Tan Malaka ketika berada di kantor polisi Manila, Filipina, Agustus 1929. (Foto: Dok. Harry Poeze)
Tan Malaka ketika berada di kantor polisi Manila, Filipina, Agustus 1929. (Foto: Dok. Harry Poeze)

MALANGTIMES - Di tengah degup revolusi,  selalu ada kisah-kisah manusiawi para pelakonnya. Namun, kerap kisah-kisah manusiawi tersebut tertimbun oleh catatan-catatan yang lebih hebat, tentang ajaran ideologi, kiprah perlawanan, sampai pada tindakan-tindakan besar dari para tokoh revolusi itu sendiri. 

Kisah-kisah manusiawi para tokoh revolusi yang kerap tertimbun dalam buku-buku sejarah ternyata bagi para peneliti dan penulis barat dianggap menarik. Sehingga lahirnya biografi-biografi para tokoh revolusi sebagai manusia yang utuh. Salah satunya adalah kisah asmara sang revolusioner dari Nagari Pandam Gadang,  Suliki,  Sumatera Barat, (2 Juni 1897) bernama Tan Malaka atau Ibrahim gelar Datuk Sutan Malaka. 

Baca Juga : Jika Covid-19 Sampai Menyebar di Korea Utara, Kim Jong Un Beri Ancaman Ini pada Pejabatnya

Tan Malaka -yang misterius dalam berbagai kisah petualangannya serta kerap diposisikan sepihak sebagai gembong PKI sampai pada kematiannya di tangan bangsanya sendiri di Selopanggung,  Kediri,  Jawa Timur (21 Februari 1949)- menjadi utuh saat ditulis kembali oleh para penulis yang menemukan berbagai bukti dan catatan petualangannya. Tan Malaka bukan hanya berhenti dikenal sebagai tokoh PKI saja,  tapi juga sebagai pembela kemerdekaan Indonesia, pendiri Partai Murba, dan akhirnya diakui menjadi salah satu Pahlawan Nasional Indonesia.

Sisi kehidupan pribadinya pun diulik dan dicatat oleh para penulis tersebut. Sebut saja salah satunya Harry Poeze, penulis-sejarawan asal Belanda, dalam berbagai buku mengenai Tan Malaka. 

Kisah asmaranya menjadi salah satu yang menarik. Kisah yang membuatnya menjadi seorang komunis yang berpetualang di berbagai negara. Serta menjadi hantu bagi pemerintah saat itu dikarenakan propaganda Tan Malaka yang anti-politik diplomasi ala Soekarno-Hatta. Disertai dengan ide-ide gerpolek (gerilya, politik, ekonomi) di kalangan militer yang mendapat sambutan hangat.

Kegagalan cinta pertama Tan Malaka terhadap Syarifah Nawawi, gadis cantik kawan satu kelas semasa sekolah di Kweekschool, Bukittinggi. Karena adat masa itu serta kabar sang pujaan hatinya yang dinikahi Bupati Cianjur RAA Wiranatakusumah yang telah beristri dua dan antas berakhir pada perceraian dikarenakan sang bupati menikah lagi, merupakan faktor Tan Malaka memilih menjadi komunis. 

 “Tan Malaka mendengar Syarifah dikawin Wiranatakusumah, lantas diceraikan begitu saja, jadi dendam pada kaum feodal dan kemudian jadi komunis. Ini cerita yang beredar di kalangan masyarakat Bukittinggi,” kata Joesoef Isak, mantan pemimpin redaksi koran Merdeka dan editor penerbit Hasta Mitra, seperti dilansir berbagai buku mengenai Tan Malaka. 

Kandasnya cinta pertama inilah yang membuat Tan Malaka menjomblo sampai akhir hayatnya. Walaupun dalam kehidupannya, beberapa perempuan pernah singgah di hatinya. "Tapi semua hubungan dengan perempuan tak pernah berakhir di kursi pelaminan," tulis Herry Poeze dalam biografi Tan Malaka. 

