Budiar Anwar, kadis TPHP Kabupaten Malang, menyampaikan petani di wilayahnya juga mampu seperti yang dilakukan petani Hunan, China,  asalkan adanya gerakan masif dalam bercocok tanam. (Nana)
Budiar Anwar, kadis TPHP Kabupaten Malang, menyampaikan petani di wilayahnya juga mampu seperti yang dilakukan petani Hunan, China, asalkan adanya gerakan masif dalam bercocok tanam. (Nana)

MALANGTIMES - Provinsi Hunan,  Republik Rakyat Tiongkok (RRT) atau lebih dikenal China,  telah mampu menyulap lahan pertaniannya sedemikian produktif. Satu hektare (ha) lahan padi bisa menghasilkan 15 ton setiap kali panen. 

Hal ini tentunya menjadi salah satu contoh mengenai keberhasilan petani dalam menaklukkan sistem serta kebiasaan konvensional dalam bercocok tanam padi. 

Bagaimana dengan di Kabupaten Malang, khususnya dalam sektor pertanian padi yang menjadi salah satu andalannya? Apakah juga mampu menggenjot produksi padinya seperti yang ada di Hunan?

Kepala Dinas Tanaman Pangan  Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang Budiar Anwar menegaskan di wilayahnya bisa saja seperti yang ada di Hunan. "Kita mampu sebenarnya seperti itu. Pengalaman di wilayah Dampit tahun lalu kita bisa menghasilkan 12 ton per hektarnya. Persoalannya, apakah di sana dilakukan rekayasa teknologi atau tidak. Penggunaan pupuknya juga seperti apa, sehingga bisa mencapai hasil tersebut," kata dia kepada MalangTIMES,  Kamis (6/9/2018). 

Budiar melanjutkan bahwa secara kesuburan tanah pertanian di wilayah Kabupaten Malang terbilang paling subur. Dibandingkan dengan lahan pertanian di wilayah lain di Jawa Timur (Jatim). Hal ini terlihat dari hasil produksi padi, misalnya, yang setiap tahun mengalami surplus. Persoalannya, adalah belum semua lahan sawah seluas 45.888 hektar di seluruh wilayah kecamatan, bisa panen di atas 10 ton per hektarnya. 

"Rata-rata panen per hektare antara 8-9 ton. Ini dimungkinkan karena penggunaan pupuk. Belum semua petani menggunakan pupuk dan perlakuan organik,  yang dimungkinkan dilakukan di Hunan,  China," ujarnya. 

Budiar menegaskan, di Dampit adalah contoh bahwa petani Kabupaten Malang bisa juga seperti petani di Hunan. Apabila perlakuan pemupukan memakai bahan-bahan organik. "Sebenarnya perawatan dan perlakuannya sama saja dengan pemakaian pupuk anorganik," imbuhnya. 

Untuk membuktikan bahwa petani padi di Kabupaten Malang mampu menghasilkan apa yang dilakukan petani Hunan, Budiar dalam waktu dekat akan melakukan ujicoba tanam padi hibrida di wilayah Singosari. 

Dirinya menceritakan, dalam waktu dekat,  pihaknya bermitra dengan pihak luar. "Ada sekitar 1 hektar lahan sawah yang akan diuji cobakan di tahun ini untuk menghasilkan padi dengan kualitas bagus dan kuantitas banyak. Harapannya nanti dari ujicoba tersebut bisa menghasilkan jenis benih baru unggul," urai Budiar. 

Disinggung penggunaan pupuk organik,  Budiar juga akan melakukan pemetaan ulang di wilayahnya. "Gaya konsumsi dan kebutuhan produk pertanian di masyarakat terus berubah. Ini peluang kita untuk masuk dalam menyebarkan pemakaian bahan-bahan alami dalam bertani," ujarnya. 

Dalam kesempatan yang sama,  Nasri Abdul Wahid -kepala Dinas Perlindungan Pangan Kabupaten Malang- menyampaikan untuk mencapai yang dilakukan di Hunan,  China, diperlukan adanya penjagaan luas lahan dan luas tambah tanam. Selain adanya gerakan penyadaran penggunaan bahan-bahan alami dalam pemupukan. 

"Tanah pertanian kita masih subur,  tapi kalau pemakaian pupuk anorganik terus massif. Lambat laun tentunya akan menghilangkan unsur kesuburan tanah. Di Dampit itu masih terbilang bagus,  selain tanah,  udara serta pengairannya untuk mencapai produksi yang lebih tinggi," ujarnya. (*)