Metamorfosis Pembalut Wanita: Dari Dedaunan, Kain, Bubur Kayu, sampai Softex

Ilustrasi pembalut wanita yang terus berubah sepanjang sejarah. (Ist)
Ilustrasi pembalut wanita yang terus berubah sepanjang sejarah. (Ist)

MALANGTIMES - Bagi seorang perempuan, benda satu  ini tentunya sangat familiar. Berkait erat dengan siklus menstruasi,  pembalut telah menjadi kebutuhan yang tidak bisa dihindari oleh kaum hawa, dulu sampai kini. 

Tapi, mungkin sedikit yang memahami bahwa ada cerita panjang mengenai pembalut wanita. Cerita mengenai bagaimana dulu seorang wanita harus memutar otak untuk mendapatkan pembalut yang bisa menampung darah menstruasinya.  

Dikutip dari artikel Di Balik Pembalut yang diunggah oleh historia, pembalut sudah ada sejak abad ke-10. Keberadaannya tercatat dan contoh-contoh pembalut dari berbagai waktu terkumpul di Museum Menstruasi di Ibu Kota Washington DC, Amerika Serikat. Tentunya, museum menstruasi didirikan bukan sekadar untuk terlihat unik dan berbeda saja. Tapi ada sebuah nilai pembelajaran yang ingin tersimpan dan bisa dipelajari oleh khalayak umum atas perjalanan suatu benda yang terlihat sederhana, tapi memiliki fungsi penting bagi wanita.

Mengutip buku berjudul “What did American and European women use for menstruation in the past? at the Museum of Menstruation and Women's Health” sepanjang sejarah, wanita secara kreatif mempergunakan berbagai bahan untuk menghadapi menstruasi. Misalnya di Mesir kuno, para wanita memanfaatkan bahan papirus sebagai alat menampung darah kotornya. Di Hawaii memakai daun pakis, lumut rumput dan tanaman lain juga tidak lepas dimanfaatkan sebagai pembalut di Afrika.  

Tampon kertas di Jepang, potongan pakaian atau lap di China, wol di Roma. Sampai pada penggunaan  kapas dan spons di Eropa dan serat sayuran bagi para wanita nusantara. Seluruh bahan pembalut tersebut menjadi lazim dipakai di zaman sebelum revolusi industri bergulir. 

Di era revolusi industri, sekitar abad XI-XIX, pembalut wanita mulai diperdagangkan. Tentunya, dengan berbagai keterbatasan yang ada. Menstrual cup yaitu mangkuk penyerap cairan dimasukkan ke dalam kain yang diikatkan ke ikat pinggang, lahir tahun 1867. Bentuknya serupa pampers zaman ini, tapi tentunya jangan bayangkan kemudahan memakainya seperti ini.  

Delapan tahun kemudian (1876) menstrual cup berbentuk karet muncul, dan terus berkembang hingga tahun 1896. Dengan lahirnya pembalut sekali pakai yang diproduksi oleh Curads and Harrtmann’s. 

Dari catatan di Museum Menstruasi, ide pembalut sekali pakai berawal dari kebiasaan para perawat yang memakai perban dari bubur kayu untuk menyerap darah menstruasi. Terbilang murah di zamannya dikarenakan bahan bakunya gampang didapat, pembalut ini menjadi cikal bakal pembalut saat ini. Pembalut sekali pakai saat itu berbentuk persegi dan diberi lapisan penyerap yang diperpanjang di depan dan belakangnya. Hal ini agar pembalut bisa dikaitkan pada sabuk khusus yang dipakai di bawah pakaian dalam. Bisa dibayangkan, betapa repotnya di tahun itu bagi para wanita yang sedang mengalami menstruasi.

Tahun 1929, Dr Earle Haas menciptakan tampax, tampon atau pembalut wanita modern di masanya. Berbagai lonmpatan dalam dunia pembalut terlihat di masa ini. Bahkan di tahun 1974, pembalut pertama buatan Indonesia yang sampai saat ini dikenal masyarakat, yaitu Softex, menjadi bagian dari sejarah perbalutan darah kotor para wanita.

 Tahun 1980-an, bisa dibilang revolusi pembalut wanita. Pembalut bersabuk diganti dengan pembalut berperekat. Pun dari sisi desain yang mengalami perubahan sangat besar. Dulu, pembalut tebalnya bisa sampai dua sentimeter dan sering bocor. Di tahun 1980 sampai saat ini berbagai variasi diterapkan, misalnya pembalut bersayap.

Berbagai bahan dan desain pun mengikuti perkembangan zaman. Dari bentuk persegi menjadi lebih berlekuk dan disesuaikan dengan anatomi tubuh. Misal jenis bahan pembalut saat ini, panty liner, ultra thin, regular, maxi, night, dan maternity. Beberapa pembalut bahkan diberi deodoran untuk menyamarkan bau darah dan ada beberapa jenis panty liner yang dirancang agar dapat dipakai bersama G-string.

Perjalanan pembalut wanita yang kini terkesan sepele, ternyata memiliki sejarah panjang. Dengan berbagai uji coba dan temuan-temuan yang menghabiskan puluhan tahun untuk mencapai suatu produk yang nyaman di pakai wanita saat ini. (*) 

Editor : Yunan Helmy
Publisher :

Redaksi: redaksijatimtimes[at]gmail.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : redaksijatimtimes[at]gmail.com | redaksijatimtimes[at]gmail.com
Top