalan sekitar dua tahun dan hasil perjuangan Atul bersama teman-temannya tersebut mulai terlihat akhirnya perpusdes GGM pindah di tahun 2017 ke gedung baru (eks. Kantor Bumdes Maju Jaya Desa Gampingan).

Transformasi perpustakaan yang diharapkan oleh Bupati Malang Dr H Rendra Kresna serta Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Malang Sukowiyono pun, telah berjalan lama di Gampingan. Perpusdes GGM bukan sekedar tempat tumpukan buku saja, tapi juga ruang bermain dan belajar anak-anak. Selain itu sejak tahun 2017, perpusdes GGM juga menjadi ruang berkreasi bagi warga untuk mendulang pendapatan tambahan sehari-hari, yaitu melalui berbagai kegiatan pengembangan makanan berupa olahan tiwul instan, steak ikan, sampai pada barang rajutan, dan kerajinan daur ulang sampah.

Berkat pengembangan ide kreatif Atul dan teman-temannya tersebut, pengurus perpusdes GGM telah mendapat penghargaan Citi Microentrepreneur Awards (CMA).

Transformasi perpusdes GGM pun kini telah memiliki ribuan buku yang dikoleksinya dari berbagai pihak. Ada sekitar 10.876 buku yang kini memenuhi perpusdes peraih juara I tingkat nasional ini. Perjuangan bertahun-tahun dengan banyaknya cibiran dan ketidakpercayaan dari masyarakat, kini telah berbuah manis. Kemenangan telah ada di tangan mereka, walaupun kata Atul, hal tersebut bukanlah akhir dari perjuangan dirinya bersama yang lain. Masih ada kehendak untuk mempersiapkan kemenangan lainnya.

“Ada kehendak untuk membentuk gerakan penurunan pekerja anak (PPA). Kita melihat fenomena anak-anak usia sekolah yang menjadi pekerja saat ini,” pungkas Atul yang kini menjabat sebagai Kepala Perpusdes GGM ini. (*)