Nasri Abdul Wahid (Kanan) Kadis Ketahanan Pangan Kabupaten Malang,  menyatakan konsumsi beras setiap tahunnya berkurang setengah kg setiap orang (Nana)
Nasri Abdul Wahid (Kanan) Kadis Ketahanan Pangan Kabupaten Malang, menyatakan konsumsi beras setiap tahunnya berkurang setengah kg setiap orang (Nana)

MALANGTIMES - Kedaulatan dan kemandirian pangan,  bukan hanya disandarkan pada berlimpahnya beras saja. Tapi juga dijaga oleh ketersediaan produk pertanian dan perkebunan lainnya. Plus dikuatkan dengan tumbuhnya kesadaran untuk mengonsumsi produk non beras.

Langkag tersebut sebagai gerakan terstruktur dalam masyarakat untuk meminimalisir ketergantungan pada konsumsi beras saja. 

Hal ini pula yang sedang terus diusahakan di Kabupaten Malang,  melalui berbagai kedinasan terkait dengan urusan pangan. Misalnya Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) serta badan lainnya yang bergerak untuk mengamankan pangan. Sekaligus menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk mengonsumsi produk non beras. 

Hasilnya, menurut Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Malang Nasri Abdul Wahid, sampai tahun ini konsumsi beras masyarakat mengalami penurunan setiap tahunnya. 

"Dari data yang ada, setiap orang di Kabupaten Malang mengalami penurunan konsumsi beras sekitar setengah kilogram dalam setahun," kata Nasri kepada MalangTIMES, Kamis (6/9/2018). 

Penurunan konsumsi tersebut, tentunya merupakan kabar gembira dalam upaya meningkatkan konsumsi produk non beras yang telah menjadi bahan makanan pokok sehari-hari.

Seperti mengonsumsi umbi-umbian,  sayuran maupun buah-buahan yang juga tumbuh subur di Kabupaten Malang. Sebagai alternatif pengganti dari beras. 

Nasri melanjutkan, walau neraca pangan aman dan surplus di tahun lalu, tidak menutup kemungkinan akan terjadi penurunan produksi beras. Dikarenakan berbagai faktor alam, pembangunan saluran irigasi serta serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). 

"Seperti tahun lalu, karena adanya pembangunan saluran irigasi, maka secara produksi turun. Gabah kering panen waktu itu sampai turun 8 ribu ton,  walaupun beras masih surplus," ujarnya. 

Melalui kesadaran mengonsumsi produk non beras lah, maka penurunan gabah kering panen tidak sampai mengganggu ketersedian beras.

"Keragaman pangan dalam masyarakat membuat beras tetap surplus," imbuh mantan Kepala Dinas TPHP Kabupaten Malang ini. 

Hal tersebut dilakukan agar tetap menjaga surplus beras di Kabupaten Malang sebagai lumbung pangan di Jawa Timur (Jatim) maupun ditingkat nasional.

Selain semakin menggencarkan keragaman pangan dan menumbuhkan kesadaran mengonsumsi non beras, Pemkab Malang juga bersiap untuk membentuk Dewan Ketahanan Pangan. 

Dewan Ketahanan Pangan inilah yang nantinya akan terus mengawal ketersedian pangan di Kabupaten Malang serta membumikan gerakan konsumsi non beras di masyarakat.

Rencananya di akhir tahun 2018 ini Dewan Ketahanan Pangan yang akan diketuai Bupati Malang Dr H Rendra Kresna,  dibentuk. 

Dikesempatan berbeda, Kepala Dinas TPHP Kabupaten Malang juga menyampaikan,  adanya pergeseran konsumsi dan pengurangan beras di masyarakat, adalah upaya yang searah dengan harapan pemerintah. 

Budiar Anwar menyampaikan,  bumi Arema memiliki kekayaan tanah yang subur dengan segala jenis tanaman yang tumbuh.

"Kita selain beras yang surplus,  produk pertanian lainnya, seperti jagung,  sayuran,  buah-buahan  juga surplus. Hal ini tentunya patut kita dorong dalam tahap pemasarannya. Sehingga bisa terserap dan terkonsumsi sebagai alternatif beras dalam masyarakat," ucapnya kepada MalangTIMES. 

Untuk lebih memassifkan gerakan konsumsi non beras,  pihaknya juga setiap tahun kerap melakukan lomba cipta menu makanan berbahan non beras. Seperti juga yang dilakukan di Dinas Ketahanan Pangan.

Lomba tersebut sebagai upaya terus menerus menampilkan kepada masyarakat, bahwa selain beras masih banyak pengganti konsumsi sehari-hari. 

"Jadi di masyarakat keragaman pangan terjadi. Di sisi lain ketahanan pangan terjaga juga. Lewat Dewan Ketahanan Pangan nantinya akan semakin terlihat bentuk konkritnya," pungkas Budiar.