Nasi Empok Wakini Kota Batu Sehari Laku hingga 300 Porsi

Wakini saat menunjukkan hidangan nasi empok buatanhya di Warung Wakini Dusun Sumbersari, Desa Giripurno, Kecamatan Bumiaji, Kamis (6/9/2018).
Wakini saat menunjukkan hidangan nasi empok buatanhya di Warung Wakini Dusun Sumbersari, Desa Giripurno, Kecamatan Bumiaji, Kamis (6/9/2018).

MALANGTIMES - Mencari kuliner tradisional dengan beragam lauk di Kota Batu? Nasi empok Wakini bisa menjadi salah satu alternatif untuk menyantapi kuliner tersebut.

Nasi empok Wakini yang dimiliki Wakini ini juga sudah terkenal di kalangan warga Kota Batu. Itu karena rasanya yang khas dan berbeda dengan lainnya.

Nasi empok sendiri merupakan campuran nasi dan jagung. Untuk Warung Wakini yang cukup sederhana, letaknya berada di Dusun Sumbersari, Desa Giripurno, Kecamatan Bumiaji.

Untuk satu porsi terdapat nasi empok sayur pedas  (tempe, tahu yang dipotong seperti dadu), balado terong, tumis labu siam. Lauknya ada dadar jagung, tempe, mendol, telur, dan ampela ati. 

Yang paling khas adalah penambahan balado terong dan sayur pedas. Sayur pedasnya benar-benar terasa pedas. 

Bahkan bagi para penggemar masakan pedas, sayur pedasnya sangat terasa. Karena itulah, banyak warga setelah mampir di sana selalu kembali ke warung Wakini.

“Di sini yang membuat orang suka itu karena sayur pedasnya. Katanya benar-benar pedas. Dan bumbunya pas,” ungkap Wakini, Kamis (6/9/2018). 

“Rata-rata orang yang pertama ke sini past kembali lagi. Katanya enak dan nagihi. Lalu ada juga saudara yang bertamu kemudian diberi nasi empok ini ketagihan mau lagi,” imbuhnya saat ditemui di warungnya.

Perempuan 40 tahun ini tidak ingin tanggung-tanggung untuk memberikan bumbu-bumbu pada masakannya. Karena itu, ia total memasukkan bumbu pada masakannya untuk memuaskan hati konsumennya.

“Biasanya kalau orang-orang lain itu kasih bumbu kadang maksimal atau sedikit-sedikit, saya tidak mau seperti itu. Kalau saya harus banyak atau pas dan enak,” kata ibu yang dikaruniai tiga orang anak ini.

Wakini sudah menjalankan bisnis ini selama 7 tahun. Bermula karena suaminya Slamet terserang penyakit hernia dan membutuhkan operasi. Saat itulah dia memiliki ide untuk berjualan sesuai dengan kemampuannya.

“Waktu itu suami saya sakit, dan kebetulan kita punya tiga anak sehingga harus bekerja. Dan keahlian saya kebetulan memasak,” ujarnya kepada BatuTIMES.

Lalu apa yang menjadi alasannya menyuguhkan nasi empok? Wakini mengatakan nasi empok dirasa lebih laku untuk dijual di desa.

Dan ternyata masakannya itu mampu menghipnotis para pengunjung yang datang. Hingga akhirnya Wakini kewalahan dan mempekerjakan dua orang untuk membantunya memasak.

“Kalau pertama dulu cuma sendirian saja karena pelanggan sudah mulai banyak saya gak bisa sendiri dan akhirnya mempekerjakan dua orang,” jelas Wakini.

Hingga saat ini, dalam satu hari mampu menghabiskan 200-300 porsi nasi empok. Atau jika dulu memproduksi 2-3 kilogram beras, kini hingga 50 kilogram. 

Selain warga Kota Batu, Jombang, Pandaan, Malang Raya, pejabat Pemkot Batu kerap datang untuk mencicipi nasi empok tersebut. “Yang lebih sering itu istri wakil wali Kota Batu (Wiby Santoso) sering pesan di sini. Belinya cukup banyak banyak,” jelasnya.

Harga satu porsi nasi empok ini dibanderol Rp 7 ribu sampai Rp 11 ribu tergantung dengan lauk yang dipilih. Meskipun usahanya sudah berkembang, Wakini kukuh untuk bertahan di sana. 

“Tempat lain memang sudah ada lahannya. Tapi karena tempat ini disewakan oleh anak yatim, nggak ingin pindah. Sambil membantu dan ibadah,” tutup perempuan asal Gunung Kawi ini. (*)

Editor : Yunan Helmy
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Batu TIMES (JatimTimesNetwork)

Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top