Poeze melanjutkan, ketika di Belanda, Tan sempat berpacaran dengan seorang gadis bernama Fenny Struijvenberg. Percintaan Tan Malaka juga diceritakannya sendiri dalam memoarnya berjudul Dari Penjara ke Penjara. 

Selain gadis Belanda, Tan yang pernah tinggal di Manila, Filipina,  sekitar tahun 1927, dengan nama samaran Elias Fuentes,  Tan pernah juga jatuh cinta. Walau tidak disebut nama perempuan Manila tersebut, hubungan asmara Tan cukup serius. Sayangnya, Tan akhirnya harus kembali hancur hatinya dalam asmara saat dirinya ditangkap intelijen Amerika dan akhirnya dideportasi keluar negara di mana hatinya akan melabuhkan jangkar. Hubungan cinta mereka pun akhirnya kandas. 

Di Tiongkok,  Tan juga diceritakan sempat berhubungan dengan seorang perempuan. Walau tidak ada penjelasan tertulis bagaimana hubungan mereka saat itu. Tapi di tahun 1932 itu,  Tan yang sakit dan tak memiliki uang dirawat oleh perempuan tersebut.  Selama tiga tahun Tan berada di Tiongkok. 

Baca Juga : Balada Susilo: Hidup di Gigir Kemiskinan Tanpa Jaring Sosial Pemerintah

Di Amoy (Xiamen), Tiongkok Selatan, setelah Tan kembali ditangkap agen Inggris dan mendekam selama dua bulan dalam bui, kisah asmara Tan yang memakai nama samaran Ong Soong Lee juga mencuat. Tan bertemu dengan seorang gadis berusia 17 tahun yang namanya hanya disebut AP dalam memoarnya. 

"Di Amoy ia mendirikan Foreign Languages School (Sekolah Bahasa-Bahasa Asing),” tulis  Poeze dalam Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia: Agustus 1945-Maret 1946. Dari sekolah inilah, AP kerap menyambangi Tan untuk belajar bahasa Inggris sekaligus menjadi tempat curhatnya sang gadis. 

Tapi,  kembali kisah asmara Tan berakhir tanpa sampai di pelaminan. Tahun 1937, Tan menanggalkan kisah cinta sang gadis Amoy. 

Kisah asmara Tan yang menurut berbagai sumber terbilang serius, bahkan banyak kalangan saat itu menebak akan berakhir di pelaminan,  terjadi tahun 1945. Setelah Jepang menyerah kepada pasukan sekutu, Tan memiliki kebebasan untuk tampil secara terang-terangan di muka umum. 

Di tahun itu pula,  saat Tan mengunjungi teman lamanya bernama Ahmad Soebardjo, dirinya terpikat kepada sang keponakan dari teman lamanya yang bernama Paramita Abdurrachman. Jalinan asmara mereka cukup serius sehingga banyak orang mengira mereka telah bertunangan. Namun, kembali jiwa dan pikirannya yang lama ditempa dalam berbagai peristiwa politik di berbagai penjuru negara membuat waktu Tan habis untuk berbagai kegiatan politik dibandingkan untuk berpacaran.

Dari berbagai catatan,  Paramita menjadi perempuan terakhir yang mengisi kisah hidup Tan Malaka sebelum Tan yang didapuk sebagai bapak republik ditembak oleh pasukan dari Batalyon Sikatan, Divisi Brawijaya, pada 21 Februari 1949. Tan dieksekusi mati oleh Suradi Tekebek, orang yang diberi tugas oleh Letda Sukotjo yang menurut sejarawan Harry Poeze adalah orang kanan sekali yang beropini bahwa Tan Malaka harus dihabisi. 

Tan dimakamkan secara rahasia di tengah hutan dekat markas Soekotjo. Kematian yang tidak ada satu pun perempuan menitikkan air matanya. "Di hadapan Tuhan aku seorang muslim. Di hadapan manusia aku seorang komunis. Di hadapan mantan...Aku hanyalah butiran debu,". (*)