Bang Golok, Penghasut Kelas Satu Indonesia yang Terlupakan

Siti Danilah Salim alias Bang Golok. Gambar ini termuat dalam buku Sumbangsihku Bagi Pertiwi, halaman 241. (Ist)
Siti Danilah Salim alias Bang Golok. Gambar ini termuat dalam buku Sumbangsihku Bagi Pertiwi, halaman 241. (Ist)

MALANGTIMES - Bang Golok. Begitulah sosok ini dikenal dan terkenal dengan pemikiran radikalnya. Walau dikenal dengan sebutan Bang Golok, diambil dari nama senjata tajam rakyat, sosok ini jauh dari kesan sangar apalagi brutal dalam perilakunya.

Bahkan, Bang Golok menjadi salah satu sosok yang memiliki peranan besar dalam dunia literasi dan jurnalistik Indonesia. Walaupun, namanya tidak setenar Agus Salim,  kakak kandungnya atau Mohammad Yamin, Bahder Djohan, maupun Kasuma Sutan Pamuntjak.

Tapi, ketajaman penanya yang bak golok telah membuat penjajah Belanda menempatkannya sebagai penghasut kelas satu dari Indonesia. Penghasut yang terus-menerus menanamkan bibit-bibit radikal dalam setiap tulisannya. Dalam salah satu karangannya, si Bang Golok yang bernama Siti Danilah Salim menulis bahwa rakyat harus bersatu-padu agar Indonesia tidak dijajah kembali oleh Belanda. “Radio milik Belanda, Pemancar Radio Hilversum menuduh Bang Golok sebagai penghasut kelas satu agar Indonesia berontak melawan Belanda,” tulis Lasmidjah Hardi dalam buku Perjalanan Tiga Zaman.

Keradikalan Siti Danilah Salim melalui  tulisannya di berbagai surat kabar masa itu berangkat dari rasa nasionalisme serta berbagai pandangan hidupnya. Tentunya, semua pandangan hidupnya yang dicurahkan melalui tulisan,  baik di Harian Neratja, surat kabar modern pribumi, Majalah Jong Sumatra, Mingguan Daya Upaya dan Harian Rakyat, tidak lepas dari perjalanan hidupnya dalam menggeluti dunia literasi.

Di usia 20 tahun,  Danilah setelah menyelesaikan sekolah dasarnya di Europesche Lagere School Riau. Dia melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (setingkat SMP) di Medan. Telah bekerja sebagai juru koreksi di percetakan De Evolutie, perusahaan pribumi yang mendapat subsidi pemerintah kolonial. Seluruh naskah buku yang hendak diterbitkan De Evolutie tidak lepas dari pemeriksaannya.

Di percetakan inilah, Danilah menyatakan, “Minat saya untuk mengarang mulai tumbuh,” dalam kumpulan memoar perempuan Sumbangsihku bagi Pertiwi, 1938. Dari percetakan ini pula Danilah mulai menulis berbagai karya jurnalistik dan karangan panjang yang membuat Belanda ketar-ketir dengan ketajaman penanya.

Sebagai Bang Golok, sisi feminis Danilah dalam berbagai tulisan juga mengemuka pada saat itu. Puisi dan esai dalam bahasa Belanda berlahiran. Saat itu dirinya bukanlah golok tajam yang menyayat, tapi Kemuning (nama penanya) yang menyeruakkan aroma harum dan sedap dipandang mata.

Namun, kehidupan keluarganya tidak berjalan secara harmonis dikarenakan perceraian. Danilah yang menikah tahun 1920 dan bercerai di tahun 1938 tidak surut untuk terus menulis berbagai kondisi bangsanya saat itu. Dia pun semakin aktif berorganisasi. Tercatat sebagai Ketua gerakan perempuan Isteri Indonesia serta bergabung dalam Jong Sumatranen Bond adalah jejaknya dalam berorganisasi untuk menyatukan bibit persatuan dan kesatuan masyarakat Indonesia saat itu.

Di Harian Rakyat, setelah Danilah mampu melupakan kepahitan perceraian dan kembali menikah dengan wartawan Cahaya Timur Syamsudin Sutan Makmur. Bersama sang suami dan Njoto, dirinya memakai nama pena Bang Golok dalam rubrik Pojok. Namanya menjadi momok menakutkan saat itu. Karena berbagai tulisannya yang dianggap provokatif dan mengajak masyarakat untuk melakukan pemberontakan kepada pemerintah Belanda.

Tidak hanya Belanda yang terkena tajamnya golok Danilah. Saat aktif menulis di Majalah Isteri Indonesia, Danilah mengkritik keras kebiasaan Soekarno dalam persoalan perkawinan. Misalnya, saat Soekarno menikah dengan Fatmawati, Danilah mengkritik keras sang Putra Fajar itu. Dirinya  menyayangkan sikap Soekarno menduakan Inggit Ganarsih. Bagi Danilah, Inggit perempuan hebat yang berperan besar dalam membantu Soekarno di masa sulit. Dia kembali mengkritik Soekarno ketika menikah lagi dengan Hartini. Baginya, tak ada ruang poligini karena hal itu merugikan perempuan.

Banyak tulisan Danilah di zamannya yang memperkaya dunia literasi dan jurnalistik. Bahkan, Lasmidjah Hardi dalam buku Perjalanan Tiga Zaman menyebut Danilah sebagai wartawan terkenal di zamannya. Sayangnya, nama Danilah tak setenar Agus Salim atau rekan seperjuangannya. Nama Danilah terlupa dalam sejarah pers dan literasi Indonesia. (*)?

Editor : Yunan Helmy
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Malang TIMES (JatimTimesNetwork)

Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top