Tahun Ajaran Baru, Biaya Kos dan Sekolah Picu Inflasi Kota Malang

Grafis kelompok komoditas pemicu inflasi di Kota Malang. (Foto: BPS Kota Malang for MalangTIMES)
Grafis kelompok komoditas pemicu inflasi di Kota Malang. (Foto: BPS Kota Malang for MalangTIMES)

MALANGTIMES - Kota Malang kembali mengalami inflasi pada Agustus 2018 di angka 0,05 persen. Penyebabnya, tahun ajaran baru berbagai perguruan tinggi menyebabkan biaya kos dan kontrakan mengalami kenaikan harga. Meski demikian, angka tersebut mengalami penurunan dibanding angka Juli lalu yang sebesar 0,21 persen.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Stastistik (BPS) Kota Malang, kelompok pengeluaran yang paling tinggi menyumbang inflasi adalah kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga. Kenaikan harga di sejumlah item di kelompok itu menyumbang inflasi hingga 3,40 persen.

Sumbangan terbesar kedua dipengaruhi kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar.

"Seperti yang diketahui, Agustus kemarin sempat ada kenaikan gas elpiji. Barangnya sedikit sehingga harganya naik," ujar Kepala BPS Kota Malang M Sarjan. 

Sementara itu, sepuluh komoditas dengan kenaikan harga tertinggi berdasarkan data BPS yakni kontrak rumah. Ada kenaikan sebesar 2,87 persen.

Sementara kenaikan di sektor pendidikan juga terjadi. Di akademi/perguruan tinggi naik 5,48 persen, sekolah menengah atas naik 16,11 persen, dan sekolah dasar naik 6,10 persen. 

Untuk sekolah menengah pertama, mengalami kenaikan harga sebesar 1,77 persen. Beberapa komoditas pangan juga terdata ada peningkatan harga.

Di antaranya semangka, tauge atau kecambah, serta udang basah. Kebutuhan lain yang turut menyumbang inflasi yakni biaya cuci kendaraan dan harga beli semen.

Meski demikian, lanjut Sarjan, terdapat beberapa komoditas yang mengambat laju inflasi. Terbesar dari sektor angkutan udara yang mengalami penurunan hingga 9,32 persen.

"Angkutan udara atau harga tiket pesawat ini perannya cukup signifikan mempengaruhi inflasi di Kota Malang karena bobotnya besar," terangnya.

Selain itu, beberapa komoditas pangan juga mengalami penurunan harga. Di antaranya telur ayam ras, bawang merah, cabai rawit, daging ayam ras, cabai merah, bawang putih, jeruk, dan daging ayam kampung. "Emas perhiasan juga mengalami penurunan harga sebesar 1,8 persen," urainya. 

Sarjan kembali mengingatkan supaya ketersediaan stok terjaga. Terjaganya ketersediaan stok barang, lanjutnya, tidak akan membuat warga panik ataupun harga-harga melambung.

"Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang dirasakan masyarakat, ditunjukkan oleh IHK. Jadi bagi pemerintah, harus ada tindakan untuk mengontrol harga-harga di pasaran," pungkasnya.

Editor : Heryanto
Publisher :
Sumber : Malang TIMES (JatimTimesNetwork)

Redaksi: redaksijatimtimes[at]gmail.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : redaksijatimtimes[at]gmail.com | redaksijatimtimes[at]gmail.com
Top